Anu teu acan kadaftar:
Endri Rachman, urang Sunda kalahiran Bandung, ahli teknik penerbangan lulusan 
Jerman. Ayeuna anjeunna janten dosen sareng peneliti di University Sains 
Malaysia. Anjeunna tos seueur ngengingkeun penghargaan dina widangna.
Aya oge doktor bioteknologi lulusan Vanderbilt University, Nashville, 
Tennessee, USA, anu janten dosen di MIT, USA, mung hilap deui jenenganana, 
ma'lum tos 13 taun teu komunikasi sareng anjeunna. Asana mah jenenganana teh 
Asep (mudah-mudahan teu lepat). Namung anjeunna teu patos nyunda harita teh, da 
nyariosna elu gua-elu gua wae.
Hatur nuhun,Aschev Schuraschev


--- On Wed, 1/5/11, oman abdurahman <[email protected]> wrote:

From: oman abdurahman <[email protected]>
Subject: [kisunda] Fwd: [ICAS-JKT] FW: BERLIAN BERSERAK DI SEANTORO DUNIA
To: [email protected]
Date: Wednesday, January 5, 2011, 3:32 AM















 
 



  


    
      
      
      Punten teu ditarjamahkeun kana basa Sunda. Aya kitu diantara peneliti & 
dosen jempolan urang Indonesia di LN ieu anu asalna ti Sunda atawa urang Sunda? 
Atawa aya anu teu acan kadaftar? Mangga, ka anu terang,  ditamabahan wae.


manar

---------- Forwarded message ----------
From: joni sujono sujono <[email protected]>

Date: 2011/1/5
Subject: [ICAS-JKT] FW: BERLIAN BERSERAK DI SEANTORO DUNIA
To: ICAS JAKARTA <[email protected]>

















 



  


    
      
      
      ----- Pesan Diteruskan ----

Dari: Ms Kucing <[email protected]>
Kepada: [email protected]

Terkirim: Rab, 5 Januari, 2011 15:21:43
Judul: Fwd: FW: BERLIAN BERSERAK DI SEANTORO DUNIA






 
TUNAS-TUNAS BANGSA BERSERAK DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA

DEPRESI malah berbuah dua gelar doktor. Ketika posisinya sebagai direktur riset 
di Center for Advanced
 Research of Biomedical Engineering, Toin University, Jepang, dicopot pada 
1998, Ken Kawan Soetanto sempat tersuruk dalam depresi.

"Berpikir keras sedikit saja langsung muntah-muntah," kata Ken Soetanto, 59 
tahun, dua pekan lalu.
 Padahal Kenlah yang merintis dan membesarkan lembaga riset itu. Pulang kampung 
ke Surabaya, kota kelahirannya, membuat Ken hidup kembali. Ketika dia merasa 
terbuang, warga kota itu justru menyambutnya bak pahlawan.

Dia laris diundang ke pelbagai seminar sebagai sumber inspirasi. Setiap kali 
dia menjadi pembicara,
 kursi peserta tak pernah ada yang melompong. Sambutan warga Surabaya itu 
melecut kembali semangat hidup Ken. "Saya terpacu untuk membuktikan diri," kata 
Ken. Pada saat memulihkan diri dari depresi itulah, Ken malah kembali memburu 
gelar doktor.

Dua gelar doktor, yakni doktor farmasi dari Science University of Tokyo pada 
2000 dan doktor pendidikan
 dari Waseda University tiga tahun kemudian, menambah panjang deretan gelar di 
depan namanya. Padahal sebelumnya Ken sudah menyandang dua gelar doktor dari 
dua kampus elite di Jepang, yakni doktor aplikasi rekayasa elektronika dari 
Tokyo Institute of Technology
 pada 1985 dan doktor ilmu kedokteran dari Tohoku University. 
Sempat menjadi pengangguran selama beberapa tahun, Ken diangkat menjadi guru 
besar di Waseda University
 pada 2003. Bahkan dia menjadi dekan divisi hubungan internasional di 
almamaternya itu. Metode pendidikannya, Soetanto Effect, diadopsi oleh 
kampus-kampus di Jepang.

Semua itu didapat Ken dengan berdarah-darah. Kendati sudah mengantongi dua 
gelar doktor pada akhir
 1980-an, tak berarti karpet merah sudah terbentang di depan mata. Ken sempat 
ditolak menjadi dosen di Jepang. "Padahal gelar doktor saya dari Tokyo 
Institute of Technology, MIT (kampus teknik terbaik di dunia)-nya Jepang. Semua 
itu hanya karena saya orang
 Asia," ujar Ken. Bukan dosen elektronika atau kedokteran sesuai dengan gelar 
doktornya yang disodorkan, Ken malah diminta mengajar bahasa Indonesia. Terang 
saja tawaran itu dia tolak.

Sempat putus asa tak kunjung mendapat kerja di Jepang, Ken mencari kerja ke 
Amerika Serikat. Selama
 lima tahun, Ken menjadi profesor di Drexel University dan Thomas Jefferson 
Medical School. Baru pada 1993, Ken kembali ke Jepang karena mendapat tawaran 
menjadi dosen di Toin University.

Memegang paspor hijau di tangan memang acap perlu usaha ekstra untuk menembus 
pekerjaan di perguruan
 tinggi atau lembaga riset di luar negeri. "Butuh usaha panjang untuk 
membuktikan bahwa orang Indonesia juga mampu dan pandai," kata Andreas Raharso, 
Kepala Riset Global Hay Group, perusahaan konsultan manajemen yang berkantor 
pusat di Philadelphia, Amerika
 Serikat. 
Dalam peta ilmu pengetahuan dunia, Indonesia barangkali hanya noktah kecil yang 
tak masuk hitungan.
 Kampus top di negeri ini, seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi 
Bandung, atau Universitas Gadjah Mada, tak satu pun masuk daftar 200 kampus 
terbaik dunia versi Times Higher Education ataupun pemeringkatan Shanghai Jiao 
Tong University.

Peringkat kampus terbaik di Indonesia masih kalah dibanding perguruan tinggi 
negeri jiran seperti
 Chulalongkorn University, Thailand, atau Malaya University, Malaysia. Apalagi 
jika disandingkan dengan dua kampus terbaik di Singapura, National University 
of Singapore dan Nanyang Technological University. Kedua kampus ini selalu 
berada di peringkat atas
 perguruan tinggi terbaik di dunia. 
Bukan berarti negeri ini benar-benar paria dan begitu miskin bakat hebat 
seperti Ken
 Soetanto ataupun Andreas Raharso. Selain yang bekerja di dalam negeri, jumlah 
ilmuwan Indonesia yang berserak di luar negeri tak sedikit. Saat ini ada 
sekitar 2.000 ilmuwan asal negeri ini yang bekerja di kampus atau lembaga riset 
di pelbagai negara. Mereka
 bagaikan berlian yang berserak. Dari Arab Saudi hingga Rusia. Di Amerika 
Serikat saja ada 321 ilmuwan dari negeri ini. Sebagian dari mereka yang 
terhimpun dalam Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional berkumpul di Jakarta 
selama tiga hari, pertengahan bulan
 lalu. 
Mereka tak bekerja di lembaga riset atau kampus ecek-ecek. Josaphat Tetuko Sri 
Sumantyo, misalnya,
 usianya baru 34 tahun ketika diangkat menjadi profesor dan kemudian mengepalai 
Laboratorium Pengindraan Jarak Jauh di Chiba University, Jepang. Padahal, 
seperti pengalaman Ken Soetanto, kampus di Negeri Matahari Terbit sangat sulit 
menerima dosen dari luar
 negeri. Karyanya berderet, di antaranya sensor circularly polarized synthetic 
aperture radar. Sensor Tetuko ini mengatasi kelemahan sensor observasi bumi 
generasi lama, mampu menembus awan, kabut, asap, bahkan kelebatan hutan.

Di bidang fisika ada Andrivo Rusydi, profesor di National University of 
Singapore; Ihsan Amin, peneliti
 di TU Dresden, Jerman; Profesor Romulus Godang di University of South Alabama, 
Amerika; dan Rahmat, fisikawan di University of Mississippi, Amerika. Juga 
Haryo Sumowidagdo, peneliti muda di Pusat Riset Nuklir Eropa. Sekarang Haryo 
menjadi anggota tim Compact
 Muon Solenoid. "Tugas kami mempelajari sifat-sifat partikel elementer hasil 
tumbukan energi tinggi di Large Hadron Collider," katanya. Dengan mempelajari 
bagaimana mereka terbentuk dan bereaksi, para ilmuwan dapat mempelajari 
bagaimana asal mula alam semesta.

Beberapa prestasi ilmuwan Indonesia dalam bidang kedokteran pun lumayan moncer. 
Taruna Ikrar, peneliti
 di Sekolah Kedokteran University of California, Irvine, berhasil mematenkan 
metode pemantauan aktivitas otak. "Saya di sini tak perlu rendah diri dibanding 
ilmuwan asli AS sekalipun," kata doktor dari Niigata University, Jepang, itu.

Bagi para ilmuwan asal Indonesia, lingkungan kampus ataupun lembaga riset di 
Amerika Serikat boleh
 jadi serupa dengan surga. Meski berasal dari Indonesia, Yow Pin Lim, peneliti 
di Sekolah Kedokteran Brown University kelahiran Cirebon, tak sekali pun pernah 
merasakan diskriminasi. Proposal penelitiannya mengenai protein inter-alpha 
inhibitor yang berpotensi
 menangani sepsis dan kanker sudah hampir tujuh tahun dibiayai lembaga riset 
kesehatan milik pemerintah Amerika (NIH). Dengan dana itulah Yow Pin Lim 
mendirikan perusahaan riset medis Pro Thera Biologics. "Kalaupun saya sekarang 
pulang ke Indonesia, mereka
 tidak akan menuntut uang itu kembali," ujar Yow. 
Tak semata fulus-paling tidak demikianlah pengakuan mereka-yang membuat jenius 
Indonesia beterbangan
 ke negeri orang. "Saya tidak hanya mencari uang," Priyambudi Sulistyanto, 
Koordinator Program Asian Governance di Flinders University, Australia, 
menjawab lugas. Pendapatan dosen atau peneliti di luar negeri memang lumayan 
menggiurkan. Taruna Ikrar mengaku
 mendapat gaji sekitar US$ 6.000 atau Rp 54 juta per bulan, plus fasilitas 
perumahan.

Kesempatan untuk riset menjadi salah satu daya tarik. Di Indonesia kesempatan 
riset ini menjadi persoalan
 klise di perguruan tinggi. Dana riset yang begitu cekak menjadi halangan yang 
tak kunjung terselesaikan. Dana riset Institut Teknologi Bandung pada 2009, 
misalnya, hanya Rp 65,5 miliar. Hanya seujung kuku dibanding anggaran riset 
Johns Hopkins University pada
 2007 yang menembus US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun. 
Belum lagi soal beban kewajiban mengajar. "Saya hanya mengajar sekali dalam 
satu semester," kata Andrea
 Peresthu, dosen di Departemen Urbanisme TU Delft, Belanda. Dia lebih banyak 
terlibat dalam penelitian masalah perkotaan di Amerika Latin dan Asia. Serupa 
dengan di Belanda, menurut Merlyna Lim, profesor di Sekolah Transformasi Sosial 
Arizona State University,
 Amerika, semakin produktif penelitian, beban mengajarnya jugaC semakin 
sedikit. 

"Tapi saya akan tetap mengajar karena saya memang suka mengajar," kata Merlyna. 
Kebetulan pula, lulusan
 teknik arsitektur ITB ini dosen favorit mahasiswa di kampusnya. Salah satu 
mahasiswanya menulis, "Smart as a whip, funny as hell, gorgeous and so helpful."

Dari Bahrain hingga Swedia

SUHENDRA


BAM, Jerman 
JOHNY SETIAWAN

Max-Planck-Institute for Astronomy, Jerman 
IHSAN AMIN

TU Dresden, Jerman 
HALIM KUSUMAATMAJA

Max Planck Institute of Colloids and Interfaces, Jerman 
YANUAR NUGROHO

University of Manchester, Inggris 
SARYANI ASMAYAWATI

Cranfield University, Inggris 
DESSY IRAWATI

Newcastle University, Inggris 
ARIEF GUSNANTO

Leed University, Inggris 
JULIANA SUTANTO

ETH Zurich, Swiss 
SUHARYO SUMOWIDAGDO

CERN, Swiss 
DARWIS KHUDORI


University of Le Havre, Prancis 
MUHAMAD REZA

ABB Corporate Research, Swedia 
YUDI PAWITAN

Karolinska Institutet, Swedia 
GEORGE ANWAR

University of California, Berkeley, AS 
TARUNA IKRAR

University of California, Irvine, AS 
YOW PIN-LIM

Brown University, AS 
MERLYNA LIM

Arizona State University, AS 
OKI GUNAWAN

IBM Lab, AS 
IWAN JAYA AZIZ

Cornell University, AS 
ANAK AGUNG JULIUS

Rensselaer Polytechnic Institute, AS 
MUHAMMAD ALI

University of California, Riverside, AS 
TAUFIK

California Polytechnic State University, AS 
NELSON TANSU

Lehigh University, AS 
YANTO CHANDRA

University of Amsterdam, Belanda 
ANDREA PERESTHU

TU Delft, Belanda 
OKI MURAZA

King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi 
YOGI A. ERLANGGA

Al-Faisal University, Arab Saudi 
UGI SUHARTO

University College of Bahrain, Bahrain 
HENNY SAPTATIA SUJAI

St Petersburg State University, Rusia 
MEDY SATRIA

GE Global Research, Bangalore, India 
YOHANES EKO RIYANTO

Nanyang Technological University, Singapura 
JOHANNES WIDODO

National University of Singapore, Singapura 
ANTON SATRIA PRABUWONO

Universiti Kebangsaan Malaysia 
IRWANDI JASWIR

International Islamic University, Malaysia 
KEN KAWAN SOETANTO

Waseda University, Jepang 
KHOIRUL ANWAR

Japan Advanced Institute of Science and Technology, Jepang 
VERONICA SUBARTO

Adelaide University, Australia 
PRIYAMBUDI SULISTYANTO

Flinders University, Australia 
MULYOTO PANGESTU

Monash University, Australia

 




"This e-mail (including any attachments) is intended solely for the addressee 
and could contain information that is confidential; If you are not the intended 
recipient, you are hereby notified that any use, disclosure,
 copying or dissemination of this e-mail and any attachment is strictly 
prohibited and you should immediately delete it. This message does not 
necessarily reflect the views of Bank Indonesia. Although this e-mail has been 
checked for computer viruses, Bank
 Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus and any 
malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient should 
check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a result of e-mail 
transmission through Internet.”












    
     

    
    






  










    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke