Mang alus tah tulisan teh, Ku kuring urang tangkodkeun di www.kasundaan.org
hehehe soalna loba oge anu macaan web kuring :D.

_____________________________________________
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
mj
Sent: 03 Maret 2011 9:00
To: [email protected]
Subject: [kisunda] FW: makalah si kuring tea : konsep estetika sunda....




KONSEP ESTETIKA DALAM BUDAYA RUPA SUNDA
SEBUAH KAJIAN AWAL
 
Jamaludin
Jurusan Desain Interior FSRD ITENAS

  I.       Pendahuluan
 Keindahan panorama Tatar Sunda membuatnya mendapat julukan Parahyangan atau
Priangan, yang berarti tempat para dewa. Keindahan alam Priangan tersusun
dari pegunungan dan lembah yang menciptakan kontras tinggi-rendah, aneka
warna alam berupa gradasi warna dedaunan dan pepohonan, membentuk hutan yang
menyelimuti gunung, ditambah dengan sungai yang mengalir dari gunung ke
lembah dan di atasnya matahari tropis menyinari setiap hari sepanjang tahun
sehingga semua terang benderang.
 Keindahan alam dan romantika kehidupan di dalamnya melahirkan karya seni
musik yang khas dengan nada yang cenderung melankolik seperti tercermin
dalam seni musik kecapi-suling dan seni suara yang dikenal dengan nama
tembang Cianjuran, menggunakan tempat berkembangnya kesenian tersebut yaitu
Cianjur, yang dialek bahasa Sundanya paling halus. Di sisi lain, kondisi
alam tersebut juga melahirkan budaya periang yang tercermin dengan adanya
budaya humor berbentuk parodi yang  menertawakan diri sendiri, seperti
tercermin dalam cerita Si Kabayan.[1]
Dua fenomena ini, tembang Cianjuran yang melankolik dan  humor parodi cerita
Si Kabayan dapat dikatakan sebagai gambaran paradoksial dua sisi kebudayaan
Sunda (Wiartakusumah, 2009). Menurut Harsojo (dalam Koentjaraningrat,
2004:310), dari bahasa dan keseniannya dan sikap sehari-hari, tipe ideal
orang Sunda secara umum adalah optimis, suka dan mudah gembira, berwatak
terbuka tetapi sering bersifat terlalu perasa sehingga menciptakan istilah
”pundung”.
 Bagi masyarakat Sunda, pemandangan alam umumnya tidak hanya dilihat sebagai
objek yang indah tetapi memberi gambaran lain yang bersifat reflektif dan
spiritual seperti mengenang pengalaman/masa lalu, perjalanan hidup, serta
kebesaran dan keagungan Tuhan.  Soewarno Darsoprajitno (2001) menjelaskan
bahwa geografi tata ruang alam Parahyangan yang indah yang sudah tersedia
inilah yang ikut membentuk perilaku budaya masyarakat Sunda menjadi toleran,
apresiatif dan akomodatif. Kondisi alam yang indah itu menciptakan
masyarakat yang dalam khasanah bahasanya memiliki perbendaharaan kata yang
khas yaitu waas (Wiartakusumah,2009).
 Khusus mengenai istilah pemandangan, masyarakat Kanekes (Baduy) mempunyai
pengertian lain. Selain sebutan untuk panorama alam, mereka menyebut hiasan
berupa motif pada tenunan, ukiran pada hulu golok dan rekahias lainnya
dengan istilah pamandangan (Prawira, 1999, dan informasi dari Bapak Mursid,
wakil Jaro Kanekes dari Cibeo). Bagi masyarakat Kanekes, pamandangan berarti
”sarupaning anu katingalna endah” (segala sesuatu yang terlihat indah). Kata
pemandangan berarti objek yang indah untuk dipandang, sebagaimana bentangan
alam yang selain menampilkan bentuk fisik dalam komposisi berbagai objek
juga kemudian menciptakan sensasi atau dicerap (persepsi) menjadi pengalaman
yang melahirkan rasa waas. 
 Dari segi pemilihan kata/istilah dalam bahasa Sunda, Sudjoko dalam
Pengantar Seni Rupa (2001:66) menjelaskan kecenderungan umum orang Sunda
yang lebih memilih menggunakan kata alus untuk menyebut objek-objek yang
indah. Sementara kata indah dalam bahasa Sunda adalah endah. Arti alus
adalah bagus atau baik, istilah yang lebih umum dan dipakai secara luas.
Istilah lain adalah hade. Padanan kata alus dan hade ini dalam bahasa
Inggris adalah good. 
 II.          Kata Kunci Estetika Sunda
Sebagai seorang seniman senior dan tumbuh dalam latar budaya Sunda, Setiawan
Sabana[2] secara intuitif menemukan beberapa istilah dalam bahasa Sunda yang
menurutnya dapat dijadikan kata kunci estetika. Istilah tersebut adalah
 siga, sarupaning dan waas. Berikut analisis ketiga kata kunci tersebut.
 A.     Siga
Ungkapan keindahan dalam budaya Sunda umumnya menggunakan alam sebagai
sumber acuan atau sebagai tolok-ukur dan perbandingan. Alam dipandang
sebagai acuan atau kondisi sempurna bagi keindahan yang diciptakan manusia.
Menurut Ajip Rosidi[3], orang Sunda mempunyai cara penilaian khas terhadap
suatu objek estetik. Apabila melihat pemandangan yang indah, orang Sunda
akan mengatakan ”siga lukisan” dan sebaliknya, bila ada lukisan yang
benar-benar bagus maka ungkapannya menjadi ”siga enya” atau indah seperti
kenyataan. Dengan demikian, konsep keindahan yang dipahami masyarakat Sunda
memiliki hubungan timbal-balik antara alam dan rekaan.
 Istilah siga ini menunjuk pada upaya atau teknik penciptaan berupa peniruan
terhadap objek alam ke dalam rekaan. Rekaan manusia hanya mengandung
pengertian ’seperti’ atau ’menyerupai’ objek yang ditiru. Siga tidak
dimaknai sebagai rupa yang persis dengan objek alam yang ditiru, tetapi
hanya mengandung makna proksimitas atau kedekatan dalam kemiripan rupa.
Pengertian lain yaitu adanya kesadaran atas kemampuan manusia membuat
peniruan terhadap ciptaan Tuhan, sehingga kemiripan karya terhadap objek
yang ditiru bersifat relatif. Dalam lingkup estetika simbolik, siga ini
mengandung makna asosiatif.
 Pengertian siga banyak dipakai di dalam penggunaan alam sebagai sumber
acuan. Contohnya adalah penamaan bentuk atap pada bangunan tradisional
Sunda. Umumnya penamaan model atap menggunakan atau diasosiasikan ke dalam
bentuk-bentuk kondisi satwa tertentu didasarkan pada kedekatan rupa atau
siga. Misalnya saung rangon, julang ngapak, jogo/tagog anjing dan badak
heuay.
 B. Sarupaning
Kata sarupaning dalam kalimat ”sarupaning anu katingalna endah” di atas
menunjuk pada pemahaman bahwa keindahan terdapat dalam berbagai objek baik
alam maupun rekaan. Istilah itu juga menyiratkan adanya kreativitas yang
beragam di dalam cara atau teknik dan proses penciptaan dengan karya yang
juga beragam. Demikian halnya keberagaman cara penilaian keindahan dapat
diterapkan pada berbagai objek baik alam maupun rekaan seperti karya seni
atau desain. Suatu objek yang memiliki kualitas estetik digubah dari
konfigurasi keragaman (sarupaning) objek. Contohnya dapat dilihat dalam
ungkapan dan peribahasa mengenai deskripsi kecantikan perempuan.
             Angkeut endog sapotong  (dagu seperti telur separuh) 
            Ramo pucuk eurihan  (jemari seperti pucuk ilalang) 
            Lambey jeruk sapasi (bibir seperti jeruk sekerat/sepasi) 
            Halis ngajeler paeh (alis seperti ikan jeler mati) 
            Cangkeng lenggik nanding papanting  (pinggang ramping menyaingi
papanting) 
            Taar teja mentrangan  (kening terang bersinar) 
            damis kuwung-kuwungan  (pipi merona pelangi) 
            bitis hejo carulang (betis mulus dan bening)
 Untaian kalimat di atas menggunakan berbagai (sarupaning) elemen dari objek
alam beserta keterangan kondisinya dengan pendekatan siga dalam konteks
estetika simbolik-asosiatif. Masing-masing elemen dikomposisikan pada bagian
tubuh perempuan sesuai sifat rupa atau bentuknya untuk menggambarkan
komposisi keindahan ideal.
 C. Waas
Dalam  Kamus Basa Sunda susunan Danadibrata, (2006), waas dijelaskan 
sebagai ”rasa dina waktu urang nenjo pamandangan,” (rasa manakala kita
melihat pemandangan). Kamus Umum Basa Sunda (Lembaga Basa & Sastra Sunda,
1980) waas diartikan ”rasa hate waktu inget kana pangalaman nu matak resep
patali jeung deengan, tetenjoan, jste” (Rasa hati ketika teringat pengalaman
yang disukai berkaitan dengan pendengaran, penglihatan, dsb). Sementara
menurut kamus Sunda-Inggris paling tua, A Dictionary of The Sunda Language
of Java, (Jonathan Rigg, 1862) waas dijelaskan sebagai berikut:
”said when a pleasurable feeling is caused by seeing some one or something
which reminds us of what we  ourselves possess, but which, for the moment,
is out of our reach. A happy or pleasing remembrance or emotion regarding
something which we do not at the moment see (as see a woman’s gown causes
sentimental emotions).
 Dari definisi waas di atas tampak bahwa pengalaman yang terkandung di
dalamnya tidak semata berupa pengalaman atas hal-hal yang indah di alam
tetapi juga berbagai hal lainnya yang mampu menggugah perhatian indera,
menggerakkan hati, memperkaya batin dan menggetarkan jiwa. Istilah waas,
sebagaimana pengertian yang lebih rinci dari Jonathan Rigg di atas, memenuhi
pengertian pengalaman estetik. Dengan kata lain, waas adalah apa yang dalam
seni rupa atau estetika dikenal dengan istilah ‘pengalaman estetik’
(asthetic experience).
 Dalam Ilmu Seni, pengalaman menikmati benda seni disebut pengalaman seni
atau pengalaman estetik atau respon estetik yang dialami oleh penikmat seni
(Sumardjo, 2000). Pengalaman estetik  sering dialami sebagai pengalaman yang
menyenangkan dan yang diinginkan, sebuah pengalaman yang membuat hidup
bernilai dan punya makna. Pengalaman estetik adalah pengalaman yang positif
dalam arti memberi kesenangan atau kesan menarik.
 Menurut Leath (1996) seluruh pengalaman adalah pengalaman estetik
didasarkan pada perspektif bahwa seluruh pengalaman adalah kegiatan
persepsi. Persepsi yang fokus dalam arti dilakukan dengan penuh konsentrasi
adalah kualitas pengalaman estetik. Kualitas estetik dari suatu pengalaman
adalah sejumlah konsentrasi yang terlibat di dalam pengalaman. Bagi Leath,
pengalaman estetik bukan dicirikan oleh penjarakan (distance), ketidakacuhan
(disinterestedness) atau keindahan sebagaimana pendapat sementara ahli
estetika,  tetapi dihasilkan dengan konsentrasi yang tinggi dan memerlukan
waktu dalam mencerap (persepsi) suatu objek.
 Dengan demikian, keindahan berhubungan dengan rasa (persepsi) yang terkait
dengan unsur waktu dan kondisi. Menurut H.R. Hidayat Suryalaga, dalam budaya
Sunda, estetika bersifat momentum atau keberadaannya selalu terkait dalam
konteks waktu tertentu yang dalam bahasa Sunda disebut nuju pareng, atau
sedang dalam kondisi pada waktunya. Keindahan tidak selalu berlaku atau
dapat dirasa pada seluruh kondisi atau keadaan karena memiliki keterkaitan
dengan unsur waktu. Rasa waas hanya mungkin dapat muncul sebagai hasil
persepsi dalam waktu konsentrasi yang cukup.
 Waas adalah pengalaman estetik manusia Sunda yang paling sublim. Waas tidak
semata melibatkan indera di dalam merespon unsur intrinsik keindahan
pemandangan alam atau suatu objek seni ciptaan manusia akan tetapi
pengalaman indrawi itu kemudian menembus alam bawah sadar dan memberi
pengaruh yang mendalam.  Pemandangan alam Parahyangan tidak pernah hanya
melahirkan kekaguman, suka cita dan gembira, tetapi sekaligus membangkitkan
rasa haru, galau, pilu, getir, melankolik, dan sebagainya yang seluruhnya
terjadi bersamaan alias campur-aduk di dalam batin.
 Dalam konteks yang lebih luas, pengalaman estetik ini tidak hanya terjadi
dalam mengapresiasi karya seni yang indah tetapi juga peristiwa sehari-hari
yang berkualitas sehingga memberi pengalaman estetik atau mampu membuat
seseorang merasa waas (Wiartakusumah, 2010). Dalam hubunganya dengan desain
atau seni pakai, waas atau pengalaman estetik ini adalah pengalaman di dalam
menggunakan atau memakai produk desain.
 III.    Makna Bentuk Dasar dalam Ungkapan dan Peribahasa Sunda
Dalam khasanah seni rupa, desain dan arsitektur serta matematika dikenal
tiga bentuk dasar yaitu segi empat bujursangkar, lingkaran dan segitiga.
Ketiga bentuk dasar ini ditemukan dalam babasan (ungkapan) dan paribasa
(peribahasa) Sunda.
 A. Segi Empat 
Bentuk segi empat bujur sangkar terdapat dalam ungkapan “Hirup kudu masagi”.
Ungkapan yang berisi petuah yang artinya hidup harus serba bisa. Bentuk
lain, ”jelema masagi” (Natawisastra,1979:14, Hidayat, 2005:219) artinya
orang yang memiliki banyak kemampuan dan tidak ada kekurangan. Masagi
berasal dari kata pasagi (persegi) yang artinya menyerupai (bentuk) persegi.
 Ciri bujursangkar adalah keempat sisinya berukuran sama. Kesamaan ukuran
empat bidang pada bentuk bujursangkar ini diibaratkan berbagai aspek dalam
bentuk tindakan atau perbuatan di dalam kehidupan yang harus sama dalam
kualitas dan kuantitasnya. Umumnya ungkapan ini dipahami sebagai perlambang
untuk hidup serba bisa sehingga tercipta kesempurnaan perbuatan atau
perilaku dalam hidup. Pengertian serba bisa atau serba dilakukan dalam arti
positif dengan penekanan utama mengarah pada dua aspek pokok kehidupan
manusia, yaitu kehidupan duniawi (bekerja, hubungan manusia dengan manusia,
hubungan manusia dengan alam) dan kehidupan di akhirat nanti (hubungan
manusia dengan Tuhan).  Bentuk segi empat bujur sangkar secara absolut tidak
terdapat di alam. Dengan kata lain, bentuk ini adalah ciptaan imajinasi
manusia hasil abstraksi dari rupa yang ada di alam. Bentuk segi empat
lainnya, seperti empat persegi panjang adalah turunan dari bentuk bujur
sangkar ini.
 B. Lingkaran 
Bentuk lingkaran terdapat dalam ungkapan “Niat kudu buleud” (niat harus
bulat). Niat berkaitan dengan persoalan keteguhan sikap, keyakinan serta
kepercayaan yang pada ujungnya bermuara pada masalah keimanan atau
spiritual. Bentuk bulat dibuat dari garis melingkar dengan ujung saling
bertemu, dengan jari-jari dari titik pusat ke setiap sisi berukuran sama.
Bila mengacu pada bentuk-bentuk yang ada di alam tampak bahwa lingkaran
terdapat pada berbagai objek seperti bulan dan matahari di angkasa, berbagai
bentuk bunga-seperti bunga teratai dan beberapa jenis daun memiliki bentuk
dasar lingkaran atau bulat. Bentuk lingkaran mempunyai keunikan yang tidak
dimiliki bentuk dasar lain, seperti riak di permukaan air. Bila permukaan
air tersebut terganggu seperti karena suatu objek jatuh pada permukaan air
tersebut, di sekitar objek, karena pengaruh gravitasi, air bereaksi dengan
membentuk lingkaran yang bergerak membesar mengitari objek.
 Di luar budaya Sunda, bentuk lingkaran dalam konteks yang lebih luas, telah
banyak dipakai sebagai penanda bagi makna spiritual dalam berbagai wilayah
seperti seni, agama dan ideologi. Misalnya dalam tradisi seni lukis
Kristen/Katolik, untuk memberi tanda suci pada objek manusia, biasanya
diberi lingkaran putih di sekitar kepala (halo). Sementara dalam wilayah
agama Islam, meski tidak ada aturan formal mengenai lambang, bentuk bulan
dalam bentuk yang mudah dikenali yaitu bulan sabit, umumnya dipahami
sebagai  lambang islami. Contoh yang umum adalah sebagai tanda tempat ibadah
muslim seperti yang terdapat pada puncak menara atau atap masjid. Sebagian
lambang tersebut dilengkapi dengan simbol bintang segi lima.
 C. Segi tiga
Bentuk segi tiga terdapat dalam ungkapan “bale nyungcung”dan Buana Nyuncung
(tempat para dewa dan hyang dalam kosmologi masyarakat Kanekes). Bale
Nyungcung adalah sebutan lain untuk tempat atau bangunan suci, yang dalam
Islam adalah masjid. Kalimat ka bale nyungcung dalam percakapan sehari-hari
maksudnya melangsungkan akad nikah, yang jaman dahulu umumnya dilakukan di
masjid. Bale nyungcung menunjuk pada model atap masjid jaman dulu yang
menggunakan ‘model gunungan’ atau ‘meru’ bertumpuk tiga dengan puncak
berbentuk atap limas yang disusun dari empat bentuk segitiga. Bentuk yang
juga dapat ditemui pada atap pura di Bali dan bangunan model tropis. Bentuk
segitiga dalam posisi normal, salah satu ujungnya berada di bagian atas,
menjadi bagian puncak sehingga memiliki arah orientasi yaitu ke atas
(langit).
 Mengacu pada alam, bentuk nyungcung adalah bentuk umum gunung. Gunung
berperan penting dalam perjalanan sejarah Sunda khususnya karena berbagai
situs megalitikum dan makam keramat umumnya terdapat di gunung (Wessing
:2006). Wessing lebih jauh mengungkapkan penelitian Hidding (1933 dan 1935)
bahwa pegunungan adalah perbatasan antara hunian manusia (settled area) dan
wilayah asing tempat kehidupan manusia berakhir dan kehidupan lain mulai.
Misalnya situs Gunung Padang di Cianjur dan Ciwidey, Astana Gede Kawali dan
Arca Domas di gunung Kendeng desa Kanekes (Baduy).
 Menurut Fadillah (2001) sejumlah keramat, terutama dalam bentuk makam,
meskipun tidak berada di puncak gunung tetapi merupakan representasi gunung
atau dibayangkan sebagai gunung. Fadillah menggunakan contoh makam Syarif
Hidayatullah di sebuah bukit bernama Sembung di Cirebon,  masyarakat
menyebutnya Sunan Gunung Jati. Menurut Claire Holt (1967:55) puncak puncak
gunung di Indonesia dipercaya secara luas sebagai tempat tinggal para dewa
dan roh-roh  leluhur. Juga gunung-gunung berapi dianggap memiliki kehidupan
serta roh mereka sendiri, dipuja dan dihormati. Gunung dianggap sebagai
jembatan dunia atas dan bawah, oleh karenanya tempat-tempat pemujaan
didirikan di tempat yang tinggi atau dibuat meniru bentuk gunung (gunungan)
seperti punden berundak dan candi serta piramid sebagai jembatan
transendental antara dunia atas dan dunia bawah (Dharsono, 2007: 133). Dalam
pandangan Hindu-Budha, gunung dianggap berperan dalam menstabilkan jagat
raya (univers), menyangga langit dan bumi, menetralkan kekuatan jahat, 
kekacauan, ketidakstabilan dan ketidakteraturan. Gunung adalah lambang
kekuasaan tertinggi dan sebagai  pengikat jagat raya (Snodgrass, 1985:187).
 Pengertian atau makna simbolik lainnya mengenai segitigadituturkan Ajip
Rosidi[4], yaitu bahwa bentuk segitiga (dalam bahasa Sunda disebut jurutilu)
juga dipakai sebagai simbol vagina atau yoni, tempat bagi kelahiran
manusia.  Tampaknya simbol itu dalam bentuk segitiga terbalik atau salah
satu sudut terletak di bawah. Dengan demikian segi tiga mengandung makna
sebagai tempat suci bagi transformasi kehidupan. Segi tiga dengan satu sudut
di atas melambangkan tempat suci bagi transformasi ke alam lain melalui
kematian sedang segi tiga dengan satu sudut di bawah melambangkan tempat
suci bagi transformasi dari alam rahim ke alam dunia melalui kelahiran.
