mangga kaci pisan. sebarkeun sa alam dunya sangkan dunya apal, budaya
sunda oge boga konsep estetika, salila ieu di sakolaan, nu diusung teh
ngan ti yunani kuno wae, plato, aristoteles, jsb.nepi ka
fasad/beungeut wangunan panghareupna gedong MK, make model wangunan
yunani kuno, eta nu make tihang/kolom ngajajar. hehe.


On 3/6/11, [email protected] <[email protected]> wrote:
> Mang ijin kopas di blog
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, bayar
> teyusss.....
>
> -----Original Message-----
> From: "Mang Kabayan" <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Thu, 3 Mar 2011 10:25:38
> To: <[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: RE: [kisunda] FW: makalah si kuring tea : konsep estetika
> sunda....
>
> Mang alus tah tulisan teh, Ku kuring urang tangkodkeun di www.kasundaan.org
> hehehe soalna loba oge anu macaan web kuring :D.
>
> _____________________________________________
> From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
> mj
> Sent: 03 Maret 2011 9:00
> To: [email protected]
> Subject: [kisunda] FW: makalah si kuring tea : konsep estetika sunda....
>
>
>
>
> KONSEP ESTETIKA DALAM BUDAYA RUPA SUNDA
> SEBUAH KAJIAN AWAL
>
> Jamaludin
> Jurusan Desain Interior FSRD ITENAS
>
>   I.       Pendahuluan
>  Keindahan panorama Tatar Sunda membuatnya mendapat julukan Parahyangan
> atau
> Priangan, yang berarti tempat para dewa. Keindahan alam Priangan tersusun
> dari pegunungan dan lembah yang menciptakan kontras tinggi-rendah, aneka
> warna alam berupa gradasi warna dedaunan dan pepohonan, membentuk hutan
> yang
> menyelimuti gunung, ditambah dengan sungai yang mengalir dari gunung ke
> lembah dan di atasnya matahari tropis menyinari setiap hari sepanjang tahun
> sehingga semua terang benderang.
>  Keindahan alam dan romantika kehidupan di dalamnya melahirkan karya seni
> musik yang khas dengan nada yang cenderung melankolik seperti tercermin
> dalam seni musik kecapi-suling dan seni suara yang dikenal dengan nama
> tembang Cianjuran, menggunakan tempat berkembangnya kesenian tersebut yaitu
> Cianjur, yang dialek bahasa Sundanya paling halus. Di sisi lain, kondisi
> alam tersebut juga melahirkan budaya periang yang tercermin dengan adanya
> budaya humor berbentuk parodi yang  menertawakan diri sendiri, seperti
> tercermin dalam cerita Si Kabayan.[1]
> Dua fenomena ini, tembang Cianjuran yang melankolik dan  humor parodi
> cerita
> Si Kabayan dapat dikatakan sebagai gambaran paradoksial dua sisi kebudayaan
> Sunda (Wiartakusumah, 2009). Menurut Harsojo (dalam Koentjaraningrat,
> 2004:310), dari bahasa dan keseniannya dan sikap sehari-hari, tipe ideal
> orang Sunda secara umum adalah optimis, suka dan mudah gembira, berwatak
> terbuka tetapi sering bersifat terlalu perasa sehingga menciptakan istilah
> ”pundung”.
>  Bagi masyarakat Sunda, pemandangan alam umumnya tidak hanya dilihat
> sebagai
> objek yang indah tetapi memberi gambaran lain yang bersifat reflektif dan
> spiritual seperti mengenang pengalaman/masa lalu, perjalanan hidup, serta
> kebesaran dan keagungan Tuhan.  Soewarno Darsoprajitno (2001) menjelaskan
> bahwa geografi tata ruang alam Parahyangan yang indah yang sudah tersedia
> inilah yang ikut membentuk perilaku budaya masyarakat Sunda menjadi
> toleran,
> apresiatif dan akomodatif. Kondisi alam yang indah itu menciptakan
> masyarakat yang dalam khasanah bahasanya memiliki perbendaharaan kata yang
> khas yaitu waas (Wiartakusumah,2009).
>  Khusus mengenai istilah pemandangan, masyarakat Kanekes (Baduy) mempunyai
> pengertian lain. Selain sebutan untuk panorama alam, mereka menyebut hiasan
> berupa motif pada tenunan, ukiran pada hulu golok dan rekahias lainnya
> dengan istilah pamandangan (Prawira, 1999, dan informasi dari Bapak Mursid,
> wakil Jaro Kanekes dari Cibeo). Bagi masyarakat Kanekes, pamandangan
> berarti
> ”sarupaning anu katingalna endah” (segala sesuatu yang terlihat indah).
> Kata
> pemandangan berarti objek yang indah untuk dipandang, sebagaimana bentangan
> alam yang selain menampilkan bentuk fisik dalam komposisi berbagai objek
> juga kemudian menciptakan sensasi atau dicerap (persepsi) menjadi
> pengalaman
> yang melahirkan rasa waas.
>  Dari segi pemilihan kata/istilah dalam bahasa Sunda, Sudjoko dalam
> Pengantar Seni Rupa (2001:66) menjelaskan kecenderungan umum orang Sunda
> yang lebih memilih menggunakan kata alus untuk menyebut objek-objek yang
> indah. Sementara kata indah dalam bahasa Sunda adalah endah. Arti alus
> adalah bagus atau baik, istilah yang lebih umum dan dipakai secara luas.
> Istilah lain adalah hade. Padanan kata alus dan hade ini dalam bahasa
> Inggris adalah good.
>  II.          Kata Kunci Estetika Sunda
> Sebagai seorang seniman senior dan tumbuh dalam latar budaya Sunda,
> Setiawan
> Sabana[2] secara intuitif menemukan beberapa istilah dalam bahasa Sunda
> yang
> menurutnya dapat dijadikan kata kunci estetika. Istilah tersebut adalah
>  siga, sarupaning dan waas. Berikut analisis ketiga kata kunci tersebut.
>  A.     Siga
> Ungkapan keindahan dalam budaya Sunda umumnya menggunakan alam sebagai
> sumber acuan atau sebagai tolok-ukur dan perbandingan. Alam dipandang
> sebagai acuan atau kondisi sempurna bagi keindahan yang diciptakan manusia.
> Menurut Ajip Rosidi[3], orang Sunda mempunyai cara penilaian khas terhadap
> suatu objek estetik. Apabila melihat pemandangan yang indah, orang Sunda
> akan mengatakan ”siga lukisan” dan sebaliknya, bila ada lukisan yang
> benar-benar bagus maka ungkapannya menjadi ”siga enya” atau indah seperti
> kenyataan. Dengan demikian, konsep keindahan yang dipahami masyarakat Sunda
> memiliki hubungan timbal-balik antara alam dan rekaan.
>  Istilah siga ini menunjuk pada upaya atau teknik penciptaan berupa
> peniruan
> terhadap objek alam ke dalam rekaan. Rekaan manusia hanya mengandung
> pengertian ’seperti’ atau ’menyerupai’ objek yang ditiru. Siga tidak
> dimaknai sebagai rupa yang persis dengan objek alam yang ditiru, tetapi
> hanya mengandung makna proksimitas atau kedekatan dalam kemiripan rupa.
> Pengertian lain yaitu adanya kesadaran atas kemampuan manusia membuat
> peniruan terhadap ciptaan Tuhan, sehingga kemiripan karya terhadap objek
> yang ditiru bersifat relatif. Dalam lingkup estetika simbolik, siga ini
> mengandung makna asosiatif.
>  Pengertian siga banyak dipakai di dalam penggunaan alam sebagai sumber
> acuan. Contohnya adalah penamaan bentuk atap pada bangunan tradisional
> Sunda. Umumnya penamaan model atap menggunakan atau diasosiasikan ke dalam
> bentuk-bentuk kondisi satwa tertentu didasarkan pada kedekatan rupa atau
> siga. Misalnya saung rangon, julang ngapak, jogo/tagog anjing dan badak
> heuay.
