"Ngaji" jeung "ngejo" kitu deui "syair" jeung "syiar" eta kaasup kana purwakanti wianjana da konsonan anu sarua. Lamun vokal anu sawanda katelahna purwakanti swara. Loba keneh rupaning warna purwakanti. Purwakanti dina basa Sunda kacida pisan pentingna pikeun nambahan kaendahan basa, boh lisan kitu deui dina tulisan. Sakadar nambahan conto :" ... sok sanajan tengah leuweung luwang liwung jelema mo burung mungpung da uang nu jadi duyung..." atawa "... jalma mah moal luput tina lepat..." atuh minangka banyolna mah "... nu dagang daging dogong sirahna didegung-degung..." Mangga guar ku nu masih keneh kagungan peperenian,sangkan teu kaluli-luli. Cag.
From: mh Sent: Sunday, January 23, 2011 5:25 AM To: Ki Sunda Subject: [kisunda] Bahasa - Purwakanti? Loba ungkara dina basa Sunda nu nu diwangun ku dua atawa leuwih kecap, nu sora tiap kecapna teh ampir sasora, tapi bisa ngawangun frasa kecap nu boga harti. Mun diucapkeun ngeunah kadengena teh, da asa aya iramaan. Nu jiga kieu teh cenah disebut purwakanti. Salah sahiji contona, Kang Ganjar Kurnia, cenah anyar-anyar ieu hajatan di Bale Rumawat Unpad, magelarkeun nasyid nu tajukna "Syair keur Syiar". Geura eta antara "syair" jeung "syiar", duanan diwangun ku berendelan aksara nu sarua,manggih ukur beda kombinasi posisina. Conto sejen, aya pagelaran nu dikokojoan ku Kiai Germo tajukna teh acara “Ngaji jeung Ngejo”. "Ngaji" jeung "Ngejo" ukur beda sa-aksara. ============= Rabu, 24 Oktober 2007 12:06 Wahid Institute Networks KH. Imam Shonhaji Menebar Rahmat di Lembah Hitam “Kiai Germo”, begitulah kelakar Gubernur Jawa Barat, H. Danny Setiawan dalam sambutan acara Pembentukan GEMA SARAMO (Gerakan Masyarakat Santri Raksa Moral) terhadap sosok KH. Imam Shonhaji. Istilah “Germo” yang berarti Gerakan Moral, memang tepat dikaitkan pada pribadi kiai kasepuhan Bandung ini. Kiai yang hobi menelaah turats (kitab klasik, red.) ini, memahami ajaran Islam sebagai rahmat dan penyejuk bagi lingkungan di manapun. Jadi tidak heran, acara GEMA SARAMO yang digagasnya, dihadiri 1500 masyarakat daerah Ujung Berung. Kiai Shonhaji mengatakan, dua hasil didapat masyarakat dalam acara itu: “Ngaji dan ngejo”. Ngaji artinya mendapat ilmu dan ngejo mendapat pembagian sembako. KH. Imam Shonhaji dilahirkan 65 tahun lalu, tepatnya pada 18 April 1942 di Subang Jawa Barat. Keberagamaannya yang begitu kuat diwariskan oleh lingkungan keluarga yang taat beragama. Setelah menamatkan Sekolah Rakyat (SR), beliau meneruskan ke Madrasah Ibtidaiyah di Babakan Ciwaringin Cirebon. Shonhaji muda melanjutkan pendidikannya ke MTs dan MA Ponpes Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Setelah pengembaraannya menuntut ilmu di Jawa Timur selesai, beliau merantau ke Bandung sambil belajar ngaji di Ponpes Sukamiskin Bandung. Keberadaannya di Ponpes Sukamiskin mengantarkan beliau menyunting Hj. Raden Maemunah Haedar, putri Pengasuh Ponpes Sukamiskin KH. Raden Haedar Dimyati. Perkawinannya dikaruniai 11 orang anak (6 laki-laki dan 5 perempuan) yang beliau sebut sebagai “team kesebelasan sepak bola”. Di usianya yang tak lagi muda, KH. Shonhaji terus melakukan aktifitas dakwahnya yang seabreg. Sekarang, beliau dipercaya sebagai Pengasuh Ponpes Sukamiskin, disamping sebagai Pengasuh Ponpes Daruttaubah yang sekarang pimpinan hariannya diserahkan kepada KH. Abdul Aziz Haedar, putranya. Kegiatan keummatan beliau yang tak kalah penting adalah sebagai Dewan Penasihat MUI Kota Bandung, Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdaltul Ulama Kota Bandung dan Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren se-Kota Bandung. Ide brilian figur sentral ulama Kota Bandung ini, adalah membidani lahirnya ponpes di kawasan prostitusi yang sudah bercokol ratusan tahun di kota Bandung. Pengalamannya di bidang dakwah menjadikan gerak langkahnya matang untuk mengubah citra Saritem (kawasan prostitusi di Bandung) sebagai kampung terhormat, layaknya daerah-daerah lain. Ponpes adalah pilihan bijak untuk mengikis sedikit demi sedikit kegiatan masyarakat kawasan Saritem yang banyak bergantung pada bisnis birahi. Ponpes di Saritem, yang dinamai Daruttaubah – artinya rumah orang-orang bertaubat – diresmikan pada 2 Mei 2000. Dengan ketawadhu’an- nya, KH. Imam Shonhaji mengomentari kiprah ponpesnya yang kini memasuki tahun ke-7. “Telah banyak langkah yang diambil dan kegiatan keagamaan tetap berjalan. Tetapi hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Karena masih banyak mucikari serta PSK (yang kebanyakan datang dari luar Bandung), belum bisa meninggalkan pekerjaan mereka dengan berbagai alasan; terutama masih ada cukong besar yang membiayai mereka dan alasan klasik bahwa mereka tidak bisa berubah lantaran faktor ekonomi,” ujarnya. Menurutnya, kompleksitas permasalahan di kawasan Daruttaubah bermuara pada dua hal; masalah hidayah dan masalah perut atau ekonomi. Masyarakat di sekitar Ponpes Daruttaubah mungkin belum diberi hidayah oleh Allah SWT. Di sisi lain, mereka perlu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Telah puluhan tahun mereka terjun ke dunia prostitusi, sehingga mereka belum bisa mengalihkan pekerjaan ke arah yang diridhai Allah SWT. Harapan KH. Shonhaji melalui proyek akhirat Ponpes Daruttaubah, adalah agar masyarakat yang terjerumus dalam maksiat dapat bertaubat dan menjauhi segala larangan Allah Swt. “Amar ma'ruf nahy munkar dapat ditegakkan. Sedangkan berhasil atau tidaknya, itu hak prerogative Allah SWT. Yang penting kita telah melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya,” tegas Kiai Shonhaji.[] (Agus Syarif Hidayatullah) http://www.wahidinstitute.org/Networks/Detail/?id=15/hl=id/KH_Imam_Shonhaji_Menebar_Rahmat_Di_Lembah_Hitam
