Loba ungkara dina basa Sunda nu nu diwangun ku dua atawa leuwih kecap, nu
sora tiap kecapna teh ampir sasora,
tapi bisa ngawangun frasa kecap nu boga harti. Mun diucapkeun ngeunah
kadengena teh, da asa aya iramaan.
Nu jiga kieu teh cenah disebut purwakanti.

Salah sahiji contona, Kang Ganjar Kurnia, cenah anyar-anyar ieu hajatan di
Bale Rumawat Unpad, magelarkeun nasyid
nu tajukna "Syair keur Syiar".  Geura eta antara "syair" jeung "syiar",
duanan diwangun ku berendelan aksara nu sarua,manggih
ukur beda kombinasi posisina.

Conto sejen, aya pagelaran nu dikokojoan ku Kiai Germo tajukna teh acara “*
Ngaji* jeung *Ngejo*”.
"Ngaji" jeung "Ngejo" ukur beda sa-aksara.

=============
Rabu, 24 Oktober 2007 12:06
*Wahid Institute Networks*KH. Imam Shonhaji
Menebar Rahmat di Lembah
Hitam<http://www.wahidinstitute.org/Networks/Detail/?id=15/hl=id/KH_Imam_Shonhaji_Menebar_Rahmat_Di_Lembah_Hitam>


[image: KH Imam Shonhaji]

“*Kiai Germo*”, begitulah kelakar Gubernur Jawa Barat, H. Danny Setiawan
dalam sambutan acara Pembentukan GEMA SARAMO (Gerakan Masyarakat Santri
Raksa Moral) terhadap sosok KH. Imam Shonhaji. Istilah “Germo” yang berarti
Gerakan Moral, memang tepat dikaitkan pada pribadi kiai kasepuhan Bandung
ini.

Kiai yang hobi menelaah *turats* (kitab klasik, *red*.) ini, memahami ajaran
Islam sebagai rahmat dan penyejuk bagi lingkungan di manapun. Jadi tidak
heran, acara GEMA SARAMO yang digagasnya, dihadiri 1500 masyarakat daerah
Ujung Berung. Kiai Shonhaji mengatakan, dua hasil didapat masyarakat dalam
acara itu: “*Ngaji* dan *ngejo*”. *Ngaji* artinya mendapat ilmu dan
*ngejo*mendapat pembagian sembako.

KH. Imam Shonhaji dilahirkan 65 tahun lalu, tepatnya pada 18 April 1942 di
Subang Jawa Barat. Keberagamaannya yang begitu kuat diwariskan oleh
lingkungan keluarga yang taat beragama. Setelah menamatkan Sekolah Rakyat
(SR), beliau meneruskan ke Madrasah Ibtidaiyah di Babakan Ciwaringin
Cirebon. Shonhaji muda melanjutkan pendidikannya ke MTs dan MA Ponpes
Lirboyo di Kediri, Jawa Timur.

Setelah pengembaraannya menuntut ilmu di Jawa Timur selesai, beliau merantau
ke Bandung sambil belajar *ngaji* di Ponpes Sukamiskin Bandung.
Keberadaannya di Ponpes Sukamiskin mengantarkan beliau menyunting Hj. Raden
Maemunah Haedar, putri Pengasuh Ponpes Sukamiskin KH. Raden Haedar Dimyati.
Perkawinannya dikaruniai 11 orang anak (6 laki-laki dan 5 perempuan) yang
beliau sebut sebagai “team kesebelasan sepak bola”.

Di usianya yang tak lagi muda, KH. Shonhaji terus melakukan aktifitas
dakwahnya yang seabreg. Sekarang, beliau dipercaya sebagai Pengasuh Ponpes
Sukamiskin, disamping sebagai Pengasuh Ponpes Daruttaubah yang sekarang
pimpinan hariannya diserahkan kepada KH. Abdul Aziz Haedar, putranya.
Kegiatan keummatan beliau yang tak kalah penting adalah sebagai Dewan
Penasihat MUI Kota Bandung, Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdaltul Ulama
Kota Bandung dan Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren se-Kota Bandung.

Ide brilian figur sentral ulama Kota Bandung ini, adalah membidani lahirnya
ponpes di kawasan prostitusi yang sudah bercokol ratusan tahun di kota
Bandung. Pengalamannya di bidang dakwah menjadikan gerak langkahnya matang
untuk mengubah citra Saritem (kawasan prostitusi di Bandung) sebagai kampung
terhormat, layaknya daerah-daerah lain. Ponpes adalah pilihan bijak untuk
mengikis sedikit demi sedikit kegiatan masyarakat kawasan Saritem yang
banyak bergantung pada bisnis birahi.

Ponpes di Saritem, yang dinamai Daruttaubah – artinya rumah orang-orang
bertaubat – diresmikan pada 2 Mei 2000. Dengan* ketawadhu’an-* nya, KH. Imam
Shonhaji mengomentari kiprah ponpesnya yang kini memasuki tahun ke-7. “Telah
banyak langkah yang diambil dan kegiatan keagamaan tetap berjalan. Tetapi
hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Karena masih banyak mucikari serta
PSK (yang kebanyakan datang dari luar Bandung), belum bisa meninggalkan
pekerjaan mereka dengan berbagai alasan; terutama masih ada cukong besar
yang membiayai mereka dan alasan klasik bahwa mereka tidak bisa berubah
lantaran faktor ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, kompleksitas permasalahan di kawasan Daruttaubah bermuara pada
dua hal; masalah hidayah dan masalah perut atau ekonomi. Masyarakat di
sekitar Ponpes Daruttaubah mungkin belum diberi hidayah oleh Allah SWT. Di
sisi lain, mereka perlu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Telah puluhan tahun
mereka terjun ke dunia prostitusi, sehingga mereka belum bisa mengalihkan
pekerjaan ke arah yang diridhai Allah SWT.

Harapan KH. Shonhaji melalui proyek akhirat Ponpes Daruttaubah, adalah agar
masyarakat yang terjerumus dalam maksiat dapat bertaubat dan menjauhi segala
larangan Allah Swt. “*Amar ma'ruf nahy munkar* dapat ditegakkan. Sedangkan
berhasil atau tidaknya, itu hak prerogative Allah SWT. Yang penting kita
telah melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya,” tegas Kiai
Shonhaji.[]*(Agus Syarif Hidayatullah)
*

*
http://www.wahidinstitute.org/Networks/Detail/?id=15/hl=id/KH_Imam_Shonhaji_Menebar_Rahmat_Di_Lembah_Hitam
*

Kirim email ke