Ihwal tradisi Haulan dan Muludan  [image:
PDF]<http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=202>
 [image:
Print]<http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index2.php?option=com_content&task=view&id=202&pop=1&page=0>
  Rabu,
11 Februari 2009
oleh : Hamzah Sahal

 Dalam sebuah hajatan *haulan *(peringatan hari kematian) almaghfurlah KH.
Ali Ma’shum di Pondok Pesantren Krapyak Jogjakarta, almaghfurlah KH Fuad
Hasyim (Pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon) menjelaskan pentingnya
menyelenggarakan *haulan* seorang tokoh. ”Ada tiga alasan kenapa disunnahkan
menyelenggarakan holan seorang tokoh masyarakat,” kata Kang Fuad –demikian
KH Fuad Hasyim biasa dipanggil.

*Pertama, *pentingnya arti mengingat kematian. Kita harus selalu ingat bahwa
Allah SWT siap mengambil nyawa kita tanpa perlu permisi. Alasan *kedua, *kita
butuh mengenang jasa-jasa orang saleh seperti kiai atau ulama. Kenapa
kebutuhan? Jawabnya, agar kita bisa meniru, menghidupkan lagi, menyebarkan,
amal-amal saleh yang telah dilakukan olehnya. Dengan kata lain,
*haulan*adalah sebuah upaya melanjutkan
* sunnah hasanah *(tradisi baik) yang telah dilakukan almarhum. Kalau ini
bisa dilakukan dengan baik, maka pahala bukan hanya kita yang mendapatkan,
tapi juga bagi almarhum.

Alasan *ketiga, *kata Kang Fuad, tak kalah pentingnya adalah, mendoakan
almarhum. Orang Jawa biasa menyebutnya dengan kirim *dungo, *mengirimkan
doa. Ritual kirim *dungo *yang dilakukan secara berjama’ah tidak hanya
berdimensi transendental (Tuhan), tapi juga sosial. *Haulan *merupakan forum
perjumpaan dan solidaritas sosial (silaturahim). Sebab, dengan berkumpul
atau berjama’ah, jaring-jaring sosial akan semakin kukuh.

Saya masih ingat, bagaimana gaya almarhum Kang Fuad menjelaskan makna dan
fungsi holan dengan panjang lebar, namun tetap ringan, mudah dipahami dan
menghibur. Kang Fuad memang dikenal singa podium. Ia bukan saja alim ilmu
agama dan sempurna menguasi retorika, tapi juga bersuara merdu, sehingga ia
selalu menyelipkan dua atau tiga lagu berbahasa Arab atau Jawa dalam tiap
cermahnya, tentu saja shalawat kepada Nabi SAW tak ketinggalan. “Hebatnya”,
Kang Fuad tidak selalu menyelipkan dalil-dalil agama (nash Al-Qur’an,
hadits, serta pendapat para ulama). Kenapa “hebat”? Karena ia yakin bahwa
“tindakan agama” tidak musti disandarkan pada “dalil-dalil agama”
(tekstual/nash, Al-Quran dan hadits). Dan memang, ritual *haulan *tidak ada
dalil agamanya, secara khusus dan tersurat.

“Kenapa bukan *muludan *(hari kelahiran) yang diperingati?” tanya Kang Fuad
kepada jama’ah. Lalu Kang Fuad menjawab pertanyaannya sendiri dengan fasih
dan lancar. “Inilah perbedaan antara kita sebagai manusia biasa dengan Nabi
Muhammad sebagai rasul Tuhan. Peringatan muludan hanya layak kita rayakan
untuk Baginda Nabi Muhammad SAW, karena kelahirannya membawa cahaya dan
kabar gembira, juga peringatan. Kehadirannya dipastikan akan memberi jalan
untuk mendapatkan hidayah Tuhan, mengejawantahkan akhlak mulia dan
beradaban, mewujudkan kemaslahatan bagi semua, serta bergerak untuk keadilan
sosial di muka bumi ini. Semuanya pasti akan dilakukan oleh Muhammad sebagai
sang rasul. Sementara kita, hanya manusia biasa, tidak punya tugas seberat
seperti Rasulullah. Peringatan ulang tahun (*muludan*) Muhammad
diselenggarakan untuk mengingatkan akan fungsi kenabiannya.”

“Bagaimana dengan pesta ulang tahun yang sudah membudaya di masyarakat
kita?” Kang Fuad bertanya lagi. Lalu ia menjawab sendiri dengan singkat tapi
gamblang, “Peringatan ulang tahun atau biasa disingkat dengan ultah
sebetulnya bukan tradisi kita. Namun, kita tidak bisa menghentikan
kebiasaan/kultur (‘*adah*) yang sudah melekat kuat di masyarakat dengan
serta-merta dan semena-mena.”

“Kita, sebagai umat Islam yang toleran dan kreatif musti bisa ‘memasuki’
perayaan ultah supaya tidak melanggar aturan agama. Lebih dari itu, kita
wajib menggunakan sarana ultah biar muncul manfaatnya. Biar berisi. Tidak
hanya tiup lilin dan makan-makan saja.”

Pertanyaan penting dilontarkan lagi sesaat kemudian, “Bagaimana sikap kita
kepada orang yang menghukumi bid’ah, baik acara holan ataupun *muludan*?”
kata mereka *bid’ah *itu sesuatu yang tidak diajarkan agama atau Nabi
Muhammad. Semua *bid’ah *itu sesat. Dan tiap kesesatan adalah dosa.”

Pertanyaan teologis itu hanya dijelaskan saja oleh Kang Fuad, “Kita tidak
usah menghiraukan pendapat orang yang belum mengerti itu. Selagi tidak
mengganggu, tidak apa-apa, biarkan saja. Tidak perlu dihardik. Pada suatu
saat nanti mereka akan mengerti, dan melihat ada manfaat pada ibadah haulan
dan maulidan itu. Dan mereka akan mengikutinya.”

***
Saya teringat kembali isi ceramah KH Fuad Hasyim di atas lantaran
bulan-bulan pertama tahun 2008 kemarin melihat perayaan-perayaan
*muludan *(baik
kelahiran orang, gerakan sosial tertentu, organisasi, dll.) atau *haulan *itu
marak diselenggarakan di kota-kota, bahkan di komunitas yang dulu
*getol *melontarkan
istilah *bid’ah *dengan tidak bersahabat. Ingatan itu masih terekam dengan
baik, karena saya mencatatnya dalam buku harian yang kini bau debu, kumal
dan tidak menarik, Agustus 1998.

Pada bulan Februari 2008, orang-orang Islam di kota telah memperingati hari
kelahiran KH. Abdul Karim Amrullah yang keseratus tahun, atau seabad. Profil
Buya Hamka –demikian nama populer KH. Abdul Karim Amrullah- diseminarkan,
karya-karya dan pemikirannya diulas kembali di media-media masa, *manakib-*nya
diwiridkan di depan massa yang berkumpul di masjid Agung Al-Azhar Jakarta,
dll. Semuanya digelar untuk mengenang jasa-jasanya yang memang besar dan
bermanfaat bagi generasi sesudahnya.

Bulan berikutnya, Maret 2008, publik juga melihat peringatan 85 tahun
Fatmawati. Dengan performence yang lebih “art”, Fatmawati yang istri Bung
karno ini dihadirkan kembali lewat pameran lukisan, pakaian, pernak-pernik,
semua benda-benda peninggalannya, dll. Tentu juga menyajikan pidato-pidato
yang berkenaan dengan “Sang Penjahit” merah-putih.

Hal serupa, peringatan kelahiran, juga digelar untuk mengenang 100 tahun
Sutan Takdir Alisahbana (STA). Dan meskipun samar-samar, lewat sebuah
artikel, penggemar almarhum Nurkholis Madjid memperingati 1000 hari
kematiannya.

Bulan Februari dan Maret 2008 yang sudah berlalu ini kita banyak menyaksikan
perayaan-perayaan seorang tokoh, tak lupa, di dalamnya ada ada peringatan
maulid Nabi Muhammad SAW, tentu orang Islam yang merayakannya. Di bulan
April ada peringatan hari Kartini. Sebad Kebangkitan Nasional juga dirayakan
dengan gegap gempita bulan Mei.

Dengan segala bentuk dan caranya, hari peringatan, baik *muludan*
maupun *holan,
*merupakan fenomena rakyat yang telah memasyarakat selama berabad-abad.
Dalam rumusan antropolog Victor Turner, aktivitas holan ataupun muldan yang
reguler diistilahkan dengan momentum “liminal”.

Disebut “liminalitas” karena di dalamnya melibatkan partisipasi
komunitas/jama’ah (bukan individu) serta dilaksanakan secara istiqomah pada
waktu dan tempat yang telah disepakati bersama, yang tentunya terbuka.
Momentum liminalitas ini banyak ditemui pada komunitas masyarakat
tradisional di negeri ini. Sekedar menyebutkan contoh, di Aceh ada hari raya
Megang, Yogyakarta ada Sekaten, di Klaten ada Yaqawiyyu, di Cirebon ada
Syawalan dan Muludan, di Lombok ada Mandi Safar, dll., dan tentunya
ritual-ritual hari raya agama (Lebaran, Nyepi, Natal, dll.). Momentum
liminal ini diyakini memiliki makna yang dalam bagi pelakunya dan akan ikut
mengubah perjalanan pada yang lebih baik, orang Jawa menyebutnya Berkah.

Nah, liminalitas *haulan *dan *muludan *ini berasal dari imajinasi kolektif
bahwa peristiwa tersebut merupakan momentum penting yang diharapkan dapat
menyegarkan dan menambah pengalaman kehidupan sosial di hari depan.

Sudah barang tentu, ritual *haulan* dan *muludan *mensyaratkan ongkos, baik
material ataupun nonmateri. Tapi ongkos itu bukanlah kemubadziran atau
kesiasiaan, apalagi bid’ah dhalalah, seperti yang kerap dituduhkan. Ongkos
itu dikeluarkan dengan sadar dan ikhlas demi memupuk spiritualitas, menjalin
tali solidaritas, dan perjumpaan antar sesama yang lebih manusiawi.[]

** Hamzah Sahal, Alumni PP. Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta *
http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index.php?option=com_content&task=view&id=202

Kirim email ke