http://koran.kompas.com/read/2010/12/10/08133519/membumikan.monju

Membumikan Monju
Jamaludin Wiartakusumah
Di seberang Kampus Universitas Padjadjaran di Jalan Dipati Ukur, sejak
pertengahan tahun 1990-an, berdiri Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat
(Monju). Monju berada di aksis atau garis lurus dari Gedung Sate ke Gunung
Tangkubanparahu.
Kawasan yang membentang dari Gedung Sate sampai sekitar Monju ini awalnya
dirancang pemerintah kolonial sebagai pusat pemerintahan terkait dengan
rencana pemindahan ibu kota dari Batavia ke Bandung. Bagian utara atau di
sekitar Monju, menurut rencana Belanda, adalah istana Gubernur Jenderal
Hindia Belanda.
Konon Monju ini monumen modern karena bisa dimasuki. Di bawah monumen itu
memang terdapat museum dan perpustakaan. Koleksi museum baru enam diorama
yang menggambarkan peristiwa pembuatan Jalan Raya Pos di Cadas Pangeran,
Sultan Agung Tirtayasa melawan Belanda, perjanjian Linggajati, Divisi
Siliwangi melakukan long march ke Yogyakarta, operasi Brata Yudha atau Pagar
Betis di Priangan Timur untuk menumpas pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo,
Bandung Lautan Api, dan Konferensi Asia Afrika. Sama seperti koleksi museum,
buku koleksi perpustakaan juga masih cawerang.
Sebagai monumen perjuangan, selain bentuk tumpukan beton melengkung sebagai
abstraksi rumpun bambu dan enam diorama di museum bawah tanah, Monju hanya
ditandai dengan berbagai ringkasan peristiwa perjuangan dalam bentuk relief
pada salah satu dindingnya. Monju indah sebagai penghias kota, tetapi kering
dari kenangan terhadap perjuangan yang sebenarnya.
Barangkali karena ini museum dengan desain modern dan salah satu ciri desain
modern adalah ahistoris, memutuskan hubungan dengan masa lalu. Padahal,
monumen adalah media untuk mengabadikan peristiwa pada masa lalu.
Arc de Triomphe
Mari kita studi banding seperti anggota Dewan. Namun, supaya murah meriah,
kita melakukannya lewat internet saja. Tujuannya untuk mencari tahu
bagaimana bangsa lain membuat monumen perjuangan dan membandingkannya dengan
apa yang telah kita buat. Jangan-jangan apa yang telah kita lakukan atau
perbuat kurang tepat karena Bandung sudah kepalang menyandang julukan Parijs
van Java. Studi banding ini ke Paris asli di Eropa.
Salah satu monumen di Paris yang layak dijadikan studi banding adalah Arc de
Triomphe atau Gerbang Kemenangan. Monumen itu dikelilingi jalan berbentuk
lingkaran yang menjadi sumbu 12 jalan sehingga kehadirannya menjadi penanda
dan ikon kota yang signifikan dan setiap hari dilihat orang yang lalu
lalang. Dari segi lokasi, dalam skala yang berbeda, monumen itu mirip dengan
tugu atau monumen Konferensi Asia Afrika yang berada di tengah Simpang Lima.
Selain dihiasi relief pada dinding luar, Arc de Triomphe dilengkapi dengan
ratusan nama yang dipahat pada granit dinding bagian dalam dan lantai.
Mereka adalah para jenderal yang pernah berjuang di bawah komando Napoleon
dan yang berjuang untuk Perancis pada saat Revolusi Perancis. Di bawah atap
gerbang itu terdapat prasasti dan api abadi bagi pahlawan tak dikenal yang
gugur pada Perang Dunia I.
Selain lokasinya yang strategis, keberadaan ratusan nama ini membuat Arc de
Triomphe terasa lebih dekat dengan pengunjung. Berkunjung ke monumen itu
selain menikmati desainnya yang indah juga menjadi tempat pencerahan karena
pengunjung jadi tahu bahwa di balik nama besar Napoleon ada banyak nama yang
berjuang untuknya. Bagi keturunan orang-orang yang namanya ada di sana, ini
menjadi semacam ziarah karena keberadaan nama leluhur mereka akan
membangkitkan kenangan, kebanggaan keluarga, dan inspirasi sekaligus sebagai
tanda bahwa negara menghargai perjuangan mereka.
Perbedaan Arc de Triomphe dengan Monju, selain pada gaya desain yang
dipakai, juga pada kualitas kesejarahan yang terdapat pada monumen. Di
Monju, terutama di bagian monumen, tidak ada satu pun nama mereka yang
pernah berjuang pada zaman atau bidang apa pun. Nama-nama pejuang hanya ada
di buku sejarah dan nama jalan, tetapi tidak dihadirkan di monumen agar
dikenal generasi setelahnya.
Saya kira Arc de Triomphe di Paris adalah contoh bagus bagaimana sebaiknya
sebuah monumen dibuat. Apalagi, monumen juga dimaksudkan agar generasi
penerus dapat mengenal, mengenang, dan kemudian meneladani pendahulunya.
Nama-nama pejuang
Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, sesuai namanya, adalah monumen untuk
mengenang perjuangan rakyat Jawa Barat. Yang namanya perjuangan dilakukan
manusia yang tentu saja memiliki nama. Adalah sebuah kewajaran apabila
nama-nama mereka diabadikan di monumen. Dinding monumen dapat dilengkapi
dengan nama-nama pejuang. Banyak nama yang layak diabadikan di sana, dari
masa perjuangan melawan kolonialisme Belanda, masa pendudukan Jepang,
sekitar kemerdekaan, hingga seterusnya.
Selain tokoh-tokoh besar, seperti Oto Iskandar Dinata, R Dewi Sartika, dan
Ir H Djuanda, nama-nama yang hanya selintas ada dalam buku sejarah tetapi
berperan penting juga layak diabadikan di Monju. Misalnya, Wikana, pemuda
kelahiran Sumedang tahun 1914, yang bersama pemuda lain menculik Bung Karno
dan Bung Hatta ke Rengasdengklok dengan tujuan agar kedua tokoh ini segera
mengumumkan kemerdekaan Indonesia menyusul kekalahan Jepang.
Wikana kemudian menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga pertama (29 Juni
1946-29 Januari 1948). Nama-nama komandan yang ikut dalam pertempuran
Bojongkokosan yang heroik dapat diukir pada salah satu dinding atau lantai.
Demikian halnya tokoh-tokoh peristiwa Bandung Lautan Api, long march Divisi
Siliwangi ke Yogyakarta, selain juga serdadu Siliwangi legendaris yang
berprestasi dalam suatu operasi seperti yang berhasil menangkap Kahar
Muzakar atau Kartosuwiryo.
Kategori pejuang dapat diperluas tidak hanya pejuang kemerdekaan dan
peperangan, tetapi juga putra-putri terbaik Jawa Barat dalam bidang
masing-masing. Bisa juga mereka yang pernah mengharumkan Jawa Barat, seperti
atlet peraih medali emas dalam event internasional. Pun demikian putra Jawa
Barat yang berkiprah di luar Jawa Barat, nasional, dan internasional, yang
terkenal karena prestasinya yang luar biasa dan yang merupakan tokoh
perintis kemajuan suatu bidang.
Demikian halnya pejuang lingkungan yang mendapat penghargaan Kalpataru,
seperti Ma Eroh dari Tasikmalaya.
Dengan begitu, Monju akan memiliki nilai lebih, membumi, dan melekat di hati
rakyat Jawa Barat apabila dilengkapi nama-nama pejuang Jawa Barat dalam
berbagai bidang. Selain penghias kota dan obyek fotografi, ia juga menjadi
media bagi pengunjung untuk mengenal, mengenang, dan mengapresiasi, serta
tempat mendapatkan inspirasi dari mereka yang pernah berjuang untuk Jawa
Barat dan Indonesia. Semoga!
JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH
 Dosen Desain Itenas; Bobotoh Pusat Studi Sunda

The message was checked by Fortiget

Kirim email ke