Sakeudap mang oca, naha timana hubungan turunan antawis putri kelantan srg 
raja2 sunda? Manawi keursa ngadudikeun ka sdayana

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, bayar teyusss.....

-----Original Message-----
From: "Roza R. Mintaredja" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 20 Dec 2010 14:13:04 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] Macan Ali

ANU AHENG , KUNAON KARATON PAKUNGWATI TARA DIGUAR SACARA JENTRE.
PADAHAL ETA KARATON CIREBON ANU PANGKOLOTNA, PANG MURNI NA.
NGARANNA LAIN KASULTANAN, SABAB UMUMNA MUN SULTAN, PRODUK KIWARI MAKE BAJU
ISLAM.
GERAK GULUNG PADJADAJRAN, SERA, ELUK PAKU CIMANNDE, GULUNG BUDIDAYA MUNGKIN
SARUMPUN
ELMU KOPASUSNA PASUKAN KARADJAAN PADJADJARAN.
BRUNEI, MALAYSIA HAMPIR SADAYANA TRAH TI TANAH SUNDA.
KAMARI UIN NGANTEUR PUTRI KELANTAN/MALAYSIA ZIARAH KA GALUH.
HN*R3M

2010/12/20 Aschev Schuraschev <[email protected]>

>
>
> [image: benderacirebon]
>
>
> “Macan Ali” adalah Bendera sekaligus lambang Kebesaran Keraton Cirebon,
> bentuknya berupa kaligrafi arab yang mengikuti bentuk piktogram stilasi dari
> “Macan Duduk”. Sering ditemukan di Lukisan Kaca seniman Cirebon, tulisan
> arabnya berbunyi: “thoyibah laa ila ha illallah”.
>
> Hubungannya dengan Sayidina Ali, berdasarkan cerita ringkasnya karena
> Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) keturunan ke 17 dari Sayidina Ali,
> ke 18 dari Rasulullah, karena di depan namanya memakai Sayid Syarif, nasab
> dari Husein.
>
> Di Keraton Pakungwati Cirebon (keraton awal) pernah dibentuk sepasukan
> khusus berjumlah 12 orang yang dapat berubah wujud menjadi macan.
> Keratonmemberikan “jubah & Bandrang (Kepala Tombak)” sebagai tanda. Kalau
> mau berubah dengan memakai jubah itu, pasukan ini tidak muncul sembarangan,
> hanya kalau Cirebon terancam bahaya saja.
>
> Tandanya Cirebon bahaya adalah apabila “Kantil” atau Kurung Batang di
> Astana Gn.Jati yang berlapis emas raib…terbang… atau bergoncang. Pasukan ini
> berlanjut diwariskan ke ahli warisnya sampai sekarang, konon pemunculannya
> hanya di bulan Mulud dan di tempat keramat yang ditunjuk. Sekarang sudah
> berkurang jumlahnya mungkin cuman 5 saja.
>
> Menurut cerita lain kalau bulan Mulud suka muncul di Petilasan Tapak Semar
> (arah barat hutan Astana Gunung Jati). Waktu ribut2 tahta di Keraton Kanoman
> dulu, muncul di sumur tujuh Jalatunda, menurut orang yang melihat bentuknya
> orang bergamis, berjalan agak merangkak lama kelamaan berkelebat jadi macan
> menghilang.
> Tiap anggota punya nama dan pangkat, diambil dari nama daerah
> masing2…misalnya “Ki Gedheng…..”
>
>
>
> Cerita yang lain, perihal pelacakan Pasukan Khusus Macan pengawal Kraton
> Cirebon, bernama Singha Barwang Djalalullah (kalau tidak salah ucap), yang
> konon kabarnya cuma tersisa 5 orang. Dari seorang kenalan banyak didapat
> informasi perihal pelacakan ini, termasuk ke sumber informasi yang secara
> moril masih berstatus sebagai seorang Adipati Kraton. Awalnya sumber yang
> tinggal di daerah utara Cirebon tersebut enggan mengutarakan, namun setelah
> mengenal lebih dalam mengenai pribadi tentang diri dan keluarga barulah
> beliau mau mengutarakan lebih lanjut.
>
>
> Tidak bisa diperkirakan berapa jumlah tepatnya pasukan macan ini yang
> tersisa, bisa 3, 5 atau 7 orang. Yang pasti di bawah dari 10 orang.
> Berkurangnya pasukan ini dikarenakan beberapa hal, pertama adalah tidak
> mempunyai keturunan karena pasukan ini bersifat turun temurun. Kedua yang
> bersangkutan meninggal dengan membawa pakaian simbol pasukan macan yang
> disebut “Kantong Macan”. Pernah satu kejadian seekor macan di kepung dan
> diburu masyarakat kampung yang tidak mengerti, macan yang diburu kabur
> menghindar, hingga terperosok di sebuah sumur tua. sewaktu dilihat ke sumur
> ternyata bukan seekor macan, melainkan seorang manusia yang terkapar. Pada
> saat hendak diangkat orang tersebut sirna.
>
>
> Pakaian yang bernama Kantong Macan ini sebesar ibu jari kaki, cara
> memakainya dengan memasukan kedua ibu jari tangan. Anehnya kantong macan
> tadi terus mengembang seperti elastis hingga masuk kedalam tubuh seperti
> pakaian. Ritual pemakaian harus hening dan sedikit penerangan. Tapi sayang
> tidak bisa didokumentasikan. Kekuatan spiritual dari pakaian ini tergantung
> si empunya, bisa 50:50 (antara manusia:siluman) atau 20:80 dan sebaliknya.
> Semakin tinggi tingkatannya semakin tinggi kodrati manusianya.
>
> Sejarah adanya pasukan ini bermula ketika Susuhunan Gunung Jati sebagai
> pendiri kratonan Cirebon, diberikan hadiah dari kakeknya yang penguasa
> Pajajaran (Prabu Siliwangi). Hadiah itu berupa sepasukan khusus Pajajaran
> yang terdiri atas 12 orang yang dapat beralih rupa sebagai macan.
> Sebagaimana pasukan pengamanan, metoda penggunaan Ring 1, 2 dst juga
> berlaku. Masing-masing ring terdiri atas 4 orang yang meliputi arah mata
> angin dengan titik pusatnya Kraton Pakungwati. Semakin dekat dengan pusat,
> semakin tinggi ilmunya. Istilah yang digunakan adalah KW (tidak tau apa
> maksudnya). Ada KW 1, KW 2 dst. Kabarnya satu KW pernah diberikan sultan
> Cirebon kepada Sultan Brunei, Hasanal Bolkiah karena memang masih ada
> hubungan trah.
>
>
> Dari semua pembicaraan, ternyata yang paling mengesankan adalah tentang
> beladiri yang dipakai Pasukan Khusus itu, yaitu Gerak Gulung Pajajaran.
> Ketika dikonfirmasi mengenai kesamaannya dengan Gerak Gulung Budi Daya yang
> di Bogor, beliau mengatakan memang masih satu rumpun.
>
> dijukut sing Kaskus… keswuwun, Kang!
>
> Sumber:
>
> http://blesak.wordpress.com/2009/01/28/macan-ali/
>
>
>  
>

Kirim email ke