Kuring kungsi guguru ka Bung Rosihan Anwar. tahun 1980 an anjeunna masihan 
kuliah Bahasa Indonesia Jurnalistik di FISIP UI. Jurnalis anu saangkatan sareng 
Mochtar Lubis. Jaman Revolusi, mun teu lepat mah, Rosiah Anwar teh caket ka 
para 
tokoh Partai Sosialis. Jadi teu heran upama pangalaman dina neuleuman  "sepak 
terjang" para pamingpin katut rahayat Indonesia kawilang "mendalam". Tapi  aya 
rada negatifnya, duka pedah pandangan kuring sabage urang Sunda ka urang 
sabrang, gaya tulisan sareng upama masihan kuliah teh katingali sok rada 
"sinis", "nyinyir".  Panginten perbawa tina katokohanana sabage salah sahiji 
wartawan senior anu jarang aya tandinganana.

Tapi leupas tina "panilaian" anu subyektif eta, sacara umum, pribadi sareng 
pangalaman-pangalamanan dina ngambah widang jurnalistik narik ati pisan.  
Kadang 
kuring oge sok niron gaya tulisanana, dina perkara gaya basa anu ringkes 
heunteu 
bertele-tele. Hanjakalna teh, ayeuna mah heunteu produktif deui. Sigana Rosihan 
Anwar "kasepian" teu aya deui generasi sajaman anu tiasa diajak ngobrol perkara 
nasib bangsa. Hal ieu teh, persis siga anu kaalaman ku Mang Ajip Rosidi, sabada 
pangsiun ngajar ti Jepang, "kasepian" sapertos anu ditetelakeun dina buku 
memoarnya "Hidup Tanpa Ijazah".



baktos,

mrachmatrawyani




________________________________
From: Waluya <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Sent: Sun, December 5, 2010 8:26:50 PM
Subject: [kisunda] Fw: Inlander Dinilai

  
Artikel kenging Rosihan Anwar dihandap ieu, rada "menarik", sabab 
nyaritakeun kumaha pandangan saurang walanda ka penduduk asli di jaman 
penjajahan baheula. Cenah Inlander teh lain jalma moderat, tapi leuwih resep 
boga kalakuan sok hayang kawasa sosorangan (diktaktor) . Resep popolitikan 
jeung boga sifat brojuis.......

Nyanggakeun:

Inlander Dinilai
Rosihan Anwar

Kompas, Sabtu, 4 Desember 2010 | 03:00 WIB

Saya baca tentang korupsi, kerja sama politik dan kapital demi kekuasaan, 
penyelewengan hukum, hilangnya kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga 
resmi, dan kebobrokan lain.

Sebagai wartawan lepas, saya maklum sudah. Namun, kadang saya ingat aspek 
sejarah bangsa dan negeri ini yang jarang disinggung. Misalnya, penilaian 
wartawan Belanda mengenai Inlander, yakni Bumiputra atau pribumi di zaman 
kolonial.

Langsung saja. Yang dimaksud ialah wartawan Willem Walraven (1887-1943) yang 
pada 15 Maret 1941 menulis kepada pengarang Rob Nieuwenhuys mengenai 
Inlanders.

Sedikit riwayat hidup. Walraven berasal dari keluarga buruh miskin. Tahun 
1915 teken kontrak masuk tentara KNIL. Ditempatkan di Cimahi. Berkenalan 
dengan perempuan Sunda, Itih, yang bekerja di warung kopi pamannya. Itih 
kemudian jadi istri Walraven yang pindah kerja sebagai asisten penata buku 
sebuah perusahaan minyak di Banyuwangi.

Dia mulai menulis dalam Indische Courant. Setelah belasan tahun menulis di 
situ dipecat. Menganggur dan miskin. Dia punya enam putra dari Itih yang 
dididiknya sampai pandai berbahasa Belanda, membaca novel Pearl Buck, 
Szekely-Lulofs, dan lain-lain.

Itih menurut suaminya "mencurigai Blandas". Di zaman Jepang, Walraven 
diinternir, masuk kamp Kesilir di Jawa Timur, dan meninggal di situ karena 
disentri, malaria, dan lelah fisik. Walraven adalah seorang otodidak dan 
sosialis. Dia menulis roman berjudul De Clan mengenai Itih istrinya.

