Di Balik Legenda Batu Geblug Cerita legenda memang selalu menarik, apalagi bila menyangkut tokoh yang dikenal luas di masyarakat, seperti Prabu Siliwangi dan Kean Santang. Begitu pula dengan legenda Batu Geblug, walaupun kini tinggal sedikit orang yang menuturkannya, tetapi masih menarik untuk diangkat kembali.
Cerita dimulai ketika di Keraton Pajajaran terjadi perselisihan paham antara Prabu Siliwangi dan putranya, Kean Santang. Waktu itu Kean Santang sudah memilih untuk memeluk agama Islam dan berusaha untuk mengajak ayahandanya mengikuti langkahnya, tetapi Prabu Siliwangi menolak. Prabu Siliwangi memilih untuk tetap mengikuti agama leluhurnya. Lambat laun terjadi perdebatan mengenai perbedaan agama ini, bahkan lama-kelamaan menjadi percekcokan yang semakin meruncing. Untuk menghindari bentrokan fisik dengan anaknya sendiri, Prabu Siliwangi memilih meninggalkan keraton, pergi menuju pakidulan. Siliwangi dalam perjalanannya sempat menyeberangi Sungai Cisadane. Kemudian menyusuri perbukitan ke arah selatan. Sesampainya di suatu bukit kecil, Siliwangi beristirahat sejenak sambil merasakan semilir angin yang menyejukkan. Kelak tempat ini disebut Pasir Angin (pasir dalam bahasa Sunda berarti bukit). Tak lama berselang Kean Santang mengetahui kepergian ayahnya. Dia pun segera bergegas menyusulnya. Sementara Siliwangi di dalam perjalanannya merasa bakal dikejar oleh putranya. Di suatu tempat yang sunyi dia menyembunyikan totopong. Sekarang tempat ini dikenal dengan nama Lembur Totopong (totopong adalah kain penutup kepala khas Sunda, iket) Pengejaran Kean Santang akhirnya sampai juga di tempat Siliwangi berada. Melihat putranya mengejar, Siliwangi pun segera bergegas menjauh dari Kean Santang. Kejar-mengejar pun tak terhindarkan. Melihat gelagat Prabu Siliwangi tak akan terkejar olehnya, Kean Santang memungut sebuah batu dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah Siliwangi, tetapi luput. Batu tersebut jatuh ke tanah mengeluarkan bunyi "geblug." Tempat batu jatuh sampai sekarang dikenal sebagai Kampung Geblug. Lalu Kean Santang melanjutkan pengejarannya. Sampailah ia di sebuah lembah dan dilihatnya ada sebuah batu cukup besar. Dia menaiki batu besar tersebut untuk melihat sekelilingnya. Ketika sedang berdiri di atas batu, dia merasa tak tahan ingin buang air kecil. Akhirnya Kean Santang buang hajat kecil di atas batu itu. Tak begitu jelas kelanjutan dari cerita ini, tetapi di suatu lembah tak jauh dari Kampung Geblug terdapat sebuah batu besar yang di bagian atasnya ada gambar telapak kaki dan di dinding batu tersebut terdapat pula jalur aliran yang memanjang dari atas ke bawah batu. Diceritakan oleh masyarakat setempat bahwa tapak kaki di batu tersebut merupakan tempat berdirinya Kean Santang, sedangkan jalur memanjang ke bawah merupakan bekas aliran air seni putra Raja Pajajaran tersebut. Tentu saja cerita legenda di atas memiliki berbagai versi, hanya saja masyarakat di Desa Palasari Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor meyakini cerita tersebut terjadi di daerahnya. Toponim Pasir Angin merupakan nama salah satu bukit di wilayah ini. Tak jauh dari Pasir Angin ada kampung bernama Lembur Totopong, begitu pula Kampung Geblug. Bahkan batu yang diyakini sebagai tempat berdirinya Kean Santang hanya berjarak 400 meter dari Balai Desa Palasari. Aspek arkeologis Lepas dari legendanya, faktanya memang ada sebongkah batu cukup besar di pinggir jalan Desa Palasari, tidak jauh dari aliran Sungai Cihideung. Bagian bawah batu tersebut agak bundar dengan diameter sekitar tiga meter, serta bagian atasnya agak meruncing. Batu tersebut memiliki bidang datar dengan arah hadap barat dan timur. Yang unik dari batu ini adalah di salah satu dindingnya yang menghadap ke arah barat, sisi sebelah kanannya dibatasi oleh satu jalur yang memanjang dari atas ke bawah. Jalur inilah yang disebut oleh masyarakat sebagai bekas aliran air seni Kean Santang. Batu ini pun dikenal dengan sebutan batu geblug. Menilik penampakan batu geblug, tidak dapat dipungkiri bahwa batu ini merupakan sebuah artefak yang memiliki unsur perbuatan manusia. Baik jalur "air seni", bidang datar di dinding, maupun gambar telapak kaki dibatu ini jelas telah dipahat oleh manusia. Cuma kapan hal ini dilakukan? Tentu agak sukar untuk menjawabnya. Mengingat ukuran batu geblug yang cukup besar, bisa diduga bahwa batu tersebut mulai bersinggungan dengan peradaban manusia ketika zaman megalitik (mega=besar, litik=batu). Kemungkinan besar batu monolit ini berfungsi sebagai pusat pemujaan arwah leluhur. Hal ini didukung oleh lokasinya yang tidak jauh dari aliran sungai dan memiliki dinding datar yang menghadap ke arah barat dan timur. Sebagai perbandingan, di Pasir Angin Cibungbulang, tak jauh dari aliran Sungai Cianten, juga terdapat batu monolit yang ukurannya lebih kecil dibanding Batu Geblug dengan orientasi arah timur-barat. Dari hasil penelitian dan penggalian di situs tersebut selama tahun 1970-an diketahui bahwa batu Pasir Angin merupakan monolit pusat pemujaan yang disambangi oleh para karuhun dalam kurun waktu tidak kurang dari dua milenium (2.000 tahun) dari mulai tahun 600 sebelum masehi sampai abad ke-16. Berbagai artefak yang ditemukan selama penggalian dikumpulkan dalam museum yang dikenal sebagai museum Pasir Angin (Pikiran Rakyat, 27/8). Bila diperhatikan secara saksama, tak akan ditemui adanya bekas telapak kaki di batu ini. Akan tetapi, banyak orang yang mengatakan bahwa di atas batu geblug ini dulunya ada sepasang tapak kaki manusia. Salahsatu saksi mata mengenai hal ini adalah Karna (62). Dia mengaku mengetahui adanya sepasang tapak kaki di batu ini karena di tahun 1950-an dan 1960-an sering melintasi wilayah ini. Keterangan dari warga sekitar memang di tahun 1970-an pernah ada sekelompok orang yang merusak gambar tapak kaki tersebut karena alasan tertentu. Kini yang tersisa di bagian atas batu ini adalah adanya permukaan yang tidak rata dan tak beraturan, sepertinya memang telah ada upaya pemapasan. Pernah adanya pahatan telapak kaki manusia di batu ini menunjukkan bahwa tempat ini pernah dikuasai oleh seorang penguasa dari zaman klasik (peradaban Hindu-Buddha). Tapak kaki juga bisa dipandang sebagai pesan dari penguasa kepada rakyatnya untuk menjaga tempat suci atau kabuyutan. Kini Batu Geblug keadaannya sudah tak utuh lagi, serta lokasinya sudah terjepit oleh jalan desa, rumah penduduk dan sebuah masjid. Hingga sekarang Batu Geblug belum "dijamah" oleh peneliti, seperti arkeolog atau sejarawan. Seandainya pernah dilakukan ekskavasi di situs ini, mungkin sekali ceritanya akan menjadi lebih ilmiah dan komprehensif, tidak sekedar menjadi cerita legenda semata.(Hendra M. Astari/ bergiat di Padepokan Riksa Sunda Bogor)*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=166598
