Aya buku judulna teh "Agama Pelacur", eusina hasil panalungtikan soal
kumaha spritualitas para ungkluk (=pelacur). Kuring acan maca buku ieu, tapi
resensina aya dihandap ieu. Nyanggakeun:
Bagaimana Pelacur Beragama
SABTU, 05 MARET 2011 | 20:53 WIB
TEMPO Interaktif, Pamekasan - Judul buku setebal 199 halaman itu sangat
menarik. "Agama Pelacur". Buku hasil penelitian terhadap kehidupan
spiritualitas para pelacur di tiga lokasi di kota Surabaya itu dibedah oleh
sebuah kelompok mahasiswa di STAIN Pamekasan, Sabtu (5/3).
Di sampul buku yang ditulis oleh Prof Dr Nur Syam, Rektor IAIN Sunan Ampel
Surabaya mempertegas bahwa fenomena pelacuran tidak sekadar menunjukkan
adanya pola relasi gender yang timpang, mesin pengeruk uang, dan kelompok
sosial yang selalu mendapat cacian dan hujatan.
Tetapi lebih dari itu. Ia memiliki dimensi kemanusiaan yang perlu
diperhatikan dengan cara empati agar kita tidak terjebak dengan ikut-ikutan
mengumpat dan menghujat mereka. Sebab pelacur adalah juga manusia yang
memiliki spiritualitas dan bahasa tersendiri dalam mengapresiasi dan
berdialog dengan Tuhan.
Habib Musthafa, salah satu tim peneliti terbitnya buku "Agama Pelacur" yang
hadir dalam acara bedah buku tersebut menuturkan buku itu tidak untuk
menjawab apakah pelacur punya agama, melainkan bagaimana pelacur itu
menjalankan agamanya. Karena persoalan agama itu adalah urusan manusia
dengan Tuhan.
Menurut Habib, penelitian di tiga lokasi pelacuran di Surabaya di antara di
lokalisasi Moroseneng, Dolly, dan Jagir mengungkap bahwa pelacur juga taat
menjalankan agamanya di tengah aktivitasnya melayani lelaki hidung belang.
"Kita ingin mengungkapkan fakta bahwa pelacur juga makhluk Tuhan yang
memiliki dimensi hubungan dengan Tuhannya. Tapi apakah dia akan diterima itu
adalah urusan Tuhan. Dan kita ingin semua yang mengerti bisa peduli mereka
dengan cara-cara yang baik dan manusiawi," terangnya.
Habib menegaskan buku "Agama Pelacur" ini bukan ditulis untuk membenarkan
eksistensi pelacuran. Sebaliknya, buku itu untuk menggugah setiap orang agar
membantu pelacur keluar dari kehidupannya yang melanggar agama.
Salah seorang mahasiswi perserta bedah buku, Isnatun, menilai buku ini
sangat kuat karena berhasil mengungkap ruang kosong dalam diri pelacur yaitu
spiritualitasnya. Buku itu juga dianggap enak dibaca karena metodologi riset
yang digunakan yaitu in depth interview serta observasi langsung di
lapangan. "Realitas yang tidak tampak dari seorang pelacur bisa kita tahu
dari buku ini," pungkasnya.
MUSTHOFA BISRI
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/