KURING SATUJU KANG ROZA JADI RAJA SUNDA !!!.
 
Sok lah, buntel jeung beungkeut budaya sunda ku cara nyieun simbol budaya sunda.
Bahasa geus boga, hurup/alphabet sunda boga, sangkan leuwih kuat NYIEUN RAJA 
ANYAR. 






--- On Wed, 2/2/11, Roza R. Mintaredja <[email protected]> wrote:


From: Roza R. Mintaredja <[email protected]>
Subject: Re: [kisunda] FW Inilah Kritik Ajip Rosidi Tentang Orang Sunda
To: [email protected]
Date: Wednesday, February 2, 2011, 10:30 PM


  



bener tah, ulasan/komentar AR teh
kitu we!
bener, UJ boga supremasi ka majapait,
kitu we!
bener, supaya US jadi harudang deui.
kitu we!
palebah mana atuh anu teu benerna?
asa euweuh.
kitu we?





2011/2/2 oman abdurahman <[email protected]>


  



Hehehe...nya kari kumaha ngatur2na pikeun ngalawanna kang. Eta oge, mun teu 
salah maca, kang AR oge ngangluh soal masa munggaran PS, kumaha aya sikep 
kurang adilna anu di luhur/ anu kawasa harita ka PS. Hal eta oge anu dimuat 
dina buku "Oto Iskandardina, Untold Story" seratan Kang Iip. Kusabab kitu, pa 
AR ngagitik atawa mecut sangkan urang Sunda kudu maju tarung jadi pamimpin. 
Ngan, syratna ulah bohong. Maksud ulah bohong teh diantarana, ulah siga 
pamimpin Indonesia anu enggeus-enggeus anu loba nipu rahayat, malah teu saeutik 
anu ngajual rahayat...bari makmak-mekmek ngungumpul rajakaya.

manar


2011/2/2 <[email protected]>



  



Urang sunda teu sadar dina pikiran bawah sadar urang jawa napel mental 
supremasi majapahit
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: "Ii Sumirat" <[email protected]> 
Sender: [email protected] 
Date: Tue, 1 Feb 2011 07:59:06 +0700
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: [kisunda] FW Inilah Kritik Ajip Rosidi Tentang Orang Sunda




  



Neraskeun ti milist sabeulah 







 
Inilah Kritik Ajip Rosidi Tentang Orang Sunda

SENIN, 31 JANUARI 2011 | 13:24 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta - Budayawan Sunda Ajip Rosidi melontarkan kritik 
pedas soal mental dan perilaku orang Sunda. Kritik itu disampaikannya lewat 
orasi ilmiah saat menerima penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di bidang 
Ilmu Budaya pada Fakultas Sastra dari Universitas Padjadjaran, di aula kampus 
itu di Jalan Dipati Ukur, Bandung, Senin (31/1).

Ajip memulai pidatonya tentang kondisi orang Sunda yang jarang tampil di 
gelanggang nasional sejak lama, padahal jumlahnya secara kesukuan nomor dua 
diantara suku-suku bangsa yang membentuk Indonesia. Tidak ada orang Sunda yang 
menjadi presiden. Adapun yang menjadi Wakil Presiden  hanya satu orang dan 
tidak menunjukkan prestasi yang membanggakan. "Mungkin karena merasa menjadi 
ban serep saja," katanya, Senin (31/1).

Orang Sunda yang menjadi pejabat negara dan duduk di parlemen pun jumlahnya 
sedikit. Selanjutnya Ajip merunut kiprah orang-orang Sunda sejak jaman 
pergerakan sebelum proklamasi kemerdekaan dan sesudahnya berdasarkan catatan 
sejarah. Kegelisahan tentang perasaan orang Sunda yang seakan-akan tidak 
dihargai dalam lingkungan nasional itu muncul hampir seabad lalu.

Ajip mengutip ucapan siswa STOVIA Dajat Hidajat pada 1913 saat menggagas 
Pagoejoeban Pasoendan yang terbentuk pada 1915. Dajat mempersoalkan sedikitnya 
orang Sunda yang menjadi siswa kedokteran dibanding suku Jawa dan Melayu. Ia 
pun menyinggung berbagai jabatan di Tanah Pasundan yang disandang suku lain. 
"Keadaan orang Sunda di Tatar Sunda rasanya tak banyak bedanya, bahkan lebih 
menyedihkan," kata Ajip.

Menurut dia, orang Sunda banyak yang suka menipu diri sendiri dengan jalan 
menutupi kenyataan dan kata-kata yang menyenangkan hati sendiri. Misalnya, 
orang Sunda itu berbudi halus, suka mengalah, dan selalu mendahulukan orang 
lain. Kenyataannya banyak orang Sunda yang mau melakukan apa saja demi 
kedudukan. "Artinya munafik, perkataan tidak sesuai dengan kata hati dan 
keinginannya," ujarnya.

Kemunafikan itu dianggap wajar akibat feodalisme yang masih tebal pengaruhnya 
dalam kehidupan orang Sunda. Pengaruh feodalisme Jawa setelah dijajah kerajaan 
Mataram pada 1624-1708, kata Ajip, melahirkan tingkatan (undak usuk) bahasa 
Sunda, serta takut menyatakan pendapat secara terus terang. 

Adapun akibat penjajahan Belanda, orang Sunda menjadi terbiasa mengabdi, 
memiliki mentalitas ingin terpakai oleh majikan atau atasan, dan tidak berani 
bersaing dengan orang lain. 

Ajip Rosidi, 73 tahun, dilahirkan di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, pada 31 
Januari 1938. Kiprahnya sebagai sastrawan dengan membuat sajak dan cerita 
pendek dirintisnya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama di Jakarta 
pada 1953.
ANWAR SISWADI 
 
 














      

Kirim email ke