Neraskeun, punten manawi bade sami2 maca

 


http://www.endropedia.blogdetik.com/2010/11/24/untuk-adik-kelasku-gayus/

Untuk Adik Kelasku, Gayus - Catatan Harian Seorang Mafia Pajak

Minggu, 21 Nov 2010 11:49 WIB

Oleh: HERI PRABOWO*

ADA anekdot yang beredar saat reuni akbar Sekolah Tinggi Akuntansi 
Negara (STAN-Prodip) pada Oktober 2010. Yakni, anekdot tentang pemberian
award untuk sejumlah alumnus dengan berbagai kategori. Kategori 
tersukses jatuh kepada Hadi Pumomo, ketua BPK (Badan Pemeriksa 
Keuangan). Kategori karir tercepat diperuntukkan Haryono Umar, wakil 
ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Kategori terkontroversial 
jatuh kepada M. Misbakhun, anggota DPR, inisiator hak angket Bank 
Century yang akhirnya jadi tersangka kasus yang sama. Sedangkan kategori
terpopuler dipegang Gayus Tambunan. Dia menyingkirkan Helmi Yahya yang 
jadi selebriti top. Gayus bahkan lebih populer daripada bosnya, M 
Tjiptardjo. Dirjen Pajak yang juga alumnus STAN.

Memiliki sejumlah kesamaan dengan tokoh populer ternyata cukup 
menggelitik hati saya. Ada beberapa kesamaan saya dengan Gayus. 
Sama-sama alumnus STAN-Prodip yang lantas terjerembab mafia pajak dan 
berujung menghadapi proses hukum. Di usia yang sama, 30 tahun. Usia yang
seharusnya kila mulai untuk menapak puncak karir, tapi justru kami 
terperosok dalam.

Saya tidak seberuntung Gayus, yang masih kaya walau hartanya Rp I (X) 
miliar disita. Tapi, Gayus juga tidak seberuntung saya. Dia bersusah 
payah merintis karir di luar Jawa, sedangkan saya sejak awal ditempatkan
di kota besar (Surabaya).

Muda, berduit, dan berkuasa. Itulah gambaran untuk kami, para mafia 
pajak. Meski hanya pegawai rendahan, toh kami berperan besar atas urusan
pajak sejumlah perusahaan. Sebab, kami punya lobi. Bisa dibayangkan 
betapa kami sering memandang kecil sebuah masalah. Sembrono dan 
ugal-ugalan. Bahkan, saat kami telah ditahan, saya ikut mencicipi 
fasilitas lebih di tahanan. Walau tidak seeksklusif Tante Ayin (Artalyta
Suryani) dan kawan-kawan, fasilitas itu juga dinikmati pejabat tinggi, 
politisi, dan orang-orang kaya yang ditahan di sana. Saya berbangga. 
Saya bisa selevel dengan mereka. Kebanggaan yang semu di tengah hujan 
cercaan.

Tidak heran Gayus dengan enteng keluar masuk rutan. Toh, tahanan lain 
yang jabatannya jauh di atasnya melakukan hal serupa. Saya yakin bahwa 
Gayus pun bangga melakukannya. Padahal, dia bukan mereka. Uang boleh 
sama, lapi mereka cerdik, berpengalaman, dan punya network luas. Gayus 
boleh bernyanyi, tapi mereka sekejap tiarap, lalu tertawa lagi.

Dengan latar belakang keluarga kurang beruntung secara ekonomi dan 
broken home. Gayustelah berjuang untuk menjadi bernilai lebih. Tidak 
mudah bisa duduk jadi mahasiswa STAN. Tidak mudah juga bisa lulus. 
Sebab, berlaku sistem DO (dropout) yang ketat.

Kampus dipenuhi mahasiswa duri golongan menengah ke bawah. Kebanyakan di
antara mereka berasal dari desa-desa. Kesederhanaan selalu tampak. 
Jangan heran jika ada seorang asisten dosen berangkat ke kampus dengan 
naik sepeda mini yang juga cocok untuk anaknya. Kampus juga menjunjung 
tinggi nilai-nilai kejujuran dan religiusitas. Masjid-masjid tidak hanya
dipenuhi mahasiswa sejak azan Subuh berkumandang Tempat itu juga 
dimakmurkan oleh berbagai kegiatan agama. Mulai mengajar TPA (laman 
pendidikan Alquran) hingga diskusi keagamaan, semuanya dimotori 
mahasiswa STAN. Lalu, kenapa saya dan Gayus bisa lahir? Lalu, mengapa 
kami bisa jadi pencinta kemewahan?

Pengaruh dimulai saat bertemu dengan para senior yang telah bekerja. 
Bertemu dengan rekan kerja dan atasan saal bekerja. Dengan gambling, 
mereka gambarkan tempat basah dan tempat kering. Dengan nyata, mereka 
jadi orang kayabaru. Semua terjadi begitu terbuka dan aman-aman saja. 
Hanya segelintir yang bisa bertahan dengan idealisme masing-masing. 
Sisanya lagi “miskin” karena tidak memperoleh kesempatan.

Saat lulus STAN pada 2000, Gayus berjibaku di lahan kering Kalimantan. 
Setiap mudik ke Jakarta, dia dan rekan-rekan lain ngiler kala melihat 
teman-teman seangkatannya begitu makmur. Membeli mobil seperti membeli 
gorengan. Jakarta adalah surga para mafia pajak. Perusahaan besar walau 
berkantor di daerah harus melaporkan pajak ke Jakarta. Besarnya putaran 
uang berbanding lurus dengan gemuknya gurita korupsi.

Maka, saat bertugas di Jakarta, Gayus lidak menyia-nyiakan kesempatan. 
Gayus hanya mencontoh apa yang dilihat sehari-hari di kantornya. Dia 
“beruntung”. Puluhan miliar rupiah dia kumpulkan dalam sekejap. 
Keserakahan yang ada dalam diri manusia pada umumnya, tapi tidak 
manusiawi.

Gayus pasti juga mendengar gosip yang pernah saya dengar. Yakni, 
sejumlah pejabat pajak pernah diperiksa karena menerima aliran dana 
tidak wajar di rekening dan umumnya mereka aman-aman saja.

Maka, wajar Gayus percaya diri. Tapi, takdir bicara lain. Dia diadili 
lagi dengan tumpukan dakwaan. Seakan hanya dialah mafia pajak di negeri 
ini.

Pada masa genderang perang melawan korupsi ditabuh siapa pun, termasuk 
para mafia hukum dan koruptor, wajar tekanan media menghantam. Wajar 
olok-olokan sarkastis menghajar bukan hanya kami, tapi juga keluarga. 
Bahkan, anak-anak yang masih suci. Stres sehingga berujung linangan air 
mata.

Kejengkelan muncul saat para bos mafia-mafia besar, justru nyaris udak 
tersentuh hukum. Gayus lantas bermanuver, “bernyanyi”. Banyak pihak ikut
menabuh gendang untuk mengiringinya. Banyak pihak ikut bising 
mendengarnya.

Saat “nyanyian” tidak lagi merdu, Gayus bagai pion yang digerakkan untuk
menjepit raja para lawan. Gerakan pion hanyalah bagian kecil dari 
manuver untuk langkah utama, skakmat! Orang tidak peduli jika pion 
akhirnya tersungkur dari papan catur.

Gayus, adik kelasku! Hadapilah sidang dengan hati baja. Ketakutan adalah
hal wajar. Maka, berjalanlah hingga ujung papan catur. Ubah dirimu. 
Berhentilah jadi pion. Walaupun, tidak mungkin juga jadi raja. Bahkan, 
keadilan mungkin lidak berpihak kepadamu. Mungkin para raja, menteri, 
dan lainnya melenggang dengan tidak tersentuh hukum. Biarlah Tuhan yang 
menghukum mereka. Kelak ada hikmah dari semua masalah itu.

Apa yang terjadi kepadamu bukanlah cobaan Tuhan. Sebab, itu berawal dari
kesalahan kita Meskipun, kini engkau merasa jadi kambing hitam.

Jika saya boleh memberikan nasihat. ceritakanlah kepada dunia 
setelanjang mungkin. Mengapa terjerembab dalam mafia pajak. Bagaimana 
caranya, metodenya, siapa saja teman-temannya. Dengan demikian, hal 
tersebut jadi bahan pembelajaran bagi aparat hukum, adik-adik kelas kita
sealmamater, serta pegawai-pegawai pajak yang baru berkarir. Adakalanya
kita terpeleset karena kebegoan kita. Tapi, juga selalu ada kesempatan 
untuk kembali bangkit.(sumber: Indo Pos/RIMA)

__________________________________

*) Alumnus STAN 1996. penulis buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak

Sumber : Harian Jawa Pos, tgl. 21 Nopember 2010

[Non-text portions of this message have been removed]



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke