Si Kabayan Telah Kembali SI Kabayan adalah cerita rakyat yang paling populer di Tatar Sunda, bahkan paling dikenal di Indonesia. Mungkin karena bisa multitafsir sehingga Si Kabayan bisa hidup di segala zaman, ter-gantung dari sudut mana kita memaknai karakter Si Kabayan. Dengan segala keluguannya, ia bisa mengkritisi situasi. Juga dengan keluguannya, ia bisa menghadirkan beragam situasi yang mengundang tawa. Meskipun ia kelihatan lugu, polos, bicara apa adanya, sesungguhnya ia juga cerdik, cerdas, dan menjalani hidup tanpa beban. Si Kabayan adalah sosok yang teu nanaon ku nanaon, tidak apa-apa oleh apa-apa. Oleh karena itu, meskipun orang kampung, ia bisa hadir di mana saja, tanpa ada rasa takut.
Daya tarik Si Kabayan sebagai sebuah tontonan selalu menimbulkan rasa penasaran khalayak untuk menyaksikannya. Tidak heran jika Si Kabayan telah ditampilkan dalam berbagai bentuk karya seni sandiwara, gending karesmen, serial TV, karya sastra, dan film. Pengarang Sunda yang menulis cerita Si Kabayan, antara lain Muh. Ambri, Wahyu Wibisana, RAF, Min Resmana, Tini Kartini, dan SME Permana. Cerita Si Kabayan yang diangkat ke film setidaknya mencerminkan sosok Si Kabayan yang lugu, tetapi cerdik. Mulai dengan film "Si Kabayan" (1976) produksi PT Diah Pitaloka Film yang dibintangi Kang Ibing dan Lenny Marlina, Si Kabayan tercatat sebagai cerita daerah yang paling banyak dibuat film. Perusahaan film yang terbanyak membuat film Si Kabayan adalah PT Kharisma Jabar Film. Perusahaan tersebut bekerja sama dengan Pemda Provinsi Jabar menggarap film "Si Kabayan Saba Kota", "Si Kabayan dan Gadis Kota", "Si Kabayan dan Anak Jin", "Si Kabayan Saba Metropolitan", dan "Si Kabayan Mencari Jodoh". Film "Si Kabayan Saba Kota", selain terpilih sebagai Film Komedi Terbaik dalam ajang FFI, juga tercatat sebagai salah satu film terlaris di Indonesia. Kini, setelah selang 21 tahun sejak dibuat PT Kharisma Jabar Film, Si Kabayan muncul lagi dalam film "Si Kabayan Jadi Milyuner" dengan produser yang sama Ir. Chand Parwez Servia, tetapi berbeda perusahaan film. Parwez mencoba memberi ruang penjelajahan Si Kabayan yang lebih luas, dengan masuknya Si Kabayan ke dalam situasi dan peristiwa-peristiwa aktual. Guntur Suharyanto sebagai sutradara, setia mempertahankan karakter Si Kabayan, tetapi dengan melakukan eksplorasi yang lebih menarik, termasuk memanfaatkan perkembangan teknologi film. Parwez mengenal betul sosok Si Kabayan, sebab ia lahir dan besar di Tasikmalaya. Ketika kuliah di IPB, ia juga giat dalam organisasi Daya Mahasiswa Sunda Bogor sehingga ia cukup mengenal referensi karya sastra Sunda. Apakah Si Kabayan yang kini diperankan oleh Jamie Aditya lebih baik dari Si Kabayan yang diperankan Kang Ibing dan Didi Petet? Atau apakah Nyi Iteung yang diperankan oleh Rianty Cartwright lebih baik dari Nyi Iteung yang diperankan oleh Lenny Marlina, Paramitha Rusady, Desy Ratnasari, dan Nike Ardila? Masyarakat penontonlah yang akan menilainya. Dari kacamata produser, Parwez berusaha mempertahankan nuansa kasundaan dan memperhatikan kekinian, sebab membuat film dengan biaya mahal tetap harus mempertimbangkan segala hal yang "memiliki nilai jual" tanpa harus mengorbankan idealisme. Munculnya kembali film Si Kabayan dengan judul "Si Kabayan Jadi Milyuner" di tengah miskinnya film berdasarkan cerita rakyat yang lekat dengan nuansa budaya daerah (Sunda), dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi film, dengan biaya yang cukup tinggi - di atas rata-rata biaya produksi umumnya film Indonesia, setidaknya memberi warna baru di tengah kebosanan menonton film atau sinetron dengan cerita dan setting yang itu ke itu saja. Barangkali dengan kekosongan film cerita daerah itu, film "Si Kabayan Jadi Milyuner" yang bertabur bintang, yakni Jamie Aditya, Rianty Cartwright, Christian Sugiono, Didi Petet, Meriam Bellina, Slamet Rahardjo, Aming, Melly Guslaw, Deni P. Project., Sogi, - bahkan secara khusus menampilkan sosok Wakil Bupati Garut dan istri sebagai pemeran dalang wayang golek dan sinden, akan mengundang minat masyarakat luas untuk menyaksikannya di bioskop. Masyarakat memang membutuhkan hiburan yang sangat menghibur, tetapi tidak sekedar menghibur. "Meskipun ada nama-nama yang kebarat-baratan, umumnya urang Sunda, bahkan banyak urang Bandung," kata Parwez. Jamie Aditya misalnya, yang lahir dan tinggal di Australia, adalah cucu pengarang terkenal Achdiat Kartamihardja (salah satu novelnya yang paling dikenal Atheis). Rianty Cartwright besar di Bandung dan dialeknya masih kental Sunda. Meriam Bellina, Didi Petet, Aming, Melly Guslaw, Deni P. Project, semuanya besar di Bandung. Penata Musik Anto Hoed dan Melly Guslaw mencoba menampilkan nuansa musik tradisional Sunda. Sementara editing digarap oleh editor terbaik asal Bandung, Cesa David Lukmansyah. Film "Si Kabayan Jadi Milyuner" yang sebagian besar mengambil lokasi shooting di Garut, menurut Parwez, secara lengkap menampilkan kuatnya persahabatan, rasa kekeluargaan, cinta, dan kebersamaan dalam mempertahankan lingkungan dari ketamakan pengusaha yang akan mengubah pesantren jadi lahan permukiman mewah dan tempat rekreasi. Falsafah Sunda "Silih asah silih asih silih asuh" akan tergambar dalam sebuah petualangan Si Kabayan dan Armasan (diperankan oleh Aming) yang penuh kejutan humor. (Eddy D. Iskandar)*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=167462
