Aya sababaraha jurig nu katimu, cing pangdeskripsikeun: onom, siluman, siluman monyet (nyupang), siluman ular (ngipri), siluman babi hutan (nyegik), tuyul (kecit),
2010/12/20 mh <[email protected]> > Tah ayeuna urang toong, kumaha pamanggih para pangarang Sunda ngeunaan > jurig teh. > Aya artikel lawas nu dimuat rubrik Khazanah Pikiran Rakyat: > > ===== > Siluman Dalam Sastra Sunda > > > Atep Kurnia > > DALAM cerita-cerita Ambri, gambaran siluman masih sebatas yang tampak dari > realitas kehidupan orang-orang lembur. Dan pada cerita-cerita siluman Ki > Umbara, walau sudah dikaitkan dengan agama Islam, gambaran siluman masih > terasa samar, karena masih terkesan bertarik ulur dengan kepercayaan > tradisional. > > Siluman ternyata bukan saja milik orang Timur, seperti yang dituduhkan > orang > Barat. Dalam kesusastraan Inggris, misalnya, Shakespeare menyodorkan tokoh > siluman gentayangan ayah Hamlet untuk memberi tahu siapa yang telah > membunuhnya. Atau dalam kesusastraan Jerman, Goethe memberi jawaban mengapa > > Faust bisa menguasai berbagai ilmu yang sangat dahsyat, karena Faust telah > menggadaikan jiwanya kepada sang Memphistopeles. > > Memang. Cerita seputar siluman juga sama-sama telah mentradisi dalam > kehidupan budaya orang Barat. Apalagi di akhir abad ke-18 cerita-cerita > siluman itu mewujud suatu genre sastra, yaitu gotik. Istilah gotik mulanya > menggambarkan bangunan-bangunan di Eropa pada abad ke-18. Cerita-cerita > gotik yang penuh horor itu pun umumnya berlatarkan bangunan-bangunan gotik > yang serbabesar, kokoh, tetapi penuh dengan kesunyian dan kengerian. > Drakula, siluman yang suka mengisap darah manusia karya Bram Stoker, > misalnya tinggal di suatu kastil yang sangat besar dan kokoh namun juga > penuh kengerian. > > Akan tetapi, bagaimana dengan cerita siluman dalam khazanah budaya orang > Sunda? Umumnya orang Sunda, dari dahulu hingga sekarang, memercayai adanya > makhluk-makhluk gaib yang mendiami alam gaib. Dengan demikian, tidak aneh > bila dari dahulu orang Sunda sangat mengenal cerita-cerita siluman. > > Dari dulu misalnya kita diingatkan kepada cerita Sangkuriang yang ngotot > mau > menikahi ibunya sendiri, Dayang Sumbi. Untuk memenuhi permintaan Dayang > Sumbi membendung Sungai Citarum dan membuat perahu untuk melayarinya, > Sangkuriang dibantu sepasukan siluman taklukannya. Atau dari daerah > Priangan > Timur kita mengenal cerita "Onom" yang konon menguasai Rawa Lakbok. > Demikianlah yang terbaca dari buku susunan R.A. Danadibrata, Onom jeung > Rawa > Lakbok (1979). > > Moh. Ambri > > Dalam jagat sastra Sunda modern, Moh. Ambri (1892-1936) adalah sastrawan > yang mulai menulis novel siluman. Beberapa karyanya dapat disebutkan di > antaranya Burak Siluman (1932), Ngawadalkeun Nyawa (1933), dan Munjung > (1933), dan satu lagi dia timba dari kebudayaan India, Pusaka Ratu Teluh > (1932). > > Melalui Munjung dan Burak Siluman, misalnya, dengan jelas Ambri > menggambarkan kepercayaan orang Sunda terhadap adanya makhluk-makhluk gaib. > > Munjung menceritakan kepercayaan orang Sunda akan cara-cara menjadi kaya > dengan memuja siluman. > > Jalan-jalan menjadi seperti ini, antara lain memuja siluman monyet > (nyupang), siluman ular (ngipri), siluman babi hutan (nyegik), memuja tuyul > > (kecit), dll. Yang menarik, cerita Munjung dituturkan melalui percakapan > orang-orang kampung yang sedang meronda di gardu. > > Penggambaran realistis ini, diulanginya dalam Burak Siluman. Kisahnya > dituturkan orang yang bertamu kepada kawannya untuk meminta benih jagung. > Dalam percakapan itulah cerita tentang siluman itu dituturkan. > > Kisahnya mengenai Nyi Asmanah yang kagembang oleh Arjuna dalam wayang > golek. > Padahal Arjuna tersebut adalah "burak siluman". Ia pun tergoda lalu > tersesat > ke alam siluman, hingga mempunyai anak. Ketika ia rindu kepada orang > tuanya, > ia pun kembali. Namun malang, fajar sudah menjelang. Dengan demikian, ia > tak > dapat kembali baik ke alam manusia maupun ke alam siluman. > > Tentang asal-usul mengapa Ambri mengarang cerita siluman, saya membaca > "Surat-surat Moh. Ambri" yang dimuat dalam Pancakaki: Kumpulan Esey (1996). > > Dari delapan surat Ambri yang diumumkan Ajip Rosidi itu terbaca bahwa Moh. > Ambri menganut ilmu kebatinan yang disebut "Ajian Kasumedangan". > > Ambri mulai belajar kebatinan karena Nyi Oneng Karnasih, istrinya, sakit > keras dan tidak sembuh ketika berobat ke dokter. Atas saran seorang kumitir > > di Sumedang, ia membawa istrinya berobat ke seorang dukun dan ternyata > sembuh. Kejadian tersebut berpengaruh besar kepada Ambri. > > Mulai saat itulah ia belajar kebatinan dan hal-hal lain yang bersifat gaib. > > Ia mulai belajar tirakat, bertapa, berziarah ke tempat-tempat keramat. Oleh > > karena itu, kepercayaannya akan hal-hal yang mistis dan gaib inilah yang > berpengaruh terhadap karya-karyanya yang bertemakan siluman. > > Ki Umbara > > Selain Ambri, sastrawan Ki Umbara (1914-2005) pun termasuk pengarang yang > menulis cerpen siluman. Pengarang yang lahir di Desa Bendungan, Kuningan > itu, konon sedari kecil sudah menyukai hal-hal yang berbau gaib. Misalnya, > ia sering tidur di kuburan, padahal menurut anggapan orang di kampungnya > tempat itu merupakan sarang bangsa siluman. Selain itu, ia pun suka > bertanya > kepada ajengan, ahli jin, atau dukun beranak. Oleh karena itu, tidaklah > mengherankan bila di dalam karya-karyanya suka dijumpai jampi-jampi atau > jangjawokan yang hidup di lingkungan masyarakatnya. > > Ki Umbara mulai mengarang cerpen siluman pada tahun 1963. Yaitu cerpen > berjudul "Kasilib" yang dimuat dalam majalah Mangle. Kemudian karyanya > tersebut dianugerahi Hadiah Sastra Mangle tahun 1964. Dari sana cerita > silumannya kemudian banyak bermunculan. Cerita-cerita silumannya telah > dibukukan dalam beberapa antologi. Di antaranya: Diwadalkeun Nyawa (1965), > Teu Tulus Paeh Nundutan (1966), Jurig Gedong Setan (2003), dan satu lagi > Harewos nu Gaib (2005). > > Menurut Ajip Rosidi dalam Eundeuk-eundeukan (1998), Ki Umbara pernah > menerangkan bahwa niat mengarang cerita siluman antara lain untuk > menghilangkan ketakhayulan di kalangan orang Sunda. Selain itu, ingin > menanamkan keyakinan bahwa menjalankan syariat agama seperti salat, puasa, > dan lain-lain merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan orang > Islam. > > > Oleh karena itu, karya-karya Ki Umbara sangat kaya dengan nilai-nilai > keislaman serta mengandung amanat dakwah islamiah. Maksudnya, tentu saja > mengingatkan para pembacanya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan > yang > paling mulia. Lebih mulia daripada makhluk lainnya, baik jin maupun > malaikat. Oleh karena itu, manusia jangan sampai terpengaruh siluman. > > Bagaimana gambaran siluman pada cerpen-cerpen Ki Umbara? Dalam antologi > Jurig Gedong Setan, misalnya, kita dapat membaca cerpen-cerpen yang > mencerminkan kepercayaan orang Sunda bahwa orang yang telah meninggal > dengan > tidak sempurna sebab mati penasaran atau meninggalnya tidak umum, bila > belum > disempurnakan suka menjadi ririwa yang bergentayangan, menakut-nakuti, dan > menuntaskan rasa penasarannya. Cerpen yang dimaksud antara lain, "Jurig > Gedong Sétan", "Ngabedegel", "Kunti," dan "Jurigna Datang". > > Bila demikian, bagaimana posisi agama Islam dalam cerpen-cerpen Ki Umbara? > Tampaknya nilai-nilai keislaman dijadikan benteng untuk menolak setan, > seperti yang dapat kita baca dari "Digusuran Jurig". > > Anasir Islam lainnya seperti doa dipakai sebagai jampi untuk mengusir > siluman gentayangan, atau yang merasuki manusa. Dan tokoh-tokoh Islam > seperti ajengan, kiai, dan merebot diminta untuk mengusir bangsa lelembut > yang mengganggu, seperti dalam cerita "Ngabedegel" dan "Kunti". > > Rais Purwacarita > > Salah seorang pengarang yang meneruskan tradisi cerita siluman dalam sastra > > Sunda, di antaranya bisa disebut Rais Purwacarita. Setidaknya ini dapat > dibuktikan dengan terbitnya buku Dedemit Kiarapait (2004). Buku ini, > seakan-akan mengokohkan kembali tradisi cerita siluman Sunda yang telah > dirintis para pendahulunya. > > Hal pertama yang patut kita cermati dari antologi ini adalah, bergesernya > identifikasi siluman. Dalam cerita-cerita Ambri, gambaran siluman masih > sebatas yang tampak dari realitas kehidupan orang-orang lembur. Dan pada > cerita-cerita siluman Ki Umbara, walau sudah dikaitkan dengan agama Islam, > gambaran siluman masih terasa samar, karena masih terkesan bertarik ulur > dengan kepercayaan tradisional. Rais dalam hal ini mengidentifikasi siluman > > sebagai jin yang suka nyiliwuri, mancala putra mancala putri. > > Selain itu, melalui cerita-cerita silumannya, Rais telah membawa pandangan > baru dalam memandang eksistensi makhluk gaib. Makhluk-makhluk gaib tidak > hanya dipandang dalam kerangka berpikir tradisional orang Sunda, melainkan > dibawa ke area yang lebih luas, seperti sains. > > Umpamanya cerita "Nyi Rambut Kasih" dan "Kalangkang Riwan". Tokoh "Kuring" > dalam "Nyi Rambut Kasih" serta sebuah tim dalam "Kalangkang Riwan" dapat > mendeteksi sekaligus menangkap eksistensi makhluk gaib, melalui peralatan > komputer yang ultramodern. Ya, seperti yang terjadi dalam film > "Ghostbuster" > saja layaknya.*** > > ATEP KURNIA > Penulis Lepas tinggal di Bandung. > >
