Senen enjing (31/01) Unpad ngayakeun upacara promosi doktor honoris causa ka 
Mang Ajip Rosidi. Pikeun anu teu terang inti masalah perkara gelar kahormatan 
ka 
Mang Ajip, pasti biasa-biasa wae. Tapi ceuk kuring mah aya anu luar biasa, 
paling heunteu “perjuangan” Rektor Unpad dina ngalobi mang Ajip sareng 
Kementrian Pendidikan. Salut ka Kang Ganjar.
Seratan di handap kenging nyutat sagemblengna tina otobiografi Mang Ajip Rosidi 
“Hidup Tanpa Ijazah”. Tina perkara “gelar kehormatan” ieu buku biografi Mang 
AJip dijudulan siga di luhur. Sigana inti buku biografi teh aya dina bagian 
ieu. 
Tapi geuning ahirna Mang Ajip leah, kersa nampi gelar doktor. Berarti Rektor 
Unpadna anu hebat, tiasa “ngalobi” mang Ajip sareng Kementerian Pendidikan.
Pami kang Ganjar Rektor Unpad, tiasa ngabeberkeun rahasia “ngagol”keun perkara 
gelar kehormatan ka Mang Ajip di milis ieu, luar biasa pisan. Mangga ah, kang 
Ganjar diantos pedaranana.
Baktos,
Mrachmatrawyani
 
Undangan Rektor Unpad. Ketika aku sedang berada di Indonesia  pada musim panas 
tahun 1990, Edi Ekadjati menyampaikan undangan dari rektor Unpad, Prof.Dr. H. 
Yuyun Wirasasmita, M.Sc untuk menemuinya. Ketika aku memenuhi undangan itu, 
Rektor berkata,”Seperti Pak Ajip sudah tahu, Unpad sudah lama tidak memberikan 
gelar kehormatan. Yang paling akhir adalah pemberian gelar kehormatan kepada 
Jenderal Nasution. Kami sekarang ingin menghidupkan lagi tradisi pemberian 
gelar 
itu. Tetapi alasannya bukan politis seperti yang selama ini dilaksanakan, 
misalnya pemberian gelar kepada Presiden Tito dari Yugoslavia, kepada Ho Chi 
Minh dari Vietnam, Jenderal A.H. Nasution, dan lain-lain. Sekarang kami ingin 
memberikan gelar kepada orang berdasarkan karyanya. Dan dalam rapat Senat kami 
sudah sepakat untuk memberikan gelar itu kepada Pak Ajip. Yang menjadi soal, 
apakah Pak Ajip bersedia menerima gelar kehormatan itu?”
Karena Edi tidak pernah memberitahukan bahwa itulah maksud Rektor mengundangku, 
maka aku tidak segera menjawab karena mendengar hal yang di luar dugaan sama 
sekali. Setelah berpikir sebentar, aku menjawab,”Pada prinsipnya saya tidak 
akan 
menolak penghargaan orang terhadap saya. Tetapi Pak Rektor juga niscaya tahu, 
bahwa diantara para pejuang perintis kemerdekaan pun ada yang mendapat 
kehormatan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, ada yang tidak, sehingga orang 
bertanya-tanya mengapa si A dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, mengapa si B 
tidak. Sehubungan dengan gelar kehormatan yang akan diberikan kepada saya, bagi 
saya lebih baik orang bertanya-tanya mengapa si Ajip tidak diberi gelar 
kehormatan daripada orang bertanya mengapa si Ajip diberi gelar kehormatan.”
“Oh,mengenai itu nanti ada Tim Promotor yang akan mengemukakan alasannya 
mengapa 
Pak Ajip patut memperoleh gelar kehormatan itu,” jawab Rektor.”Sudah ada 
beberapa orang gurubesar yang menyatakan kesediaannya untuk menjadi promotor. 
Tetapi yang patut Pak Ajip ketahui adalah bahwa maksud pemberian gelar 
kehormtan 
ini, pertama-tama harus kami sampaikan kepada Menteri P dan K, untuk 
mendapatkan 
persetujuan beliau. Kalau beliau menolak, maka kami berhak untuk mengajukannya 
kepada Presiden. Presidenlah yang akhirnya menetapkan setuju atau tidak 
terhadap 
pemberian gelar kehormatan kepada Pak Ajip itu.
“Kapan kepastian mengenai hal itu akan diperoleh? Saya kan harus menyiapkan 
pidato penerimaan, bukan?” tanyaku.
“Tentu tergantung kepada jawaban Menteri. Tetapi sebagai ancer-ancer kami ingin 
hal itu dilaksanakan sebelum pergantian rektor pada bulan November tahun ini, 
jadi bulan Oktober,” jawabnya.
Jadi sudah dekat, karena waktu itu sudah bulan September, artinya aku harus 
menulis pidato itu begitu tiba di Osaka. Tetapi tentang apa? Harus dipikirkan 
lebih dahulu.
Ketika sudah kembali di rumah, aku mulai memilih-milih topik yang baik untuk 
tema pidato pemberian gelar itu. Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara 
tentang 
kesusasteraan Sunda dan kesusasteraan daerah lainnya yang kian tidak dihargai 
oleh para pemiliknya sendiri. Judulnya: Kesusasteraan di Indonesia: Dimensi 
Ruhani yang Hilang. Pidato itu sudah aku selesaikan dalam beberapa hari. 
Tinggal 
menunggu kabar dari Bandung kapan upacara penyerahan gelar itu dilaksanakan. 
Tetapi sampai habis bulan Oktober bahkan bulan November juga habis, aku tidak 
mendapat kabar apa-apa. Sepatutnya, kalaupun misalnya tidak jadi sekalipun, 
mereka harus memberitahu kepadaku. Tetapi orang di Indonesia sudah lama tidak 
menghiraukan mana yang patut mana yang tidak patut.
Dari Edi aku mendapat kabar bahwa Rektor sudah menulis surat kepada Menteri 
tentang maksud hendak memberikan gelar kehormatan kepadaku. Tetapi Menteri 
tidak 
menjawab juga. Setelah ditelusuri, diketahui bahwa sehubungan dengan itu ada 
surat rahasia Menteri kepada Dirjen Pendidikan Tinggi. Tetapi mereka tidak tahu 
apa isinya. Karena aku dianggap punya hubungan dengan orang-orang dalam di 
Departemen P dan K, Edi memintaku agar mencari tahu apa isi surat rahasia 
Menteri itu. Kalau tahu akan isinya, Rektor Unpad akan bisa melakukan tindakan 
yang mungkin, misalnya menulis surat langsung kepada Presiden.
Terhadap permintaan Edi itu aku menjawab bahwa aku tidak pernah meminta agar 
mendapat gelar kehormatan. Maka meskipun aku di lingkungan dalam Departemen P 
dan K mempunyai hubungan dengan orang-orang yang dapat menelusuri isi surat 
itu, 
aku tidak merasa perlu untuk mencari tahu apa isi surat rahasia itu. Buat apa? 
Supaya aku jadi mendapat gelar kehormatan? Aku pikir, aku tidak membutuhkannya. 
Selama ini aku bisa hidup cukup baik tanpa gelar apa pun. Aku memang sejak 
dahulu menolak untuk hidup menggantungkan diri pada gelar atau pada selembar 
kertas yang bernama ijazah. Lagipula kalaupun mendapat gelar kehormatan, gajiku 
di Jepang tidak akan naik dan aku juga tidak akan menjadi lebih terkenal. (*)
Karena itu  ketika beberapa waktu kemudian aku menerima surat permintaan 
sumbangan tulisan untuk buku yang akan diterbitkan buat menghormati Romo Dick 
Hartoko 70 tahun, tulisan yang semula disiapkan untuk pidato penerimaan gelar 
kehormatan dari Unpad itu aku kirimkan ke sana. Romo Dick sudah aku kenal sejak 
tahun 1950-an dan selama ini hubunganku dengan beliau baik sekali.
____________________________________________________________________________________

(*)Kemudian aku diberitahu oleh Edi Ekadjati bahwa sebagai akibat dari surat 
rahasia menteri itu, Dirjen Pendidikan Tinggi mengeluarkan peraturan tentang 
pemberian gelar kehormatan, yaitu hanya boleh diberikan kepada orang yang sudah 
lulus S-1. Peraturan yang ganjil itu jelas sengaja dibuat untuk menghalangi aku 
mendapat gelar karena Menteri tahu bahwa aku drop-out dari SMA. Bahwa aku tidak 
jadi mendapat gelar kehormatan buatku tidak jadi soal. Yang aku pikirkan ialah 
dengan adanya peraturan yang tidak ada duanya di dunia itu, kalau nanti ada 
orang lain yang juga bukan keluaran S-1 seperti aku, patut mendapat gelar 
kehormatan, bagaimana? Kan kasihan dia. Gara-gara Menteri hendak menghalangi 
aku 
mendapat mendapat gelar, orang lain juga kena getahnya. Menteri marah kepadaku 
karena aku pernah menulis surat terbuka kepadanya dimuat dalam surat kabar yang 
mengeritik anak buahnya yang tidak tahu etika dan meminta Menteri turun tangan 
agar mendidik mereka tentang etika.


      

Kirim email ke