 Dari makna bentuk dasar dalam ungkapan dan peribahasa di atas tampak bahwa
masing-masing bentuk dasar dalam khasanah estetika dalam budaya Sunda
dipakai sebagai lambang yang memiliki makna yang sama yaitu kesempurnaan.
Bentuk yang berbeda menunjuk pada wilayah kesempurnaan yang berbeda. Persegi
menunjuk pada perilaku yang seimbang dalam berbagai sisi kehidupan sehingga
menciptakan manusia yang sempurna, bulat/lingkaran sebagai simbol ideologis,
melambangkan kesempurnaan keimanan atau keyakinan dan segitiga menunjuk pada
tempat yang sempurna atau suci sebagai media transformasi kesempurnaan
siklus hidup.
 IV. Hubungan Estetika dan Etika dalam Budaya Sunda
Menurut Hidayat Suryalaga (2008), dalam kebudayaan Sunda, estetika tidak
berdiri sendiri, tetapi memiliki kaitan sangat erat dengan etika. Etika
adalah masalah ukuran salah dan benar, baik dan buruk, berhubungan dengan
tatakrama dan sopan santun, moral, akhlak yang berasal dari ajaran religi.
Dalam implementasinya, estetika hakikatnya dipakai sebagai “wadah” dan etika
adalah “isi”. Isi harus bermanfaat bagi martabat kemanusiaan baik pribadi
maupun komunal, sedang bungkus atau wadahnya harus indah agar melahirkan
kenikmatan indrawi dan lahir batin manusia. Estetika adalah bahasa rasa,
ungkapan yang diciptakan dan diterima/direspon dengan rasa melalui indra.
Estetika tidak hanya bersifat denotatif tetapi juga konotatif.
 Dalam kehidupan masyarakat Sunda, estetika tergambar tidak hanya di dalam
kesenian tetapi juga dalam perilaku dan bahasa. Etika yang tampak merupakan
tata aturan berkehidupan yang sesungguhnya juga mengandung unsur estetika.
Etika dan estetika diciptakan oleh komunitas. Berdasarkan perkembangannya,
estetika awalnya bersifat individual atau tergantung selera individual dan
menjadi estetika umum ketika diakui oleh komunitasnya dan menjadi bersifat
normatif dan dapat dipakai sebagai penanda sesuatu yang khas. Seperti halnya
etika, estetika dapat bersifat tidak langsung, yaitu dengan cara
menghadirkan media lain dengan cara simbolik (Suryalaga, 2008).
 V. Kesimpulan
Bahasa Sunda merupakan konstruksi budaya Sunda yang di dalamnya tersimpan
khasanah budaya termasuk estetika. Dari khasanah bahasa Sunda, ditemukan
konsep estetika yang khas yang dapat disusun ke dalam teori estetika Sunda
yang sebangun dengan berbagai teori estetika (Barat) yang ada. Kesetaraan
tersebut misalnya dapat dilihat dari makna bentuk dasar yang terdapat pada
ungkapan dan peribahasa yang menunjukkan pengertian yang universal.  
 Dalam kebudayaan Sunda, eksistensi estetika selalu terkait dengan etika.
Etika berperan sebagai ”wadah” dan etika sebagai ”isi” sebagaimana terdapat
dalam makna bentuk dasar. Bentuk rupa atau estetika formal memiliki muatan
estetika simbolik yaitu pesan moral atau etika. Adanya hubungan yang erat
antara estetika dan etika menunjukkan bahwa pada hakikatnya seni ditujukan
pada kemuliaan kehidupan manusia dalam kerangka keimanan pada Tuhan.
 Konsep estetika dalam budaya rupa Sunda dapat diformulasikan ke dalam tiga
istilah yaitu siga, sarupaning dan waas. Siga adalah cara atau teknik
penciptaan dan penilaian objek estetik baik dengan pendekatan estetika fomal
maupun simbolik. Sarupaning menunjuk pada unsur kreativitas yaitu keragaman
cara atau teknik penciptaan yang menghasilkan keberagaman objek atau karya.
Waas menunjuk pada apa yang di dalam seni rupa disebut pengalaman estetik. 
 Upaya manusia adalah mencari kebenaran yang ditempuh melalui agama, seni,
filsafat, dan ilmu. Budaya rupa atau seni rupa Sunda turut berperan serta
dalam pencarian kebenaran tersebut dengan menyediakan konsepnya dalam
khasanah bahasa Sunda. Karena kebenaran sejati itu milik Tuhan, segala upaya
manusia untuk mendekati kebenaran tersebut bersifat relatif dan masyarakat
Sunda sangat menyadarinya sehingga mempunyai istilah khas yaitu ”ngan ukur
siga”.
 
 
PUSTAKA
 Dharsono, Soni Kartika, (2007), Estetika, Rekayasa Sains, Bandung
Hidayat, Rachmat Taufik, Haerudin Dinding, Muhtadin, Teddy AN Darpan,
Sastramidjaja,  (2005), Peperenian Urang Sunda, Kiblat Buku Utama, Bandung.
Holt, Claire Holt, 1967, Art in Indonesia, Cornel University Press, New
York.
Mintaredja, Roza R. (2008) “Wujud Kearifan Lokal pada Arsitektur Sunda”,
makalah,  disampaikan dalam Sawala Estetika Sunda di Pusat Studi Sunda, 15
Februari.
Natawisastra, Mas (1979),  Saratus Paribasa Jeung Babasan III, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan
Prawira, Nanang Ganda (1999), Pamandangan, Reka Hias Baduy: Fungsi, Bentuk,
Motif, Simbol dan Makna, Seni Kriya dan Rekahias Baduy di Desa Kanekes
Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Jawa Barat, tesis, Program Pascasarjana
ITB.
Sumardjo, Jakob (2000), Filsafat Seni, Penerbit ITB Bandung
Suryalaga, HR Hidayat (2008): Etika jeung Estetika anu Dikandung dina
Folklor Sunda,   Sawala Estetika Sunda di Pusat Studi Sunda, 15   Februari
Sudjoko, 2001, Pengantar Seni Rupa, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta
Snodgrass, Adrian, (1985), The Symbolism of Stupa, Cornell South Asia
Program
Fadillah, Moh. Ali (2006): Pengultusan Orang Suci pada Masyarakat Sunda:
Sebuah Kontinuitas Unsur Budaya , prosiding  Konferensi Internasional Budaya
Sunda, jilid 1, Bandung, Rosidi, Ajip, Ekadjati, Edi S., Alwasilah, A.
Chaedar, Editor, Yayasan Kebudayaan Rancage, 419-432
Wessing, Robert (2006): Telling the Landscape: Place and Meaning in Sunda,
prosiding Konferensi Internasional Budaya Sunda, Bandung, Rosidi, Ajip, 
Ekadjati,  Edi S., Alwasilah, A. Chaedar, Editor, Yayasan Kebudayaan
Rancange, 450-474, jilid 1.
Wiartakusumah, Jamaludin (2008): Mencari Estetika dalam Budaya Rupa Sunda,
Pikiran Rakyat, 5 April
Wiartakusumah, Jamaludin, (2009):  Estetika Sunda, Kompas Jawa Barat, 28
Februari.
Wiartakusumah, Jamaludin (2010): Waas dan Mudik, Pengalaman Estetik, Kompas
  Jawa Barat, 8 September
 
internet:
Leath, Colin, (1996), The Aesthetic Experience, 
http://purl.oclc.org/net/cleath/writings/asexp13.htm, diunduh 15 Nov. 2010
 
---
Disampaikan pada seminar internasional Reformulasi & Transformasi Budaya
Sunda
Fakultas Sastra Universitas Padjajaran Jatinangor, 10 Februari 2010
 
  
[1] Cerita mengenai Si Kabayan yang tengah berjalan kaki. Ketika berjalan di
tanjakan, yang memerlukan upaya lebih berat, dia malah tertawa karena dia
tahu setelah tanjakan akan menemukan jalan menurun (pudunan) dan sebaliknya,
ketika berjalan di pudunan, yang tidak menguras tenaga, Kabayan malah
menangis karena akan menemukan tanjakan.
 [2] Wawancara tanggal 15 Mei 2008
 [3] Wawancara tanggal 1 Desember 2008
 [4] Wawancara dengan Ajip Rosidi, 1 Desember 2008.
 << File: ATT00553.txt >> 



------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke