Menu Paceklik Nelayan Pantura

Gombyang bukan sekadar makanan, tetapi ada unsur kreativitas yang
melatarbelakanginya. Sejak dahulu, makanan pindang ikan yang berkuah pedas
tanpa santan disebut gombyang. Hanya saja, pada masa lalu, ikan yang
dijadikan gombyang biasanya satu ekor ikan utuh. Belakangan, entah siapa
yang memulai, tiba-tiba ada gombyang khusus kepala ikan manyung.

Awalnya, gombyang ikan manyung merupakan makanan iseng-iseng para nelayan
tradisional miskin di pantai utara Indramayu. Selama ini, dari ikan manyung
yang diambil hanya dagingnya untuk dijadikan jambal roti.

Setelah diambil dagingnya, semula ikan kepala manyung dibuang begitu saja.
Bahkan di tiap-tiap tempat pelelangan ikan (TPI), kepala manyung dijadikan
limbah.

Dari situ, kreativitas para nelayan miskin muncul. Mereka kemudian mencoba
memanfaatkan kepala manyung untuk dimasak pindang kuah atau yang disebut
gombyang. Hasilnya ternyata enak, bahkan jauh lebih enak dibandingkan dengan
gombyang biasa yang menggunakan ikan jenis lain termasuk kakap merah.

Bertahun-tahun gombyang ikan manyung menjadi makanan murah meriah nelayan
miskin di Indramayu. Mereka memasak gombyang, terutama kalau sedang
paceklik. "Gombyang kepala manyung dimasak kalau lagi enggak punya duit.
Daripada makan tanpa sayur, apa salahnya masak kepala manyung yang
didapatnya tidak usah beli," tutur Wartiah (47), nelayan tradisional di
Pantai Karangsong Indramayu.

Tak pernah ada yang menyangka kalau makanan darurat nelayan miskin di
Indramayu itu kini menjadi makanan favorit orang-orang berduit. Hanya
sentuhan tangan-tangan kreatif dan kecerdasan melihat peluanglah yang
membuat makanan lidah nelayan miskin itu digemari oleh masyarakat dari
berbagai strata kelas sosial-ekonomi. Kepala manyung yang dulu merupakan
limbah, kini menjadi berkah. Jika semula dibuang, kini justru jadi rebutan.

**

Di TPI, dalam beberapa tahun ini sudah tidak lagi ditemukan kepala manyung.
Kepala ikan itu sudah diperebutkan pemilik warung atau rumah makan.

Harganya pun cukup tinggi. Harga per kilogram jika persediaan terbatas bisa
mencapai Rp 10.000. Kalau stok sedang banyak, harga berkisar antara Rp 8.000
sampai dengan Rp 9.000 per kilogram, isinya dua sampai tiga kepala ikan.

Tidak jelas siapa yang telah berjasa menaikkan peringkat gombyang kepala
manyung menjadi makanan berkelas dan menjadi favorit berbagai kalangan.
Menurut Warto, pemilik rumah makan, gombyang kepala manyung mulai digemari
sejak tiga tahun terakhir.

Ada fenomena menarik pada makanan ini. Yakni pada soal pemaknaan.
Sebelumnya, gombyang dikenal sebagai pindang kuah ikan laut, berbagai jenis
ikan laut. Namun belakangan, makna umum itu sudah tercerabut. Masyarakat
telanjur mengenal bahwa yang disebut gombyang itu adalah masakan pindang
kuah kepala manyung.

Gombyang (kepala manyung), kini sudah naik kelas. Sudah menjadi makanan
"klangenan" orang-orang berduit. Ironisnya, nelayan miskin kini justru sudah
tidak bisa menikmati gombyang. Kepala manyung kini harganya mahal dan tidak
terjangkau kantong mereka. Waktu dan perubahan perilaku makanan, telah
menceraikan nelayan miskin dari gombyang (kepala manyung) yang dulu
dijadikan makanan darurat saat musim paceklik. (Agung Nugroho/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=168097

Kirim email ke