>  B. Sarupaning
> Kata sarupaning dalam kalimat ”sarupaning anu katingalna endah” di atas
> menunjuk pada pemahaman bahwa keindahan terdapat dalam berbagai objek baik
> alam maupun rekaan. Istilah itu juga menyiratkan adanya kreativitas yang
> beragam di dalam cara atau teknik dan proses penciptaan dengan karya yang
> juga beragam. Demikian halnya keberagaman cara penilaian keindahan dapat
> diterapkan pada berbagai objek baik alam maupun rekaan seperti karya seni
> atau desain. Suatu objek yang memiliki kualitas estetik digubah dari
> konfigurasi keragaman (sarupaning) objek. Contohnya dapat dilihat dalam
> ungkapan dan peribahasa mengenai deskripsi kecantikan perempuan.
>              Angkeut endog sapotong  (dagu seperti telur separuh)
>             Ramo pucuk eurihan  (jemari seperti pucuk ilalang)
>             Lambey jeruk sapasi (bibir seperti jeruk sekerat/sepasi)
>             Halis ngajeler paeh (alis seperti ikan jeler mati)
>             Cangkeng lenggik nanding papanting  (pinggang ramping menyaingi
> papanting)
>             Taar teja mentrangan  (kening terang bersinar)
>             damis kuwung-kuwungan  (pipi merona pelangi)
>             bitis hejo carulang (betis mulus dan bening)
>  Untaian kalimat di atas menggunakan berbagai (sarupaning) elemen dari
> objek
> alam beserta keterangan kondisinya dengan pendekatan siga dalam konteks
> estetika simbolik-asosiatif. Masing-masing elemen dikomposisikan pada
> bagian
> tubuh perempuan sesuai sifat rupa atau bentuknya untuk menggambarkan
> komposisi keindahan ideal.
>  C. Waas
> Dalam  Kamus Basa Sunda susunan Danadibrata, (2006), waas dijelaskan
> sebagai ”rasa dina waktu urang nenjo pamandangan,” (rasa manakala kita
> melihat pemandangan). Kamus Umum Basa Sunda (Lembaga Basa & Sastra Sunda,
> 1980) waas diartikan ”rasa hate waktu inget kana pangalaman nu matak resep
> patali jeung deengan, tetenjoan, jste” (Rasa hati ketika teringat
> pengalaman
> yang disukai berkaitan dengan pendengaran, penglihatan, dsb). Sementara
> menurut kamus Sunda-Inggris paling tua, A Dictionary of The Sunda Language
> of Java, (Jonathan Rigg, 1862) waas dijelaskan sebagai berikut:
> ”said when a pleasurable feeling is caused by seeing some one or something
> which reminds us of what we  ourselves possess, but which, for the moment,
> is out of our reach. A happy or pleasing remembrance or emotion regarding
> something which we do not at the moment see (as see a woman’s gown causes
> sentimental emotions).
>  Dari definisi waas di atas tampak bahwa pengalaman yang terkandung di
> dalamnya tidak semata berupa pengalaman atas hal-hal yang indah di alam
> tetapi juga berbagai hal lainnya yang mampu menggugah perhatian indera,
> menggerakkan hati, memperkaya batin dan menggetarkan jiwa. Istilah waas,
> sebagaimana pengertian yang lebih rinci dari Jonathan Rigg di atas,
> memenuhi
> pengertian pengalaman estetik. Dengan kata lain, waas adalah apa yang dalam
> seni rupa atau estetika dikenal dengan istilah ‘pengalaman estetik’
> (asthetic experience).
>  Dalam Ilmu Seni, pengalaman menikmati benda seni disebut pengalaman seni
> atau pengalaman estetik atau respon estetik yang dialami oleh penikmat seni
> (Sumardjo, 2000). Pengalaman estetik  sering dialami sebagai pengalaman
> yang
> menyenangkan dan yang diinginkan, sebuah pengalaman yang membuat hidup
> bernilai dan punya makna. Pengalaman estetik adalah pengalaman yang positif
> dalam arti memberi kesenangan atau kesan menarik.
>  Menurut Leath (1996) seluruh pengalaman adalah pengalaman estetik
> didasarkan pada perspektif bahwa seluruh pengalaman adalah kegiatan
> persepsi. Persepsi yang fokus dalam arti dilakukan dengan penuh konsentrasi
> adalah kualitas pengalaman estetik. Kualitas estetik dari suatu pengalaman
> adalah sejumlah konsentrasi yang terlibat di dalam pengalaman. Bagi Leath,
> pengalaman estetik bukan dicirikan oleh penjarakan (distance),
> ketidakacuhan
> (disinterestedness) atau keindahan sebagaimana pendapat sementara ahli
> estetika,  tetapi dihasilkan dengan konsentrasi yang tinggi dan memerlukan
> waktu dalam mencerap (persepsi) suatu objek.
>  Dengan demikian, keindahan berhubungan dengan rasa (persepsi) yang terkait
> dengan unsur waktu dan kondisi. Menurut H.R. Hidayat Suryalaga, dalam
> budaya
> Sunda, estetika bersifat momentum atau keberadaannya selalu terkait dalam
> konteks waktu tertentu yang dalam bahasa Sunda disebut nuju pareng, atau
> sedang dalam kondisi pada waktunya. Keindahan tidak selalu berlaku atau
> dapat dirasa pada seluruh kondisi atau keadaan karena memiliki keterkaitan
> dengan unsur waktu. Rasa waas hanya mungkin dapat muncul sebagai hasil
> persepsi dalam waktu konsentrasi yang cukup.
>  Waas adalah pengalaman estetik manusia Sunda yang paling sublim. Waas
> tidak
> semata melibatkan indera di dalam merespon unsur intrinsik keindahan
> pemandangan alam atau suatu objek seni ciptaan manusia akan tetapi
> pengalaman indrawi itu kemudian menembus alam bawah sadar dan memberi
> pengaruh yang mendalam.  Pemandangan alam Parahyangan tidak pernah hanya
> melahirkan kekaguman, suka cita dan gembira, tetapi sekaligus membangkitkan
> rasa haru, galau, pilu, getir, melankolik, dan sebagainya yang seluruhnya
> terjadi bersamaan alias campur-aduk di dalam batin.
>  Dalam konteks yang lebih luas, pengalaman estetik ini tidak hanya terjadi
> dalam mengapresiasi karya seni yang indah tetapi juga peristiwa sehari-hari
> yang berkualitas sehingga memberi pengalaman estetik atau mampu membuat
> seseorang merasa waas (Wiartakusumah, 2010). Dalam hubunganya dengan desain
> atau seni pakai, waas atau pengalaman estetik ini adalah pengalaman di
> dalam
> menggunakan atau memakai produk desain.
>  III.    Makna Bentuk Dasar dalam Ungkapan dan Peribahasa Sunda
> Dalam khasanah seni rupa, desain dan arsitektur serta matematika dikenal
> tiga bentuk dasar yaitu segi empat bujursangkar, lingkaran dan segitiga.
> Ketiga bentuk dasar ini ditemukan dalam babasan (ungkapan) dan paribasa
> (peribahasa) Sunda.
>  A. Segi Empat
> Bentuk segi empat bujur sangkar terdapat dalam ungkapan “Hirup kudu
> masagi”.
> Ungkapan yang berisi petuah yang artinya hidup harus serba bisa. Bentuk
> lain, ”jelema masagi” (Natawisastra,1979:14, Hidayat, 2005:219) artinya
> orang yang memiliki banyak kemampuan dan tidak ada kekurangan. Masagi
> berasal dari kata pasagi (persegi) yang artinya menyerupai (bentuk)
> persegi.
>  Ciri bujursangkar adalah keempat sisinya berukuran sama. Kesamaan ukuran
> empat bidang pada bentuk bujursangkar ini diibaratkan berbagai aspek dalam
> bentuk tindakan atau perbuatan di dalam kehidupan yang harus sama dalam
> kualitas dan kuantitasnya. Umumnya ungkapan ini dipahami sebagai perlambang
> untuk hidup serba bisa sehingga tercipta kesempurnaan perbuatan atau
> perilaku dalam hidup. Pengertian serba bisa atau serba dilakukan dalam arti
> positif dengan penekanan utama mengarah pada dua aspek pokok kehidupan
> manusia, yaitu kehidupan duniawi (bekerja, hubungan manusia dengan manusia,
> hubungan manusia dengan alam) dan kehidupan di akhirat nanti (hubungan
> manusia dengan Tuhan).  Bentuk segi empat bujur sangkar secara absolut
> tidak
> terdapat di alam. Dengan kata lain, bentuk ini adalah ciptaan imajinasi
> manusia hasil abstraksi dari rupa yang ada di alam. Bentuk segi empat
> lainnya, seperti empat persegi panjang adalah turunan dari bentuk bujur
> sangkar ini.
>  B. Lingkaran
> Bentuk lingkaran terdapat dalam ungkapan “Niat kudu buleud” (niat harus
> bulat). Niat berkaitan dengan persoalan keteguhan sikap, keyakinan serta
> kepercayaan yang pada ujungnya bermuara pada masalah keimanan atau
> spiritual. Bentuk bulat dibuat dari garis melingkar dengan ujung saling
> bertemu, dengan jari-jari dari titik pusat ke setiap sisi berukuran sama.
> Bila mengacu pada bentuk-bentuk yang ada di alam tampak bahwa lingkaran
> terdapat pada berbagai objek seperti bulan dan matahari di angkasa,
> berbagai
> bentuk bunga-seperti bunga teratai dan beberapa jenis daun memiliki bentuk
> dasar lingkaran atau bulat. Bentuk lingkaran mempunyai keunikan yang tidak
> dimiliki bentuk dasar lain, seperti riak di permukaan air. Bila permukaan
> air tersebut terganggu seperti karena suatu objek jatuh pada permukaan air
> tersebut, di sekitar objek, karena pengaruh gravitasi, air bereaksi dengan
> membentuk lingkaran yang bergerak membesar mengitari objek.
>  Di luar budaya Sunda, bentuk lingkaran dalam konteks yang lebih luas,
> telah
> banyak dipakai sebagai penanda bagi makna spiritual dalam berbagai wilayah
> seperti seni, agama dan ideologi. Misalnya dalam tradisi seni lukis
> Kristen/Katolik, untuk memberi tanda suci pada objek manusia, biasanya
> diberi lingkaran putih di sekitar kepala (halo). Sementara dalam wilayah
> agama Islam, meski tidak ada aturan formal mengenai lambang, bentuk bulan
> dalam bentuk yang mudah dikenali yaitu bulan sabit, umumnya dipahami
> sebagai  lambang islami. Contoh yang umum adalah sebagai tanda tempat
> ibadah
> muslim seperti yang terdapat pada puncak menara atau atap masjid. Sebagian
> lambang tersebut dilengkapi dengan simbol bintang segi lima.
>  C. Segi tiga
> Bentuk segi tiga terdapat dalam ungkapan “bale nyungcung”dan Buana Nyuncung
> (tempat para dewa dan hyang dalam kosmologi masyarakat Kanekes). Bale
> Nyungcung adalah sebutan lain untuk tempat atau bangunan suci, yang dalam
> Islam adalah masjid. Kalimat ka bale nyungcung dalam percakapan sehari-hari
> maksudnya melangsungkan akad nikah, yang jaman dahulu umumnya dilakukan di
> masjid. Bale nyungcung menunjuk pada model atap masjid jaman dulu yang
> menggunakan ‘model gunungan’ atau ‘meru’ bertumpuk tiga dengan puncak
> berbentuk atap limas yang disusun dari empat bentuk segitiga. Bentuk yang
> juga dapat ditemui pada atap pura di Bali dan bangunan model tropis. Bentuk
> segitiga dalam posisi normal, salah satu ujungnya berada di bagian atas,
> menjadi bagian puncak sehingga memiliki arah orientasi yaitu ke atas
> (langit).
>  Mengacu pada alam, bentuk nyungcung adalah bentuk umum gunung. Gunung
> berperan penting dalam perjalanan sejarah Sunda khususnya karena berbagai
> situs megalitikum dan makam keramat umumnya terdapat di gunung (Wessing
> :2006). Wessing lebih jauh mengungkapkan penelitian Hidding (1933 dan 1935)
> bahwa pegunungan adalah perbatasan antara hunian manusia (settled area) dan
> wilayah asing tempat kehidupan manusia berakhir dan kehidupan lain mulai.
> Misalnya situs Gunung Padang di Cianjur dan Ciwidey, Astana Gede Kawali dan
> Arca Domas di gunung Kendeng desa Kanekes (Baduy).
>  Menurut Fadillah (2001) sejumlah keramat, terutama dalam bentuk makam,
> meskipun tidak berada di puncak gunung tetapi merupakan representasi gunung
> atau dibayangkan sebagai gunung. Fadillah menggunakan contoh makam Syarif
> Hidayatullah di sebuah bukit bernama Sembung di Cirebon,  masyarakat
> menyebutnya Sunan Gunung Jati. Menurut Claire Holt (1967:55) puncak puncak
> gunung di Indonesia dipercaya secara luas sebagai tempat tinggal para dewa
> dan roh-roh  leluhur. Juga gunung-gunung berapi dianggap memiliki kehidupan
> serta roh mereka sendiri, dipuja dan dihormati. Gunung dianggap sebagai
> jembatan dunia atas dan bawah, oleh karenanya tempat-tempat pemujaan
> didirikan di tempat yang tinggi atau dibuat meniru bentuk gunung (gunungan)
> seperti punden berundak dan candi serta piramid sebagai jembatan
> transendental antara dunia atas dan dunia bawah (Dharsono, 2007: 133).
> Dalam
> pandangan Hindu-Budha, gunung dianggap berperan dalam menstabilkan jagat
> raya (univers), menyangga langit dan bumi, menetralkan kekuatan jahat,
> kekacauan, ketidakstabilan dan ketidakteraturan. Gunung adalah lambang
> kekuasaan tertinggi dan sebagai  pengikat jagat raya (Snodgrass, 1985:187).
>  Pengertian atau makna simbolik lainnya mengenai segitigadituturkan Ajip
> Rosidi[4], yaitu bahwa bentuk segitiga (dalam bahasa Sunda disebut
> jurutilu)
> juga dipakai sebagai simbol vagina atau yoni, tempat bagi kelahiran
> manusia.  Tampaknya simbol itu dalam bentuk segitiga terbalik atau salah
> satu sudut terletak di bawah. Dengan demikian segi tiga mengandung makna
> sebagai tempat suci bagi transformasi kehidupan. Segi tiga dengan satu
> sudut
> di atas melambangkan tempat suci bagi transformasi ke alam lain melalui
> kematian sedang segi tiga dengan satu sudut di bawah melambangkan tempat
> suci bagi transformasi dari alam rahim ke alam dunia melalui kelahiran.
>  Dari makna bentuk dasar dalam ungkapan dan peribahasa di atas tampak bahwa
> masing-masing bentuk dasar dalam khasanah estetika dalam budaya Sunda
> dipakai sebagai lambang yang memiliki makna yang sama yaitu kesempurnaan.
> Bentuk yang berbeda menunjuk pada wilayah kesempurnaan yang berbeda.
> Persegi
> menunjuk pada perilaku yang seimbang dalam berbagai sisi kehidupan sehingga
> menciptakan manusia yang sempurna, bulat/lingkaran sebagai simbol
> ideologis,
> melambangkan kesempurnaan keimanan atau keyakinan dan segitiga menunjuk
> pada
> tempat yang sempurna atau suci sebagai media transformasi kesempurnaan
> siklus hidup.
>  IV. Hubungan Estetika dan Etika dalam Budaya Sunda
> Menurut Hidayat Suryalaga (2008), dalam kebudayaan Sunda, estetika tidak
> berdiri sendiri, tetapi memiliki kaitan sangat erat dengan etika. Etika
> adalah masalah ukuran salah dan benar, baik dan buruk, berhubungan dengan
> tatakrama dan sopan santun, moral, akhlak yang berasal dari ajaran religi.
> Dalam implementasinya, estetika hakikatnya dipakai sebagai “wadah” dan
> etika
> adalah “isi”. Isi harus bermanfaat bagi martabat kemanusiaan baik pribadi
> maupun komunal, sedang bungkus atau wadahnya harus indah agar melahirkan
> kenikmatan indrawi dan lahir batin manusia. Estetika adalah bahasa rasa,
> ungkapan yang diciptakan dan diterima/direspon dengan rasa melalui indra.
> Estetika tidak hanya bersifat denotatif tetapi juga konotatif.
>  Dalam kehidupan masyarakat Sunda, estetika tergambar tidak hanya di dalam
> kesenian tetapi juga dalam perilaku dan bahasa. Etika yang tampak merupakan
> tata aturan berkehidupan yang sesungguhnya juga mengandung unsur estetika.
> Etika dan estetika diciptakan oleh komunitas. Berdasarkan perkembangannya,
> estetika awalnya bersifat individual atau tergantung selera individual dan
> menjadi estetika umum ketika diakui oleh komunitasnya dan menjadi bersifat
> normatif dan dapat dipakai sebagai penanda sesuatu yang khas. Seperti
> halnya
> etika, estetika dapat bersifat tidak langsung, yaitu dengan cara
> menghadirkan media lain dengan cara simbolik (Suryalaga, 2008).
>  V. Kesimpulan
> Bahasa Sunda merupakan konstruksi budaya Sunda yang di dalamnya tersimpan
> khasanah budaya termasuk estetika. Dari khasanah bahasa Sunda, ditemukan
> konsep estetika yang khas yang dapat disusun ke dalam teori estetika Sunda
> yang sebangun dengan berbagai teori estetika (Barat) yang ada. Kesetaraan
> tersebut misalnya dapat dilihat dari makna bentuk dasar yang terdapat pada
> ungkapan dan peribahasa yang menunjukkan pengertian yang universal.
>  Dalam kebudayaan Sunda, eksistensi estetika selalu terkait dengan etika.
> Etika berperan sebagai ”wadah” dan etika sebagai ”isi” sebagaimana terdapat
> dalam makna bentuk dasar. Bentuk rupa atau estetika formal memiliki muatan
> estetika simbolik yaitu pesan moral atau etika. Adanya hubungan yang erat
> antara estetika dan etika menunjukkan bahwa pada hakikatnya seni ditujukan
> pada kemuliaan kehidupan manusia dalam kerangka keimanan pada Tuhan.
>  Konsep estetika dalam budaya rupa Sunda dapat diformulasikan ke dalam tiga
> istilah yaitu siga, sarupaning dan waas. Siga adalah cara atau teknik
> penciptaan dan penilaian objek estetik baik dengan pendekatan estetika
> fomal
> maupun simbolik. Sarupaning menunjuk pada unsur kreativitas yaitu keragaman
> cara atau teknik penciptaan yang menghasilkan keberagaman objek atau karya.
> Waas menunjuk pada apa yang di dalam seni rupa disebut pengalaman estetik.
>  Upaya manusia adalah mencari kebenaran yang ditempuh melalui agama, seni,
> filsafat, dan ilmu. Budaya rupa atau seni rupa Sunda turut berperan serta
> dalam pencarian kebenaran tersebut dengan menyediakan konsepnya dalam
> khasanah bahasa Sunda. Karena kebenaran sejati itu milik Tuhan, segala
> upaya
> manusia untuk mendekati kebenaran tersebut bersifat relatif dan masyarakat
> Sunda sangat menyadarinya sehingga mempunyai istilah khas yaitu ”ngan ukur
> siga”.
>
>
> PUSTAKA
>  Dharsono, Soni Kartika, (2007), Estetika, Rekayasa Sains, Bandung
> Hidayat, Rachmat Taufik, Haerudin Dinding, Muhtadin, Teddy AN Darpan,
> Sastramidjaja,  (2005), Peperenian Urang Sunda, Kiblat Buku Utama, Bandung.
> Holt, Claire Holt, 1967, Art in Indonesia, Cornel University Press, New
> York.
> Mintaredja, Roza R. (2008) “Wujud Kearifan Lokal pada Arsitektur Sunda”,
> makalah,  disampaikan dalam Sawala Estetika Sunda di Pusat Studi Sunda, 15
> Februari.
> Natawisastra, Mas (1979),  Saratus Paribasa Jeung Babasan III, Departemen
> Pendidikan dan Kebudayaan
> Prawira, Nanang Ganda (1999), Pamandangan, Reka Hias Baduy: Fungsi, Bentuk,
> Motif, Simbol dan Makna, Seni Kriya dan Rekahias Baduy di Desa Kanekes
> Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Jawa Barat, tesis, Program
> Pascasarjana
> ITB.
> Sumardjo, Jakob (2000), Filsafat Seni, Penerbit ITB Bandung
> Suryalaga, HR Hidayat (2008): Etika jeung Estetika anu Dikandung dina
> Folklor Sunda,   Sawala Estetika Sunda di Pusat Studi Sunda, 15   Februari
> Sudjoko, 2001, Pengantar Seni Rupa, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta
> Snodgrass, Adrian, (1985), The Symbolism of Stupa, Cornell South Asia
> Program
> Fadillah, Moh. Ali (2006): Pengultusan Orang Suci pada Masyarakat Sunda:
> Sebuah Kontinuitas Unsur Budaya , prosiding  Konferensi Internasional
> Budaya
> Sunda, jilid 1, Bandung, Rosidi, Ajip, Ekadjati, Edi S., Alwasilah, A.
> Chaedar, Editor, Yayasan Kebudayaan Rancage, 419-432
> Wessing, Robert (2006): Telling the Landscape: Place and Meaning in Sunda,
> prosiding Konferensi Internasional Budaya Sunda, Bandung, Rosidi, Ajip,
> Ekadjati,  Edi S., Alwasilah, A. Chaedar, Editor, Yayasan Kebudayaan
> Rancange, 450-474, jilid 1.
> Wiartakusumah, Jamaludin (2008): Mencari Estetika dalam Budaya Rupa Sunda,
> Pikiran Rakyat, 5 April
> Wiartakusumah, Jamaludin, (2009):  Estetika Sunda, Kompas Jawa Barat, 28
> Februari.
> Wiartakusumah, Jamaludin (2010): Waas dan Mudik, Pengalaman Estetik, Kompas
>   Jawa Barat, 8 September
>
> internet:
> Leath, Colin, (1996), The Aesthetic Experience,
> http://purl.oclc.org/net/cleath/writings/asexp13.htm, diunduh 15 Nov. 2010
>
> ---
> Disampaikan pada seminar internasional Reformulasi & Transformasi Budaya
> Sunda
> Fakultas Sastra Universitas Padjajaran Jatinangor, 10 Februari 2010
>
>
> [1] Cerita mengenai Si Kabayan yang tengah berjalan kaki. Ketika berjalan
> di
> tanjakan, yang memerlukan upaya lebih berat, dia malah tertawa karena dia
> tahu setelah tanjakan akan menemukan jalan menurun (pudunan) dan
> sebaliknya,
> ketika berjalan di pudunan, yang tidak menguras tenaga, Kabayan malah
> menangis karena akan menemukan tanjakan.
>  [2] Wawancara tanggal 15 Mei 2008
>  [3] Wawancara tanggal 1 Desember 2008
>  [4] Wawancara dengan Ajip Rosidi, 1 Desember 2008.
>  << File: ATT00553.txt >>
>
>
>


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke