Kuring tutulisan jang milis kantor, yeuh  di alungkeun oge ka dieu. Saha 
nu nyaho para sepuh nu boga kanyaho ngeunaan munjung jeung wadal, bisa 
ngabagi kanyahona ka urang sarerea.

Hampura teu disundakeun.

=====================

Malam itu langit gelap karena memang lagi gelap bulan, malam awal bulan 
Suro. Langit gelap semakin gelap karena tertutup oleh awan hitam yang 
bergayut, penuh dengan air. Dan tak perlu menunggu lama, diawali dengan 
sebuah kilatan halilitar yang disertai guntur bergemuruh, hujan pun turun.

Dalam situasi yang sangat tidak menyamankan tersebut, tampak satu sosok 
manusia berjalan di pematang sawah. Seiring kelebat cahaya kilat, sosok 
itu  pun sekilas terlihat. Seorang laki-laki mengenakan caping dan 
memanggul cangkul. Rupanya Samijan, seorang buruh tani. Dia baru 
memeriksa sawah milik jurangan Karta orang terkaya di desa, dimana 
Samijan menjadi buruh taninya.

Pekerjaan petani memang terkadang tak ingat waktu. Disaat malam gelap 
dingin berhujan begini, kewajiban memelihara tanaman membuat petani 
harus menembus kegelapannya dan berkecipak dengan air, lumpur dan 
nyamuk. Tak heran, jaman sekarang ini tidak banyak orang yang mau jadi 
petani.

Ketika sampai di perbatasan antara sawah juragan Karta dengan sawah haji 
Sodik, sayup-sayup Samijan mendengar suara gemerincing, dan sepertinya 
suara itu mendekat. Samijan melihat dua titik terang menuju ke arahnya 
dari sebelah kanan. Dua titik cahaya itu semakin medekat disertai suara 
gemerincing dan derap kaki kuda. Rasa penasaran Samijan pun terjawab 
beberapa saat kemudian, ketika dihadapannya berhenti sebuah kereta kuda 
berpenumpang dua orang lelaki tinggi tegap. Penumpang kereta itu 
berpenampilan seperti punggawa kerajaan.

Kalau pada kondisi normal, Samijan harusnya mengalami dua keheranan. 
Pertama bagaimana mungkin di tengah sawah seperti itu bisa ada kereta 
kuda. Dan yang kedua, siapakah dua orang ini, dan mengapa berpenampilan 
seperti punggawa kerajaan, memang jaman sekarang masih ada kerajaan?

Namun entah kekuatan apa yang menguasainya, Samijan tidak bisa berpikir. 
Bahkan ketika salah satu dari punggawa kerajaan itu berkata padanya 
bahwa Samijan harus ikut mereka dan kemudian menarik tangannya dan 
menaikkannya ke kereta, Samijan hanya menurut saja. Hujan turun semakin 
deras.

Besoknya kampung Samijan gempar, karena Samijan ditemukan tergeletak di 
pematang sawah dan dalam keadaan sudah tidak bernafas lagi. Desas-desus 
mengatakan bahwa Samijan mati tidak wajar, dia telah menjadi tumbal. 
Desas-desus mengatakan lagi bahwa Juragan Karta telah menumbalkan 
Samijan kepada siluman tempat Juragan Karta meminta pesugihan....

(cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat 
maupun kejadian, itu hanyalah kebetulan belaka dan tanpa ada unsur 
kesengajaan. Demikian juga dengan kisah-kisah dibawahnya )

***
Mistik dan klenik memang tidak bisa lepas dari perikehidupan masyarakat 
Indonesia. Mulai dari mbah Jambrong penguasa mata air di lereng gunung, 
khodam keris, batu cincin, rumah hantu, santet, pelet, ngepet. Dan juga 
tidak ketinggalan, Pesugihan.

Menurut desas-desus, pengertian pesugihan adalah suatu proses memperoleh 
kekayaan dengan memanfaatkan jasa makhluk ghaib. Mahluk ghaib ini, kalau 
kata desas-desus, bisa siluman (siluman babi, monyet, ular, dsb), atau 
bisa juga tuyul. Karena mereka mahluk ghaib, maka fee mereka tidak 
dibayar dengan dolar atau rupiah. Upah terhadap jasa mereka dibayar 
dengan bermacam-macam hal, tergantung kontrak yang ditandatangani. Bisa 
dengan sesajian tertentu semisal kepala kerbau dibalur darah ayam hitam 
plus rokok putih (Mild atau Marlboro Menthol). Atau bisa juga dengan 
(maaf) menetek atau menggauli istrinya. Bahkan ada juga yang meminta 
nyawa manusia sebagai fee.

Tak heran kalau ada kecelakaan yang merenggut nyawa manusia pada sebuah 
proyek pembangunan sesuatu atau kecelakaan suatu armada transportasi, 
atau kecelakaan lain yang ada korban tewasnya, desas-desus mengatakan 
bahwa yang mati itu adalah tumbal pesugihan dari orang kaya pemilik 
proyek atau pemilik armada transportasi.

Kebenaran ucapan si desas-desus memang sukar dibuktikan, selain hal itu 
melibatkan mahluk ghaib (menurut si desas-desus), buat apa juga kita 
susah-susah menengusutnya. Toh menurut sudut pandang kita, itu adalah 
kecelakaan. Dan yang namanya kecelakaan, kalau ada yang meninggal, yaa.. 
namanya juga kecelakaan. Paling yang perlu diusut itu apa penyebab 
terjadinya kecelakaan tersebut. Dan kalau disitu ada unsur kelalaian, ya 
silahkan ditindak sesuai undang-undang. (halah.. kebanyakan terpapar 
radiasi Gayus nih, ngomongnya jadi serba undang-undang)

Namun demikian, sebenarnya Kekayaan dan Tumbal untuk kekayaan tidaklah 
selalu harus melibatkan mahluk ghaib.Di jaman sekarang ini, tidak 
sedikit Pesugihan yang nyata dan tidak memakai ghaib-ghaiban. 
Ngomong-ngomong, kalau ngomongin siluman monyet atau siluman anjing atau 
sejenisnya, suka jadi ingin bertanya, kalau siluman T-Rex sama Siluman 
Raptor ada nggak ya? hebat kan kalau ada, dia pasti jadi Raja Diraja dan 
Mahapatih para Siluman, ya nggak :).

Nah contoh tumbal yang bukan untuk siluman adalah dibakarnya kios-kios 
pasar tradisional, karena pada area itu akan dibangun pusat perbelanjaan 
modern. Atau penebangan kayu-kayu berharga di hutan Sumatra dan 
Kalimantan, kejadian-kejadian tersebut menimbulkan korban. Meski bukan 
korban jiwa tapi korban harta dan korban lingkungan. Tapi tunggu dulu, 
emang bener nggak ada korban jiwa?

Bagaimana dengan seekor gajah Sumatra yang mati dibunuh warga, karena 
gajah tersebut memakan tanaman para petani.Usut punya usut ternyata 
gajah tersebut turun gunung, karena hutan yang menjadi rumahnya kini 
telah gundul. Otomatis makanan gajah pun sulit ditemui di rumahnya 
sendiri, jadilah si gajah keluar dan memakan tanaman petani. Salah siapa 
coba?

Bagaimana dengan si Codet, yang tewas mengenaskan dalam kondisi hangus 
dibakar massa, gara-gara tertangkap ketika menjalankan aksinya mencopet 
di terminal. Usut-punya usut, si Codet yang nama aslinya Kartadi ini, 
dulu adalah seorang pedagang sayur-mayur di pasar tradisional. Namun 
ketika pasar itu dibakar, sumber matapencaharian Kartadi hilang. Sedang 
dia harus tetap menghidupi istri dan anak-anaknya. Kondisi sulit ini 
membuat Kartadi jadi pencopet, yang naasnya harus tewas dibakar massa. 
Salah siapa coba?

Tidakkah si Gajah dan si Codet bernasib sama seperti Samijan, jadi 
tumbal demi kekayaan yang diraup si Pembakar Pasar dan si Penggundul Hutan.

Bedanya, kalau Samijan jadi korban keganasan Siluman, sedang si Gajah 
dan Si Codet jadi korban keganasan sebuah Sistem keserakahan.

***
Rumah kosong yang lapuk itu mendadak ramai dikerumuni warga. Meski 
demikian tidak seorangpun yang boleh masuk, karena disekeliling rumah 
telah pasangi pita "Garis Polisi". Rumah kosong ini sekarang menjadi 
sebuah TKP dari kasus kematian akibat over dosis. Adapun yang tewas 
adalah Baim, seorang pemuda anak orang kaya namun pemakai narkoba.

Ibrahim alias Baim merupakan anak pengusaha suami istri Sugiharto, 
taipan yang mempunyai kerajaan bisnis yang tidak kecil di negeri ini. 
Perusahaan yang dia miliki mencapai ratusan, dan bergerak di berbagai 
bidang.

Teman Baim ketika dimintai keterangan oleh Polisi mengatakan, bahwa Baim 
sudah sejak lama mengalami depresi. Ditengah gelimang harta dan berbagai 
fasilitas super mewah, Baim tidak merasa bahagia. Dan sebagai pelarian, 
dia pun mengkonsumsi narkoba.

Menurut seorang psikolog, Baim itu kurang mendapatkan kasih sayang dan 
perhatian dari orang tuanya. Kesibukan orang tua membuat waktu untuk 
bersama antara orang tua dan anak sangat sedikit sekali. Dan memang, 
menurut teman Baim, belum tentu seminggu sekali Baim bisa bertemu dengan 
orang tuanya.

Desas-desus mengatakan, Baim menjadi tumbal ... tapi bukan diberikan ke 
Siluman melainkan tumbal kesibukan orang tuanya. Masa iya, pak Sugiharto 
yang lulusan sekolah Amrik masih pake pesugihan Siluman Kepinding :)

***

Juragan Karta, si Pembakar Pasar, si Penggundul Hutan, dan Sugiharto. 
Mereka orang-orang kaya. Mereka banyak harta. Namun mereka mengorbankan 
jiwa-jiwa sebagai tumbal kekayaannya.

Pesugihan dengan Siluman mungkin sulit dituduhkan dan dibuktikan. Namun 
pesugihan moderen, banyak sekali pelakunya. Dan tumbal-tumbal pun banyak 
berjatuhan.

Kalau Pesugihan Siluman, tumbalnya setahun sekali satu orang di malam 1 
suro (kata desas-desus). Tapi kalau Pesugihan modern tidak perlu 
menunggu setahun sekali, kapan saja bisa ada korban jiwa. Dan tidak 
cukup satu orang. Tumbal pesugihan moderen bisa satu keluarga, satu 
kampung, satu hutan, satu pasar. Kalau siluman Kepinding tidak meminta 
tumbal anak, pesugihan moderen tumbalnya tak kenal silsilah, bisa anak, 
ibu, ayah, saudara, rekan, dll.

Bagi kita orang Islam, maka pesugihan siluman itu jelas haram malahan 
termasuk syirik, karena meminta harta kepada selain Allah. Namun apakah 
kita benar-benar tidak melakukan pesugihan? Kalau jatuhnya korban 
merupakan salah satu faktor dari aktifitas pesugihan. Maka kekayaan kita 
pun jika memakan korban, akan termasuk kategori pesugihan. Meski rada 
keren, yakni pesugihan moderen, tidak memakai siluman Kepinding. :)

Apakah kita termasuk pelaku pesugihan modern?

(Sebenarnya saya mau menambahkan tentang para pejabat dan aparat negeri 
ini yang meraup kekayaan dari negara, tetapi menelantarkan rakyat. 
Rakyat jadi tumbal kekayaan mereka. Mereka juga pelaku pesugihan. Malah 
mereka itu memiliki jabatan rangkap, pelaku pesugihan sekaligus 
silumannya. Negeri kita kan terkenal dengan "Biaya Siluman"-nya. Mau 
ngurus apa-apa kalau mau lancar dan cepat harus bayar "biaya siluman" 
:). Tapi setelah dipikir lagi, karena tulisannya menyangkut pejabat dan 
aparat, mendingan cari aman deh. Jadi nggak jadi deh ditulisnya :P)


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke