Menjadi Barometer Budaya Sunda Padepokan seperti raga bagi hidupnya kesenian. Tanpa padepokan, pertunjukan seni akan stagnan. Atau seni yang ditampilkan tak akan berkembang sesuai tuntutan zaman. Sebab di padepokan, selain menggodok benih-benih pelaku seni, juga tempat mengembangkan seni itu sendiri. Namun sayang, padepokan sebagai tempat pemusatan latihan kurang diperhatikan keberadaannya. Terutama oleh pihak pemerintah daerah ataupun pusat.
"Padepokan seni harus menjadi perhatian khusus, terutama dari pemerintah daerah," kata almarhum Hidayat Suryalaga, budayawan Sunda yang ditemui "PR" dua minggu sebelum meninggal dunia. Hidayat mengemukakan pendapatnya seputar terbengkalainya pembangunan Padepokan Wayang di Jelekong, Ciparay, Kabupaten Bandung. Saat ini, menurut dia, degradasi moral pada generasi muda, harus diimbangi peningkatan kualitas budaya bangsa. "Wayang bisa sebagai sarana dakwah," ujar Kang Hidayat menjelaskan. Budayawan Sunda itu memberi contoh, banyak pergelaran wayang melalui media visual seperti televisi yang menampilkan dalang-dalang muda. Namun hanya menampilkan bobodoran pada satu tokoh wayang. "Celakanya, tokoh wayang yang ditampilkan bahasa yang digunakannya Sunda kasar," kata Hidayat Suryalaga seraya menunjuk tokoh Si Cepot. Sebagai dampaknya, penggunaan bahasa kasar sering diikuti penontonnya terutama penonton anak-anak sehingga terkesan pertunjukan wayang menjadi negatif. "Para dalang muda harus menampilkan konsep baru. Lewat padepokanlah konsep baru bisa lahir," katanya. Wayang sebagai barang mati, menurut Kang Hidayat, harus digunakan untuk meningkatkan karakter bangsa. "Ini harus dibarengi dengan melahirkan dalang-dalang mumpuni melalui pendidikan pewayangan di padepokan," ujar Kang Hidayat. Bagaimanapun juga, dulu kehadiran dalang Asep Sunandar Sunarya merupakan pembaru dalam pertunjukan wayang golek. Apabila Asep Sunandar Sunarya kini mendirikan padepokan wayang, dan bertindak sebagai begawan tak mustahil akan melahirkan dalang-dalang muda berkarakter. Ditambahkan Kang Hidayat, masyarakat Sunda, termasuk kaum terpelajar atau elitenya, hanya sebagian yang mengetahui karakter tokoh-tokoh wayang. Paling banter menyebut tokoh yang sering tampil, seperti Si Cepot, Semar, dan Gatot Kaca. "Sementara karakter dan keunggulan tokoh-tokoh lain, seperti Karna, Baladewa, atau Bisma jarang ada yang tahu," katanya. Saat ini, bijokramana dalang keberadaannya kurang optimal. "Sehingga keberadaan padepokan wayang yang didirikan Asep Sunandar harus didukung semua pihak," katanya. ** Hal senada diungkapkan H. Asep Anwar, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bandung. "Padepokan wayang Asep Sunandar harus didukung pemerintah Jawa Barat dan Kabupaten Bandung," katanya. Dengan kehadiran padepokan wayang, menurut Asep, secara otomatis keberadaan Kabupaten Bandung akan terangkat. Selain itu bisa mendatangkan pemasukan bagi pendapatan asli daerah (PAD) ketika para turis domestik dan asing berkunjung. "Apalagi akses jalan ke padepokan dengan mudah dapat dijangkau melalui tol," katanya. "Selain itu, masyarakat di sekitar padepokan wayang akan kecipratan rezeki. Kesejahteraan masyarakat akan lebih meningkat," kata Asep. Yus Wiradireja, dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Jln. Buahbatu Bandung, menyoroti dana yang telah dikeluarkan. "Jika dibiarkan terbengkalai akan mubazir. Apalagi dana yang digunakan dari masyarakat melalui APBD ," kata Yus. Keberadaan padepokan wayang jika dikelola serius, tidak menutup kemungkinan akan melahirkan pusat kebudayaan di Bandung selatan. "Apalagi dengan perencanaan dan konsep matang dari akademisi dan pihak terkait lain," katanya. Keberadaan padepokan wayang jika sudah berdiri harus bersinergi dengan elemen masyarakat. "Sehingga dari padepokan itu lahir seni budaya Sunda yang bisa menjadi barometer," kata Yus yang kini sedang mengambil program Doktor di Universitas Padjadjaran ini. (Ahmad Yusuf/"PR")*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=170432
