Kuliner
Gombyang "Si Pedas" dari Indramayu

Semula penganan yang satu ini hanya dikenal di kalangan nelayan tradisional
di pantai utara Indramayu. Namun dalam dua tahun terakhir ini, makanan itu
menjadi menu favorit hampir setiap orang.

"Sepertinya ada yang kurang kalau dalam seminggu tidak makan gombyang,"
tutur Lusi (30), ibu rumah tangga warga Desa/Kecamatan Sindang, Kabupaten
Indramayu.

Ya gombyang namanya. Bagi orang luar Indramayu, kedengarannya agak aneh,
bahkan terkesan lucu. Dalam dua tahun terakhir, makanan ini sudah menjadi
menu favorit masyarakat di daerah pantai utara.

Bahkan bukan hanya warga Indramayu, melalui gethok tular (penyebaran
informasi), warga luar Indramayu pun ikut keranjingan. Bagi para tamu yang
sudah pernah menikmati makanan ini, tidak lengkap rasanya jika berkunjung ke
Indramayu belum makan dengan sayur gombyang.

"Dulu kalau ke Indramayu, tak mau ketinggalan makan pedesan entog. Sekarang,
belum lengkap kalau belum makan gombyang," tutur David (42), warga Jakarta
yang datang ke Indramayu untuk urusan bisnis di Pertamina Unit Pengolahan VI
Balongan.

Popularitas gombyang kini tengah menanjak. Jika dulu ada pedesan entog,
semacam gulai daging entog yang dimasak superpedas, kini gombyang menyusul
sebagai menu spesial.

Lain pedesan entog, lain pula gombyang. Pedesan entog berbahan baku daging
entog, sedangkan gombyang berbahan baku ikan laut. Di antara berbagai jenis
ikan laut, yang identik dengan gombyang ialah ikan manyung.

Masakan ini sangat khas. Tidak seluruh bagian ikan yang dimasak, yang
diambil untuk gombyang hanya bagian kepalanya. Kepala ikan yang sudah
dibelah kemudian dimasak.

**

Gombyang adalah menu makanan berkuah seperti gulai, namun kuahnya tanpa
santan. Orang Indramayu menyebut makanan itu sebagai masakan pindang.

Kuah gombyang terbuat dari campuran berbagai jenis bumbu pedas dan panas
seperti lengkuas, jahe, kemiri, bawang putih, bawang merah, ketumbar,
merica, dan beragam bumbu pedas lain, ditambah kunyit yang akan memberi
warna kuning pada kuah. Selain bumbu-bumbu tadi ada pelengkap lainnya berupa
irisan cabai merah, cabai hijau, tomat, dan bawang daung. Bumbu itu dicampur
lalu disiramkan ke kepala ikan manyung.

Rasa masakan ini sangat khas, campuran gurih dan pedas. Pada saat hawa
sedang dingin, menyantap gombyang bisa membuat tubuh terasa hangat. Jika
disantap di siang hari saat sinar mentari sedang panas menyengat, cucuran
keringat pun tak terhindarkan, mengalir berbarengan dengan rasa nikmat yang
menggoyang lidah.Tentu, menyantapnya harus dipadu dengan nasi.

Memasak gombyang sepertinya cukup mudah. Namun pada praktiknya ternyata
tidak begitu. Warto (40), pemilik rumah makan di Desa Tambak, Kecamatan
Indramayu menuturkan, untuk membuat gombyang yang lezat maka racikan
bumbunya harus pas.

Selain itu, butuh trik khusus untuk menghilangkan bau amis kepala ikan
manyung."Menghilangkan bau amis kepala ikan manyung itu butuh cara khusus.
Masaknya saja harus berkali-kali," tuturnya.

Warto harus dua sampai tiga kali merebus kepala manyung. Dengan cara itu,
selain menghilangkan bau amis, juga supaya dagingnya bisa benar-benar matang
dan lembut.

"Manyung itu dikenal sebagai ikan dengan bau amis menyengat. Tidak mudah
menghilangkan baunya. Ikan harus direbus dua hingga tiga kali selama 1,5 jam
sebelum dimasukkan ke dalam kuah yang sudah dicampur bumbu," tuturnya.

**

Rumah Makan yang menyajikan menu gombyang biasanya ramai dikunjungi
penggemar kuliner tersebut. Sejak pagi hingga waktu makan siang, rumah makan
seperti itu selalu dipenuhi pembeli.

"Tiap hari, rata-rata menghabiskan lima puluh kilogram kepala manyung, atau
sekitar 400 sampai 450 kepala ikan. Selain ikan manyung, kakap merah juga
bisa dimasak gombyang, cuma yang khas memang kepala manyung," kata Warto.

Harga gombyang relatif murah. Satu belahan kepala manyung atau satu porsinya
dihargai Rp 18.000. Pengunjung biasanya menghabiskan dua porsi atau satu
tangkep kepala manyung.

Saking ramainya, lewat pukul 13.00 WIB masakan ini sudah habis. Karenanya,
kalau mau kebagian gombyang, harus datang lebih pagi.

Dede (40), pelanggan gombyang, mengaku sangat menyukai kuliner itu. Meski
daging ikannya sedikit, hal itu tidak membuatnya kecewa karena rasanya yang
khas dan nikmat.

Menyantap gombyang memang jangan berharap bakal memperoleh daging ikan yang
banyak. Daging yang tersisa, hanyalah yang menempel pada tulang ikan. Meski
begitu, ada sumber kelezatan lain yang menempel di tulang kepala, termasuk
juga lendir di sela-sela tulang dan bola mata.

"Justru di situ kenikmatannya. Kalau banyak dagingnya, malah menjadi kurang
khas," kata Dede yang sudah lebih dari lima kali makan gombyang.

Dalam beberapa tahun ini, hampir semua rumah makan yang menyediakan menu
masakan laut di Indramayu, mengandalkan gombyang sebagai menu utama. Menu
itu kini menempati posisi istimewa di rumah-rumah makan di Indramayu. (Agung
Nugroho/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=168098

Kirim email ke