Jelekong yang Terbengkalai Keniscayaan seni budaya merupakan aset yang dapat mengharumkan nama Indonesia, tak bisa dimungkiri lagi. Sebut saja "angklung". Alat musik ini telah diakui badan dunia UNESCO sebagai produk seni budaya. Meski awalnya kita baru memperjuangkan ketika negeri jiran mengklaim sebagai produk seni budaya milik bangsa Malasyia.
Meski sudah diakui, pemerintah masih juga abai terhadap sarana dan prasarana cikal bakal keberadaan angklung. Coba saja tengok ke Saung Angklung Udjo di Jln. Padasuka, Bandung. Sarana jalan masuk sempit sehingga jika ada turis asing berkunjung menggunakan bus, terjadi kemacetan. Ditambah lagi tempat parkir tak memadai. Kurangnya perhatian juga menimpa lahan dan bangunan yang akan digunakan sebagai padepokan wayang (golek). Coba tengok di Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Ada bangunan terbengkalai selama lima tahun. Adalah Asep Sunandar Sunarya, dalang kondang keturunan maestro dalang wayang golek Abah Sunarya, dia telah mewakafkan tanah seluas dua ribu meter persegi untuk dijadikan padepokan wayang itu. Tentu saja, dengan belum rampungnya pembangunan tempat itu, dia kecewa dan masygul. Sebab, impiannya belum juga terwujud. "Padahal, bangsa kita dikenal bukan lewat perang seperti Amerika atau teknologi, tetapi dari seni budaya. Tetapi, perhatian pemerintah sangat kurang," ujar Asep Sunardar Sunarya. Jika dihitung dengan materi, kata Asep, lahan seluas itu bisa dinilai dengan uang Rp 1 miliar. "Tetapi dengan kondisi terbengkalai seperti itu, akhirnya tak menghasilkan apa pun," kata Asep Sunandar Sunarya. ** Tiga bulan sebelum Gubernur Jawa Barat, H.R. Nuriana usai menjabat, kata Asep, "bunga mimpi" mulai terwujud. Ketika itu ada bantuan dana Rp 500 juta. Dana itu digunakan untuk nyaeur (menguruk) lahan yang awalnya sawah. Lalu mendirikan fondasi bangunan. "Bunga mimpi" memberi tanda-tanda akan menjadi "buah" ketika Gubernur Dani Setyawan memberi waragad untuk pendirian bangunan Rp 1, 5 miliar. Namun, mimpi mewujudkan padepokan itu akhirnya "layu". ""Butuh dana kurang leuwih Rp 3,5 miliar deui," kata Asep Sunandar Sunarya. Dana itu digunakan membangun sarana dan prasarana, seperti interior, tata ruang akustik yang kedap suara, gapura, dan benteng sekeliling padepokan. Menurut Asep, penggarapan bangunan dilakukan Tata Ruang dan Pemukiman (Tarkim) Provinsi Jawa Barat. Dirinya hanya pemberi lahan dan fasilitator dana. Jika padepokan wayang terwujud, Asep Sunandar Sunarya berangan-angan melahirkan dalang-dalang muda yang meneruskan warisan budaya wayang. Kelak, padepokan itu ibarat kawah candradimuka. Selain ilmu pedalangan, juga ilmu lain untuk mendukung para calon dalang dari generasi penerus. "Dalang juga harus dibekali ilmu, di antaranya agama hingga perlu didatangkan kiai untuk membekali para calon dalang," kata Asep. Bagaimanapun, sejarah keberadaan wayang, kata Asep, merupakan alat dakwah menyebarkan agama Islam. "Saat ini, lebih berkembang lagi sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi masyarakat dan program pemerintah," kata Asep Sunandar Sunarya. ** Asep Sunandar Sunarya merupakan aset bangsa yang telah diakui karena kepiawaiannya sebagai dalang wayang golek. Pengakuan ini bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga dari mancanegara. Sebagai bukti, dia memperoleh gelar "profesor" dari perguruan tinggi di Prancis. "Kuring teh da moal jagjag wae," kata Asep Sunandar Sunarya. Kalimat ini menyiratkan salah satu alasan lain mengapa dia ingin mewujudkan padepokan wayang. Asep ingin ngetrukkeun (menumpahkan) segala ilmu yang dimilikinya di tempat yang merenah dan genah sebelum dirinya sakit atau tiada. Kelak, dengan adanya padepokan wayang, yang ingin menyaksikan pertunjukan wayang akan datang ke Jelekong. Seperti pada kesenian angklung yang tinggal datang ke Saung Angklung Mang Udjo di Padasuka. Selain itu, juga sebagai tempat studi banding atau penelitian seluk-beluk wayang golek. Impian dalang kondang ini tak terbatas pada seni wayang semata, tetapi juga ingin ngagupay seni-seni yang sudah dilupakan. Seperti reog, dodog lojor, wayang catur, juga seni ibing pencak silat yang sudah dilupakan. Hingga kesenian-kesenian itu hidup kembali sebagai aset yang dapat mengharumkan nama Indonesia. Bahkan ke depan, kata Asep Sunandar Sunarya, dirinya memimpikan Jelekong akan menjelma menjadi desa wisata. Benih-benih ke arah itu bukan sekadar mimpi di siang bolong. Selain nama Jelekong keberadaannya telah dikenal sebagai tempat bermukimnya dalang kondang wayang golek yang dapat dijadikan sebagai objek tujuan wisata. Selain telah dikenal desa wayang golek, pembuatan wayang wayang golek pun tumbuh di sini. Begitu pula seni lukis tradisional yang disebut lukisan jelekong. Jika di Bali ada Ubud sebagai sentra kesenian, di Jawa Barat Jelekong dengan kampung Giriharja, bukan tak mungkin menjelma menjadi sentra kesenian khas Jawa Barat. (Ahmad Yusuf/"PR") *** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=170433
