tos ngalih ka serpong ? 2011/2/27 Eko Ruska Nugraha <[email protected]>
> > > Sababaraha minggon kapengker kaleresan nonton warta di tv swasta DPR keur > hoghag jeung wakil ti pamarentah menkes jeung ti ipb. Si DPR keukeuh > pamarentah kudu ngumumkeun info susu ieu ka rahayat tapi pihak pamarentah > keukeuh embung ngumumkeun. > > Puguh jang sim kuring mah rada bingung kudu milih susu nu mana jang budak > nu leutik kabeneran poe ieu pas 3 taun. Jeung deuih pernah meunang kiriman > email ti babaturan duka bener henteuna mah daftar susu nu ngandung kuman > ieu, kabeneran deuih susu anu sok diinum ku budak aya dina daftar. Ari > ditanya kababaturan mah cenah eta daftar susu teh pengumuman sababaraha > waktu katukang tipamarenata. > > Cing susuganan aya baraya anu menang ingpo perkawis ieu rek google kompi > keur ngadat deui rada telat ari meungan linkna teh. > > Baktos > ERN > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * "Ii Sumirat" <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Tue, 22 Feb 2011 14:28:33 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *[kisunda] Tulisan Soeryo Pratomo Ngeunaan Susu Formula > bakterian > > > > Urusan kukumanan... > Sikuring neraskeun > > > Catatan Soeryo Pratomo Tentang Heboh Susu Formula Berbakteri > > SALAH satu hal yang harus kita bisa lakukan adalah menjadikan bangsa > ini sebagai masyarakat berpengetahuan. Dengan itulah maka bangsa ini > akan mempunyai wawasan yang luas dan tidak terjebak dalam persoalan > yang sekadar menimbulkan ingar-bingar. > > Beberapa hari belakangan ini kita diramaikan oleh perdebatan > berkaitan susu formula yang mengandung bakteri. Apalagi ketika > Mahkamah Agung memutuskan untuk mengumumkan susu formula yang ada di > pasaran, yang diduga tercemar Enterobacter sakazakii. Dengan alasan > untuk kepentingan publik, maka para peneliti Institut Pertanian Bogor > dan juga Badan Pengawasan Obat dan Makanan serta Kementerian Kesehatan > diharuskan mengumumkan secara terbuka nama susu formula yang didapati > tercemar bakteri. > > Kita tidak bermaksud untuk tidak menaati keputusan MA yang > berkekuatan hukum tetap. Namun apa yang sedang terjadi sekarang ini > tidak sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan dan kebebasan yang > dimiliki oleh seorang peneliti dalam melakukan penelitian bagi > kebaikan kehidupan manusia. > > Mengapa kita sampai mengatakan seperti itu? Peneliti IPB yang > melakukan penelitian terhadap kemungkinan adanya Enterobacter > sakazakii di dalam susu formula, bukan sedang melakukan pemeriksaan > terhadap susu formula yang beredar di pasaran. Peneliti itu sedang > mencoba menemukan ada atau tidak bakteri sakazakii di dalam susu > formula. > > Dari 22 sampel yang diambil, ditemukan adanya bakteri sakazakii > pada lima sampel. Langkah selanjutnya adalah mencoba mengetahui bahaya > dari keberadaan bakteri sakazakii tersebut di dalam susu formula. > Untuk itulah lalu dilakukan percobaan kepada mencit atau anak tikus > putih. > > Hasil penelitian yang dilakukan tahun 2003-2006 itu kemudian > dibawakan dalam forum ilmiah dengan diberi judul "Potensi kejadian > Meningitis pada Mencit Neonatus akibat infeksi Enterobacter sakazakii > yang diisolasi dari Makanan Bayi dan Susu Formula". Penelitian ini > dipublikasikan melalui website IPB pada tanggal 17 Februari 2008. > > Di kalangan para peneliti, hasil penelitian seperti ini merupakan > sesuatu yang biasa. Bahkan dari debat ilmiah bisa dikembangkan lebih > lanjut bagaimana misalnya mengendalikan bakteri tersebut agar tidak > membahayakan kesehatan manusia. Atau kalau memang dianggap sangat > membahayakan kesehatan masyarakat bisa dimasukkan sebagai usulan > kepada BPOM maupun Kementerian Kesehatan untuk misalnya melakukan > penelitian lebih lanjut dan bahkan mungkin melarang susu formula yang > mengandung Enterobacter sakazakii untuk beredar di pasaran. > > Hasil penelitian yang seharusnya didekati dari kacamata ilmiah > menjadi persoalan ketika dibawa menjadi bahasan awam di ranah publik. > Apalagi kemudian tidak ditempatkan konteks yang tepat bahwa yang > sedang dilakukan bukanlah pemeriksaan terhadap semua produk susu > formula yang ada di pasaran, tetapi pencarian terhadap ada atau > tidaknya bakteri sakazakii pada susu formula. > > Kesalahkaprahan ini semakin menjadi-jadi ketika dijadikan ajang > untuk mencari sensasi. Penelitian ilmiah dibawa ke dalam ranah hukum. > Yang lebih menyedihkan, kini persoalan dibawa lagi ke ranah politik. > Anggota DPR begitu genit untuk seakan-akan membela kepentingan rakyat, > tanpa mencoba memahami duduk perkara penelitian yang sebenarnya > dilakukan. > > Kalau persoalan ilmiah didekati dengan cara pandang yang tidak > ilmiah, maka pasti yang lebih mencuat adalah kontroversi. Kalau > peneliti selalu ditakut-takuti oleh cara-cara seperti itu, maka ilmu > pengetahuan Indonesia tidak akan pernah berkembang. Sepanjang kita > masih bersikap seperti itu, maka ilmu pengetahuan kita akan semakin > jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain. > > Padahal bangsa lain justru mendorong ilmuwannya untuk melakukan > penelitian. Bangsa Korea misalnya sudah berhasil melakukan kloning > pada hewan. Dengan dasar ilmu pengetahuan itu, maka bangsa Korea > semakin melompat tinggi dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. > > Apakah seorang peneliti bisa salah? Sebagai seorang manusia > biasa, pasti peneliti bisa salah. Namun kesalahan yang dilakukan > peneliti tidak bisa dikriminalkan. Kalau pun ada pelanggaran berat > yang dilakukan, itu harus dinyatakan bersalah terlebih dahulu oleh > Komite Etik Peneliti. > > Kriminalisasi terhadap peneliti tidak bisa dibiarkan, karena itu > akan mempengaruhi kemajuan bangsa ini. Orang akan malas menjadi > peneliti, karena akan dihadapkan kepada hal-hal yang tidak masuk akal. > Padahal menjadi seorang peneliti tidak bisa begitu saja, tetapi harus > melalui jenjang profesional yang panjang. > > Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) harus turun tangan > untuk menyelesaikan kekisruhan yang terjadi sekarang ini. AIPI tidak > bisa membiarkan para peneliti kita dijadi-jadikan bulan-bulanan para > politisi yang butuh panggung ataupun para petualang yang membutuhkan > popularitas. AIPI harus tampil untuk mendudukkan perkara dan sekaligus > mengedukasi bangsa ini. > > Jangan biarkan persoalan yang berkaitan dengan bakteri pada susu > formula menjadi persoalan IPB atau BPOM atau Kementerian Kesehatan > semata. Ini harus menjadi persoalan AIPI, karena ini akan mempengaruhi > nasib para peneliti Indonesia. > > Bangsa ini tidak akan pernah mempunyai orang-orang sekelas > Albert Einstein, kalau kondisinya seperti ini. Padahal dari "kegilaan" > peneliti seperti itulah akan ditemukan sesuatu yang besar dan > bermanfaat bagi kehidupan bangsa ini. Dari penelitian-penelitian yang > jauh berwawasan ke depan akan bisa membawa Indonesia dikenal sebagai > negara terkemuka, karena ilmuwan-ilmuwannya mendapat penghargaan Nobel > dari hasil ketekunan melakukan penelitian. > > Pilihan lain kita akan terus menjadi bangsa paria seperti > sekarang ini. Bangsa yang hanya ramai dalam berwacana, namun tidak > pandai dalam melakukan karya yang bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan > negaranya. > > -- > Andi Irman > Public Relations Specialist > HP:0813-1088-1000 > > >
