Regenerasi Dalang Tersendat Senin, 27 Desember 2010 | 08:18 WIB BANDUNG, KOMPAS - Regenerasi dalang Sunda yang sangat tersendat harus dibangkitkan dari ruang-ruang sivitas akademika. Hal ini seiring dengan tuntutan zaman, saat dalang tak hanya membawakan kisah pewayangan, tetapi dituntut memaknainya di tengah situasi sosial terkini. Hal itu dikemukakan maestro dalang Sunda, RH Tjetjep Supriadi, akhir pekan lalu, terkait dengan pementasan Pidangan Seni Rumawat Padjadjaran berjudul ”Geunjleung Wayang, Salalakon Tilu Dalang” di Aula Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran Bandung. Dalam pergelaran Minggu (26/12), Tjetjep berkolaborasi dengan dua maestro dalang Sunda lain, Dede Amung Sutarya dan Asep Su- nandar Sunarya. ”Perubahan zaman saat ini menuntut dalang seorang yang berpendidikan, beda dengan dulu, saat masyarakat hanya terpukau dengan cerita-cerita yang dibawakan dalang. Dalang kini harus mampu menyelipkan sedikit arahan bagi pemirsa dalam menyikapi kondisi di berbagai bidang,” ungkap dalang yang tenar sejak medio 1960-an itu. Menurut Tjetjep, masyarakat semakin kritis. Tanpa pemaknaan terhadap lakon wayang, warisan budaya ini akan cepat ditinggalkan karena membosankan. Dalam pandangan dia, wayang yang termasuk media komunikasi sudah saatnya berperan di tengah masyarakat. Zaman dulu, wayang digunakan sebagai saluran syiar agama hingga propaganda politik yang efektif. Sebab, pesan yang disampaikan sang dalang disinergikan dengan jalan cerita tokoh pewayangan yang bagi sebagian masyarakat dianggap sakral. ”Dalam beberapa situasi, respons dunia pedalangan di Jawa Tengah dan Yogyakarta lebih cepat. Ini yang harus segera diadaptasi dunia wayang golek budaya Sunda,” tutur Tjetjep. Perhatian kurang Maestro dalang Sunda lain, Asep Sunandar Sunarya, membenarkan, pertunjukkan wayang kini kurang mendapat perhatian pemuda Jawa Barat. Tak hanya generasi muda, pemerintah juga dinilai kurang serius mengangkat lagi pamor wayang di masyarakat. ”Salah satu contohnya, sulit mengadakan pertunjukan wayang saat ini ketika dihadapkan dengan birokrasi yang rumit. Padahal, kontribusi seniman banyak sekali, apalagi salah satunya dapat dijadikan media menyampaikan aspirasi masyarakat,” ucap Asep. Menurut dia, selain menghibur masyarakat, dalang juga dapat berlaku sebagai penerang, pendakwah, dan pendidik. Untuk itu, dia sangat mengapresiasi Unpad yang berhasil menggelar per- tunjukan wayang dengan menyatukan tiga maestro dalang dari generasi berbeda. Sementara itu, Rektor Unpad Ganjar Kurnia menyatakan, pergelaran kali ini bukan hanya pertunjukan seni, melainkan juga peristiwa budaya. Sebab, ketiga dalang yang tampil telah menjadi ikon di masyarakat. ”Kami ingin memberi bukti bahwa perguruan tinggi sangat mendukung warisan kebudayaan lokal seperti wayang golek,” kata Ganjar. (GRE) http://cetak.kompas.com/read/2010/12/27/08182825/regenerasi.dalang.tersendat.