Inlanders itu

Walraven bicara tentang Inlanders. Dia bilang Inlanders bukan orang 
demokratis, melainkan orang otokratis yang mau kuasa sendiri tanpa batas. 
Dalam batin dia orang angkuh, namun biasanya tidak ada arti. Dia membunuh 
atau bercerai karena hal remeh-temeh. Dia minta berhenti bekerja karena soal 
sepele. Kata Walraven, I have no patience with them 'saya tidak punya 
kesabaran dengan mereka'.

Dia melanjutkan: saya berharap bagi mereka bahwa masih lama lagi suatu 
kekuasaan Barat memerintah di sini dalam semangat sebagaimana telah kita 
kerjakan di negeri ini selama 40 tahun belakangan ini. Saya berharap mereka 
untuk selama-lamanya bisa mempertahankan suatu sistem peradilan hukum Barat 
yang murni. Saya harap mereka dilindungi terhadap para diktator.

Mereka menginginkan pemerintahan sendiri, nama negeri Indonesia dan 
menamakan diri mereka Indonesier. Semua itu sangat hampa. Terutama mereka 
bersikap bermusuhan dengan kita, sedangkan banyak di antara kita di sini 
sama sekali tidak punya hak istimewa atau lebih berbahagia daripada mereka.

Orang Indonesia
Orang Indonesia terhormat adalah seorang materialis 'mementingkan serba 
kebendaan', sama sekali bukan idealis 'hidup dengan cita-cita atau ideal'. 
Orang Indonesia bukan Marxis, bukan Sosialis, melainkan betul-betul tipikal 
orang Borjuis, dan itulah alasan sederhana bagi saya mencurigainya secara 
mendalam sebagai keseluruhan, sebagai massa, demikian kata Walraven.

Borjuis kata bahasa Perancis, artinya anggota kelas yang berpunya, 
berlawanan dengan kaum buruh dan proletar. Borjuis itu banyak sedikitnya 
bersifat picik dan bersikap antisosial.

Gambaran lain diberikan oleh pengarang Wischer Hulst dalam bukunya berjudul 
Becakrijders, Hoeren, Generaals en andere Politici (1980): "Seorang 
rohaniwan Belanda yang telah 30 tahun berdiam di Indonesia mengatakan kepada 
saya 'Ini adalah suatu bangsa politisi. Orang-orang Indonesia dilahirkan 
dengan naluri atau instinct politik, dan mereka mati dengan itu pula'."

Membaca penilaian tadi mengenai orang Indonesia tidaklah perlu membuat 
pembaca zaman sekarang marah dan emosional. Semua itu toh sudah lewat dalam 
sejarah. Belanda yang pintar menganalisis, melukiskan tabiat orang Indonesia 
di zaman kolonial, toh sudah kalah perang. Belanda kehilangan tanah 
jajahannya.

Akan tetapi, jikalau kita simak lagi dengan tenang penilaian wartawan 
Belanda Willem Walraven tadi, jikalau kita jujur berintrospeksi, kita akan 
mengakui bahwa sifat-sifat dan mentalitas yang tidak terpuji masih ada 
sisa-sisanya berlanjut hingga generasi Indonesia sekarang yang tak pernah 
mengenal serta mengalami penjajahan Belanda yang jahat secara subtil itu.

Kemudian saya bertanya apakah kita akan dapat mengatasi korupsi, gaya hidup 
nafsi-nafsi, sikap peduli amat golongan si miskin asalkan gue senang, 
keadaan yang tak ketulungan lagi seperti kita lihat dan alami sekarang ini 
dengan sifat dan
mentalitas yang dilukiskan dalam penilaian orang Belanda tadi.

Saya terkadang bertanya kepada diri sendiri mungkinkah pengetahuan tentang 
sifat manusia atau mensenkennis yang dipunyai oleh Belanda dahulu terhadap 
Inlanders yang menyebabkan Belanda dengan sumber daya manusia sipil dan 
militer yang terbatas itu berhasil dapat menjajah bangsa dan negeri 
Inlanders dalam masa lama sekali? Sejarawan kita yang pintar-pintarlah yang 
bisa menjawabnya. Cukup sekian dari seorang wartawan lepas.

Rosihan Anwar Wartawan Lima Zaman 


 


      

Kirim email ke