Kopi Luwak, dari Era Tanam Paksa ke "Oprah
Winfrey Show"

Sabtu, 18 Desember 2010 | 04:48 WIB

 

Kehadiran kopi luwak di Tanah Air adalah sebuah ironi. Di era cultuurstelsel
atau
tanam paksa, kopi luwak merupakan ”obat” pelipur lara bagi para petani yang
terjajah Belanda. Namun, kini menjelma menjadi komoditas papan atas, yang harga
jualnya di pasar internasional bisa mencapai Rp 32 juta per kilogram.

Tak perlu heran jika presenter ternama yang juga pengusaha, Oprah Winfrey,
mengulas kenikmatan kopi yang satu ini dalam acaranya, Oprah Winfrey Show, yang
ditayangkan salah satu televisi Amerika Serikat. ”Cita rasanya unik dan lezat,”
demikian komentarnya, meski ia nyaris tersedak saat mengetahui cara
pembuatannya.

Awal abad ke-19, sejumlah petani di Tanah Air, khususnya di Lampung, dipaksa
menanam kopi sebagai komoditas andalan. Mereka lalu diwajibkan menyetorkan
semua hasil panen kepada pemerintah kolonial Belanda. Suatu ketika, mereka
menemukan sebuah cara untuk menikmati kopi hasil panen tersebut.

”Caranya dengan ngelahang (mengumpulkan) kopi yang jatuh di tanah, termasuk
yang berupa kotoran luwak,” kata Sukardi (34), perajin kopi luwak di Way
Mengaku, Liwa, Kabupaten Lampung Barat, Lampung, menceritakan sejarah panjang
kemunculan kopi luwak di daerahnya.

Ratusan tahun berjalan hingga kini, kebiasaan ngelahang kopi luwak itu
dilakukan segelintir petani kopi di Lampung Barat dan Sumatera Selatan. Bagi
Minariah (39), petani kopi di Liwa, menikmati kopi luwak hasil ngelahang adalah
sebuah kenikmatan tersendiri.

”Brangkalan (biji-biji kopi yang masih tercampur kotoran luwak) biasanya
banyak ditemukan saat musim panen (kopi). Bisa di dahan, batang, atau tanah.
Saya kumpulkan, digiling, lalu diminum sendiri karena memang jumlahnya tidak
banyak,” papar Minariah.

Kopi luwak hutan. Demikian warga Liwa menyebut kopi luwak yang diperoleh
dari alam itu. Komoditas yang satu ini memiliki rasa yang sangat unik. Aromanya
sangat tajam, gurih, dan tidak terlalu asam.

Di pasaran, kopi luwak hutan dijajakan dengan rasa yang beragam, bahkan ada
yang ditambah aroma tanah yang eksotis.

Kekhasan kopi luwak, antara lain, karena di dalam organ pencernaan hewan
tersebut kopi mengalami fermentasi secara alamiah oleh enzim-enzim yang
dihasilkan bakteri. Enzim terkait ternyata mengurangi kadar keasaman biji-biji
kopi.

”Proses itu juga menurunkan kadar kafein secara tajam pada kopi. Jadi, orang
yang minum kopi luwak sehari 10 gelas pun tidak masalah. Tidak merusak tubuh,”
kata Sukardi setengah mempromosikan kopi luwak.

Di daerah tertentu, lanjutnya, kopi sengaja disimpan hingga tujuh tahun
semata-mata untuk menurunkan kadar kafein dan keasamannya.

Pernyataan senada dikemukakan Massimo Marcone, peneliti kopi dari
Universitas Guelph, Kanada, sebagaimana dipublikasikan jurnal Food Research
International. ”Pencernaan luwak otomatis menurunkan kadar protein sehingga
menghasilkan rasa kopi yang unik dan kaya. Kopi ini karakteristiknya lembut,
terkadang berasa cokelat atau karamel. Satu dari kopi terbaik di dunia,”
paparnya. Marcone memfokuskan riset kopi luwaknya di Indonesia.

Dipelihara

Seiring ketenarannya, kopi luwak yang beredar di pasaran kini tidak lagi
hanya merupakan hasil pencarian di alam terbuka, seperti di kebun kopi atau
hutan. Sebagian besar bahkan dihasilkan dari tempat-tempat pemeliharaan luwak.

Di Way Mengaku, Liwa, misalnya, luwak yang terkenal liar dan buas dipelihara
di dalam kandang di pekarangan rumah warga. Akan tetapi, yang dipelihara itu
hanya yang jenis Paradoxurus dan Arctictis.

Musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus) tercatat sebagai salah satu hewan
yang biasa memakan buah kopi dan menghasilkan kopi terbaik. Hewan ini banyak
ditemukan di perkebunan kopi dan hutan di Sumatera dan Jawa.

Luwak binturung (Arctictis binturong) menghasilkan kotoran yang lebih besar.
Namun, saat ini musang ”beruang” termasuk hewan yang dilindungi.

Wahyu Anggoro (25), perajin kopi luwak di Way Mengaku, mengatakan, tak mudah
memelihara hewan penghasil kopi terbaik itu. ”Tidak jarang luwak kabur setelah
berhasil menggigiti penutup kandang yang terbuat dari kayu dan kawat. Berkaca
dari pengalaman, kini tutup kandang umumnya dibuat dari bahan besi berdiameter
10 milimeter,” katanya.

Luwak juga tergolong hewan kanibal karena bisa saling membunuh jika ditaruh
di dalam satu kandang. Karena itu, umumnya binatang tersebut ditempatkan dalam
kandang berukuran sekitar 1 meter x 1,5 meter secara terpisah.

Biaya tinggi

Menurut Gunawan S (41), ketua kelompok perajin kopi luwak Raja Luwak di
Pekonan, Way Mengaku, biaya operasional pemeliharaan luwak sangat tinggi,
mencapai Rp 55.000 per ekor per hari. ”Seekor luwak tiap hari diberi makan buah
kopi segar (yang dinilai terbaik) 5 kg, pisang minimal satu tandan, serta
suplemen atau vitamin. Harga kopinya saja sudah Rp 6.000 per kg,” ujarnya.

Tidak semua buah kopi yang disajikan dimakannya. Luwak hanya memakan yang
benar-benar matang dan segar.

Berbagai proses inilah yang membuat harga kopi luwak sangat mahal. Dewi Ana
(33), eksportir kopi dan pemilik merek Dewi Luwak, mengatakan, harga kopi luwak
di pasar internasional berkisar Rp 7 juta-Rp 32 juta per kg. ”Kopi ini tetap
ada yang mencari karena langka dan prestisenya,” ujar pengusaha yang mengekspor
kopi luwak asal Liwa ke Jepang,
 Korea,
Hongkong, dan Kanada. Sebagai perbandingan, biji kopi Hacienda dari Panama dan
kopi St Helena Afrika yang masuk di dalam jajaran kopi papan atas harganya
masing-masing Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta per kg.

Jadi, pantas saja jika majalah Forbes menyebut kopi luwak asal Indonesia
sebagai kopi termahal di dunia. Di New York, AS, seperti yang terekam dalam
sebuah tayangan berita di CNN, secangkir kopi luwak dihargai 100 dollar AS atau
hampir Rp 1 juta. Wow...!

(Yulvianus Harjono)

http://cetak.kompas.com/read/2010/12/18/04481871/kopi.luwak.dari.era.tanam.paksa.ke.oprah.winfrey.show




      

Kirim email ke