Punten teu ditarjamahkeun kana basa Sunda. Aya kitu diantara peneliti &
dosen jempolan urang Indonesia di LN ieu anu asalna ti Sunda atawa urang
Sunda? Atawa aya anu teu acan kadaftar? Mangga, ka anu terang,  ditamabahan
wae.

manar

---------- Forwarded message ----------
From: joni sujono sujono <[email protected]>
Date: 2011/1/5
Subject: [ICAS-JKT] FW: BERLIAN BERSERAK DI SEANTORO DUNIA
To: ICAS JAKARTA <[email protected]>




----- Pesan Diteruskan ----
*Dari:* Ms Kucing <[email protected]>
*Kepada:* [email protected]
*Terkirim:* Rab, 5 Januari, 2011 15:21:43
*Judul:* Fwd: FW: BERLIAN BERSERAK DI SEANTORO DUNIA



*TUNAS-TUNAS BANGSA BERSERAK DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA *

DEPRESI malah berbuah dua gelar doktor. Ketika posisinya sebagai direktur
riset di Center for Advanced Research of Biomedical Engineering, Toin
University, Jepang, dicopot pada 1998, Ken Kawan Soetanto sempat tersuruk
dalam depresi.

"Berpikir keras sedikit saja langsung muntah-muntah," kata Ken Soetanto, 59
tahun, dua pekan lalu. Padahal Kenlah yang merintis dan membesarkan lembaga
riset itu. Pulang kampung ke Surabaya, kota kelahirannya, membuat Ken hidup
kembali. Ketika dia merasa terbuang, warga kota itu justru menyambutnya bak
pahlawan.

Dia laris diundang ke pelbagai seminar sebagai sumber inspirasi. Setiap kali
dia menjadi pembicara, kursi peserta tak pernah ada yang melompong. Sambutan
warga Surabaya itu melecut kembali semangat hidup Ken. "Saya terpacu untuk
membuktikan diri," kata Ken. Pada saat memulihkan diri dari depresi itulah,
Ken malah kembali memburu gelar doktor.

Dua gelar doktor, yakni doktor farmasi dari Science University of Tokyo pada
2000 dan doktor pendidikan dari Waseda University tiga tahun kemudian,
menambah panjang deretan gelar di depan namanya. Padahal sebelumnya Ken
sudah menyandang dua gelar doktor dari dua kampus elite di Jepang, yakni
doktor aplikasi rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of Technology pada
1985 dan doktor ilmu kedokteran dari Tohoku University.

Sempat menjadi pengangguran selama beberapa tahun, Ken diangkat menjadi guru
besar di Waseda University pada 2003. Bahkan dia menjadi dekan divisi
hubungan internasional di almamaternya itu. Metode pendidikannya, Soetanto
Effect, diadopsi oleh kampus-kampus di Jepang.

Semua itu didapat Ken dengan berdarah-darah. Kendati sudah mengantongi dua
gelar doktor pada akhir 1980-an, tak berarti karpet merah sudah terbentang
di depan mata. Ken sempat ditolak menjadi dosen di Jepang. "Padahal gelar
doktor saya dari Tokyo Institute of Technology, MIT (kampus teknik terbaik
di dunia)-nya Jepang. Semua itu hanya karena saya orang Asia," ujar Ken.
Bukan dosen elektronika atau kedokteran sesuai dengan gelar doktornya yang
disodorkan, Ken malah diminta mengajar bahasa Indonesia. Terang saja tawaran
itu dia tolak.

Sempat putus asa tak kunjung mendapat kerja di Jepang, Ken mencari kerja ke
Amerika Serikat. Selama lima tahun, Ken menjadi profesor di Drexel
University dan Thomas Jefferson Medical School. Baru pada 1993, Ken kembali
ke Jepang karena mendapat tawaran menjadi dosen di Toin University.

Memegang paspor hijau di tangan memang acap perlu usaha ekstra untuk
menembus pekerjaan di perguruan tinggi atau lembaga riset di luar negeri.
"Butuh usaha panjang untuk membuktikan bahwa orang Indonesia juga mampu dan
pandai," kata Andreas Raharso, Kepala Riset Global Hay Group, perusahaan
konsultan manajemen yang berkantor pusat di Philadelphia, Amerika Serikat.

Dalam peta ilmu pengetahuan dunia, Indonesia barangkali hanya noktah kecil
yang tak masuk hitungan. Kampus top di negeri ini, seperti Universitas
Indonesia, Institut Teknologi Bandung, atau Universitas Gadjah Mada, tak
satu pun masuk daftar 200 kampus terbaik dunia versi Times Higher Education
ataupun pemeringkatan Shanghai Jiao Tong University.

Peringkat kampus terbaik di Indonesia masih kalah dibanding perguruan tinggi
negeri jiran seperti Chulalongkorn University, Thailand, atau Malaya
University, Malaysia. Apalagi jika disandingkan dengan dua kampus terbaik di
Singapura, National University of Singapore dan Nanyang Technological
University. Kedua kampus ini selalu berada di peringkat atas perguruan
tinggi terbaik di dunia.

Bukan berarti negeri ini benar-benar paria dan begitu miskin bakat hebat
seperti Ken Soetanto ataupun Andreas Raharso. Selain yang bekerja di dalam
negeri, jumlah ilmuwan Indonesia yang berserak di luar negeri tak sedikit.
Saat ini ada sekitar 2.000 ilmuwan asal negeri ini yang bekerja di kampus
atau lembaga riset di pelbagai negara. Mereka bagaikan berlian yang
berserak. Dari Arab Saudi hingga Rusia. Di Amerika Serikat saja ada 321
ilmuwan dari negeri ini. Sebagian dari mereka yang terhimpun dalam Ikatan
Ilmuwan Indonesia Internasional berkumpul di Jakarta selama tiga hari,
pertengahan bulan lalu.

Mereka tak bekerja di lembaga riset atau kampus ecek-ecek. Josaphat Tetuko
Sri Sumantyo, misalnya, usianya baru 34 tahun ketika diangkat menjadi
profesor dan kemudian mengepalai Laboratorium Pengindraan Jarak Jauh di
Chiba University, Jepang. Padahal, seperti pengalaman Ken Soetanto, kampus
di Negeri Matahari Terbit sangat sulit menerima dosen dari luar negeri.
Karyanya berderet, di antaranya sensor circularly polarized synthetic
aperture radar. Sensor Tetuko ini mengatasi kelemahan sensor observasi bumi
generasi lama, mampu menembus awan, kabut, asap, bahkan kelebatan hutan.

Di bidang fisika ada Andrivo Rusydi, profesor di National University of
Singapore; Ihsan Amin, peneliti di TU Dresden, Jerman; Profesor Romulus
Godang di University of South Alabama, Amerika; dan Rahmat, fisikawan di
University of Mississippi, Amerika. Juga Haryo Sumowidagdo, peneliti muda di
Pusat Riset Nuklir Eropa. Sekarang Haryo menjadi anggota tim Compact Muon
Solenoid. "Tugas kami mempelajari sifat-sifat partikel elementer hasil
tumbukan energi tinggi di Large Hadron Collider," katanya. Dengan
mempelajari bagaimana mereka terbentuk dan bereaksi, para ilmuwan dapat
mempelajari bagaimana asal mula alam semesta.

Beberapa prestasi ilmuwan Indonesia dalam bidang kedokteran pun lumayan
moncer. Taruna Ikrar, peneliti di Sekolah Kedokteran University of
California, Irvine, berhasil mematenkan metode pemantauan aktivitas otak.
"Saya di sini tak perlu rendah diri dibanding ilmuwan asli AS sekalipun,"
kata doktor dari Niigata University, Jepang, itu.

Bagi para ilmuwan asal Indonesia, lingkungan kampus ataupun lembaga riset di
Amerika Serikat boleh jadi serupa dengan surga. Meski berasal dari
Indonesia, Yow Pin Lim, peneliti di Sekolah Kedokteran Brown University
kelahiran Cirebon, tak sekali pun pernah merasakan diskriminasi. Proposal
penelitiannya mengenai protein inter-alpha inhibitor yang berpotensi
menangani sepsis dan kanker sudah hampir tujuh tahun dibiayai lembaga riset
kesehatan milik pemerintah Amerika (NIH). Dengan dana itulah Yow Pin Lim
mendirikan perusahaan riset medis Pro Thera Biologics. "Kalaupun saya
sekarang pulang ke Indonesia, mereka tidak akan menuntut uang itu kembali,"
ujar Yow.

Tak semata fulus-paling tidak demikianlah pengakuan mereka-yang membuat
jenius Indonesia beterbangan ke negeri orang. "Saya tidak hanya mencari
uang," Priyambudi Sulistyanto, Koordinator Program Asian Governance di
Flinders University, Australia, menjawab lugas. Pendapatan dosen atau
peneliti di luar negeri memang lumayan menggiurkan. Taruna Ikrar mengaku
mendapat gaji sekitar US$ 6.000 atau Rp 54 juta per bulan, plus fasilitas
perumahan.

Kesempatan untuk riset menjadi salah satu daya tarik. Di Indonesia
kesempatan riset ini menjadi persoalan klise di perguruan tinggi. Dana riset
yang begitu cekak menjadi halangan yang tak kunjung terselesaikan. Dana
riset Institut Teknologi Bandung pada 2009, misalnya, hanya Rp 65,5 miliar.
Hanya seujung kuku dibanding anggaran riset Johns Hopkins University pada
2007 yang menembus US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun.

Belum lagi soal beban kewajiban mengajar. "Saya hanya mengajar sekali dalam
satu semester," kata Andrea Peresthu, dosen di Departemen Urbanisme TU
Delft, Belanda. Dia lebih banyak terlibat dalam penelitian masalah perkotaan
di Amerika Latin dan Asia. Serupa dengan di Belanda, menurut Merlyna Lim,
profesor di Sekolah Transformasi Sosial Arizona State University, Amerika,
semakin produktif penelitian, beban mengajarnya jugaC semakin sedikit.

"Tapi saya akan tetap mengajar karena saya memang suka mengajar," kata
Merlyna. Kebetulan pula, lulusan teknik arsitektur ITB ini dosen favorit
mahasiswa di kampusnya. Salah satu mahasiswanya menulis, "Smart as a whip,
funny as hell, gorgeous and so helpful."

*Dari Bahrain hingga Swedia*

*SUHENDRA *
BAM, Jerman

*JOHNY SETIAWAN*
Max-Planck-Institute for Astronomy, Jerman

*IHSAN AMIN*
TU Dresden, Jerman

*HALIM KUSUMAATMAJA*
Max Planck Institute of Colloids and Interfaces, Jerman

*YANUAR NUGROHO*
University of Manchester, Inggris

*SARYANI ASMAYAWATI*
Cranfield University, Inggris

*DESSY IRAWATI*
Newcastle University, Inggris

*ARIEF GUSNANTO*
Leed University, Inggris

*JULIANA SUTANTO*
ETH Zurich, Swiss

*SUHARYO SUMOWIDAGDO*
CERN, Swiss

*DARWIS KHUDORI *
University of Le Havre, Prancis

*MUHAMAD REZA*
ABB Corporate Research, Swedia

*YUDI PAWITAN*
Karolinska Institutet, Swedia

*GEORGE ANWAR*
University of California, Berkeley, AS

*TARUNA IKRAR*
University of California, Irvine, AS

*YOW PIN-LIM*
Brown University, AS

*MERLYNA LIM*
Arizona State University, AS

*OKI GUNAWAN*
IBM Lab, AS

*IWAN JAYA AZIZ*
Cornell University, AS

*ANAK AGUNG JULIUS*
Rensselaer Polytechnic Institute, AS

*MUHAMMAD ALI*
University of California, Riverside, AS

*TAUFIK*
California Polytechnic State University, AS

*NELSON TANSU*
Lehigh University, AS

*YANTO CHANDRA*
University of Amsterdam, Belanda

*ANDREA PERESTHU*
TU Delft, Belanda

*OKI MURAZA*
King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi

*YOGI A. ERLANGGA*
Al-Faisal University, Arab Saudi

*UGI SUHARTO*
University College of Bahrain, Bahrain

*HENNY SAPTATIA SUJAI*
St Petersburg State University, Rusia

*MEDY SATRIA*
GE Global Research, Bangalore, India

*YOHANES EKO RIYANTO*
Nanyang Technological University, Singapura

*JOHANNES WIDODO*
National University of Singapore, Singapura

*ANTON SATRIA PRABUWONO*
Universiti Kebangsaan Malaysia

*IRWANDI JASWIR*
International Islamic University, Malaysia

*KEN KAWAN SOETANTO*
Waseda University, Jepang

*KHOIRUL ANWAR*
Japan Advanced Institute of Science and Technology, Jepang

*VERONICA SUBARTO*
Adelaide University, Australia

*PRIYAMBUDI SULISTYANTO*
Flinders University, Australia

*MULYOTO PANGESTU*
Monash University, Australia



------------------------------
"This e-mail (including any attachments) is intended solely for the
addressee and could contain information that is confidential; If you are not
the intended recipient, you are hereby notified that any use, disclosure,
copying or dissemination of this e-mail and any attachment is strictly
prohibited and you should immediately delete it. This message does not
necessarily reflect the views of Bank Indonesia. Although this e-mail has
been checked for computer viruses, Bank Indonesia accepts no liability for
any damage caused by any virus and any malicious code transmitted by this
e-mail. Therefore, the recipient should check again for the risk of viruses,
malicious codes, etc as a result of e-mail transmission through Internet.”


 

Kirim email ke