*Bah Oza, numana nya nu ziarah ka Galuh teh?*

**

*==========
*

*LATAR BELAKANG KELUARGA DIRAJA KELANTAN*

*Sultan Kelantan*

Sultan Ismail Petra

*Raja Perempuan*

Tengku Anis Tengku Abdul Hamid
Elia Suhana Ahmad (isteri kedua).

*Anak*

Anak lelaki pertama: Tengku Muhammad Faris Petra (Pemangku Sultan)
Anak lelaki kedua: Tengku Muhammad Faiz Petra
Anak lelaki ketiga: Tengku Muhammad Fakhry Petra
Anak perempuan: Tengku Amalin A’ishah Putri




2010/12/20 Aschev Schuraschev <[email protected]>

>
>
> Perkawis Karaton Pakungwati, margi teu aya urang Sunda anu medar sacara
> jenter jigana mah kang. Kedahna mah dipedar ku kang Oca.
>
> Perkawis putri Kelantan nu ziarah ka Galuh, upami teu kaabotan, mangga
> dongengkeun langkung seueur kang Ocha!
>
> Hatur nuhun,
> Asep
>
>
>
> --- On *Mon, 12/20/10, Roza R. Mintaredja <[email protected]>*wrote:
>
>
> From: Roza R. Mintaredja <[email protected]>
> Subject: Re: [kisunda] Macan Ali
> To: [email protected]
> Date: Monday, December 20, 2010, 2:13 AM
>
>
>
>
> ANU AHENG , KUNAON KARATON PAKUNGWATI TARA DIGUAR SACARA JENTRE.
> PADAHAL ETA KARATON CIREBON ANU PANGKOLOTNA, PANG MURNI NA.
> NGARANNA LAIN KASULTANAN, SABAB UMUMNA MUN SULTAN, PRODUK KIWARI MAKE BAJU
> ISLAM.
> GERAK GULUNG PADJADAJRAN, SERA, ELUK PAKU CIMANNDE, GULUNG BUDIDAYA MUNGKIN
> SARUMPUN
> ELMU KOPASUSNA PASUKAN KARADJAAN PADJADJARAN.
> BRUNEI, MALAYSIA HAMPIR SADAYANA TRAH TI TANAH SUNDA.
> KAMARI UIN NGANTEUR PUTRI KELANTAN/MALAYSIA ZIARAH KA GALUH.
> HN*R3M
>
> 2010/12/20 Aschev Schuraschev 
> <[email protected]<http://mc/[email protected]>
> >
>
>
>
> [image: benderacirebon]
>
>
> “Macan Ali” adalah Bendera sekaligus lambang Kebesaran Keraton Cirebon,
> bentuknya berupa kaligrafi arab yang mengikuti bentuk piktogram stilasi dari
> “Macan Duduk”. Sering ditemukan di Lukisan Kaca seniman Cirebon, tulisan
> arabnya berbunyi: “thoyibah laa ila ha illallah”.
>
> Hubungannya dengan Sayidina Ali, berdasarkan cerita ringkasnya karena
> Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) keturunan ke 17 dari Sayidina Ali,
> ke 18 dari Rasulullah, karena di depan namanya memakai Sayid Syarif, nasab
> dari Husein.
>
> Di Keraton Pakungwati Cirebon (keraton awal) pernah dibentuk sepasukan
> khusus berjumlah 12 orang yang dapat berubah wujud menjadi macan.
> Keratonmemberikan “jubah & Bandrang (Kepala Tombak)” sebagai tanda. Kalau
> mau berubah dengan memakai jubah itu, pasukan ini tidak muncul sembarangan,
> hanya kalau Cirebon terancam bahaya saja.
>
> Tandanya Cirebon bahaya adalah apabila “Kantil” atau Kurung Batang di
> Astana Gn.Jati yang berlapis emas raib…terbang… atau bergoncang. Pasukan ini
> berlanjut diwariskan ke ahli warisnya sampai sekarang, konon pemunculannya
> hanya di bulan Mulud dan di tempat keramat yang ditunjuk. Sekarang sudah
> berkurang jumlahnya mungkin cuman 5 saja.
>
> Menurut cerita lain kalau bulan Mulud suka muncul di Petilasan Tapak Semar
> (arah barat hutan Astana Gunung Jati). Waktu ribut2 tahta di Keraton Kanoman
> dulu, muncul di sumur tujuh Jalatunda, menurut orang yang melihat bentuknya
> orang bergamis, berjalan agak merangkak lama kelamaan berkelebat jadi macan
> menghilang.
> Tiap anggota punya nama dan pangkat, diambil dari nama daerah
> masing2…misalnya “Ki Gedheng…..”
>
>
>
> Cerita yang lain, perihal pelacakan Pasukan Khusus Macan pengawal Kraton
> Cirebon, bernama Singha Barwang Djalalullah (kalau tidak salah ucap), yang
> konon kabarnya cuma tersisa 5 orang. Dari seorang kenalan banyak didapat
> informasi perihal pelacakan ini, termasuk ke sumber informasi yang secara
> moril masih berstatus sebagai seorang Adipati Kraton. Awalnya sumber yang
> tinggal di daerah utara Cirebon tersebut enggan mengutarakan, namun setelah
> mengenal lebih dalam mengenai pribadi tentang diri dan keluarga barulah
> beliau mau mengutarakan lebih lanjut.
>
>
> Tidak bisa diperkirakan berapa jumlah tepatnya pasukan macan ini yang
> tersisa, bisa 3, 5 atau 7 orang. Yang pasti di bawah dari 10 orang.
> Berkurangnya pasukan ini dikarenakan beberapa hal, pertama adalah tidak
> mempunyai keturunan karena pasukan ini bersifat turun temurun. Kedua yang
> bersangkutan meninggal dengan membawa pakaian simbol pasukan macan yang
> disebut “Kantong Macan”. Pernah satu kejadian seekor macan di kepung dan
> diburu masyarakat kampung yang tidak mengerti, macan yang diburu kabur
> menghindar, hingga terperosok di sebuah sumur tua. sewaktu dilihat ke sumur
> ternyata bukan seekor macan, melainkan seorang manusia yang terkapar. Pada
> saat hendak diangkat orang tersebut sirna.
>
>
> Pakaian yang bernama Kantong Macan ini sebesar ibu jari kaki, cara
> memakainya dengan memasukan kedua ibu jari tangan. Anehnya kantong macan
> tadi terus mengembang seperti elastis hingga masuk kedalam tubuh seperti
> pakaian. Ritual pemakaian harus hening dan sedikit penerangan. Tapi sayang
> tidak bisa didokumentasikan. Kekuatan spiritual dari pakaian ini tergantung
> si empunya, bisa 50:50 (antara manusia:siluman) atau 20:80 dan sebaliknya.
> Semakin tinggi tingkatannya semakin tinggi kodrati manusianya.
>
> Sejarah adanya pasukan ini bermula ketika Susuhunan Gunung Jati sebagai
> pendiri kratonan Cirebon, diberikan hadiah dari kakeknya yang penguasa
> Pajajaran (Prabu Siliwangi). Hadiah itu berupa sepasukan khusus Pajajaran
> yang terdiri atas 12 orang yang dapat beralih rupa sebagai macan.
> Sebagaimana pasukan pengamanan, metoda penggunaan Ring 1, 2 dst juga
> berlaku. Masing-masing ring terdiri atas 4 orang yang meliputi arah mata
> angin dengan titik pusatnya Kraton Pakungwati. Semakin dekat dengan pusat,
> semakin tinggi ilmunya. Istilah yang digunakan adalah KW (tidak tau apa
> maksudnya). Ada KW 1, KW 2 dst. Kabarnya satu KW pernah diberikan sultan
> Cirebon kepada Sultan Brunei, Hasanal Bolkiah karena memang masih ada
> hubungan trah.
>
>
> Dari semua pembicaraan, ternyata yang paling mengesankan adalah tentang
> beladiri yang dipakai Pasukan Khusus itu, yaitu Gerak Gulung Pajajaran.
> Ketika dikonfirmasi mengenai kesamaannya dengan Gerak Gulung Budi Daya yang
> di Bogor, beliau mengatakan memang masih satu rumpun.
>
> dijukut sing Kaskus… keswuwun, Kang!
>
> Sumber:
>
> http://blesak.wordpress.com/2009/01/28/macan-ali/
>
>
>
>

Kirim email ke