bah Willy,
mun enya cenah pelacur teh *sampah masyarakat,*
lain lobakacaritakeun, dina jaman revolusi perjuangan di taun 45
informasi aya oge ti pihak pelacur keur para pejuang,
ngeunaan kagiatan naon wae si walanda dikota
hanjakalna, keun kumaha bae kusabab sampah masyarakat
nya tetep we calon naraka.?
padahal jlas dina hadits, aya pelacur anu ahli surga
kusabab mere inum ka anjing begang nu hanaang.
ibu2 ahli solat, calon naraka,
kusabab loba ngomongkeun tatangga?
lain eta teh elmuna kaManusaan,
jeung peri kaBinatanagan???


2011/3/6 Waluya <[email protected]>

>
>
> Aya buku judulna teh "Agama Pelacur", eusina hasil panalungtikan soal
> kumaha spritualitas para ungkluk (=pelacur). Kuring acan maca buku ieu,
> tapi
> resensina aya dihandap ieu. Nyanggakeun:
>
> Bagaimana Pelacur Beragama
>
> SABTU, 05 MARET 2011 | 20:53 WIB
>
> TEMPO Interaktif, Pamekasan - Judul buku setebal 199 halaman itu sangat
> menarik. "Agama Pelacur". Buku hasil penelitian terhadap kehidupan
> spiritualitas para pelacur di tiga lokasi di kota Surabaya itu dibedah oleh
>
> sebuah kelompok mahasiswa di STAIN Pamekasan, Sabtu (5/3).
>
> Di sampul buku yang ditulis oleh Prof Dr Nur Syam, Rektor IAIN Sunan Ampel
> Surabaya mempertegas bahwa fenomena pelacuran tidak sekadar menunjukkan
> adanya pola relasi gender yang timpang, mesin pengeruk uang, dan kelompok
> sosial yang selalu mendapat cacian dan hujatan.
>
> Tetapi lebih dari itu. Ia memiliki dimensi kemanusiaan yang perlu
> diperhatikan dengan cara empati agar kita tidak terjebak dengan ikut-ikutan
>
> mengumpat dan menghujat mereka. Sebab pelacur adalah juga manusia yang
> memiliki spiritualitas dan bahasa tersendiri dalam mengapresiasi dan
> berdialog dengan Tuhan.
>
> Habib Musthafa, salah satu tim peneliti terbitnya buku "Agama Pelacur" yang
>
> hadir dalam acara bedah buku tersebut menuturkan buku itu tidak untuk
> menjawab apakah pelacur punya agama, melainkan bagaimana pelacur itu
> menjalankan agamanya. Karena persoalan agama itu adalah urusan manusia
> dengan Tuhan.
>
> Menurut Habib, penelitian di tiga lokasi pelacuran di Surabaya di antara di
>
> lokalisasi Moroseneng, Dolly, dan Jagir mengungkap bahwa pelacur juga taat
> menjalankan agamanya di tengah aktivitasnya melayani lelaki hidung belang.
> "Kita ingin mengungkapkan fakta bahwa pelacur juga makhluk Tuhan yang
> memiliki dimensi hubungan dengan Tuhannya. Tapi apakah dia akan diterima
> itu
> adalah urusan Tuhan. Dan kita ingin semua yang mengerti bisa peduli mereka
> dengan cara-cara yang baik dan manusiawi," terangnya.
>
> Habib menegaskan buku "Agama Pelacur" ini bukan ditulis untuk membenarkan
> eksistensi pelacuran. Sebaliknya, buku itu untuk menggugah setiap orang
> agar
> membantu pelacur keluar dari kehidupannya yang melanggar agama.
>
> Salah seorang mahasiswi perserta bedah buku, Isnatun, menilai buku ini
> sangat kuat karena berhasil mengungkap ruang kosong dalam diri pelacur
> yaitu
> spiritualitasnya. Buku itu juga dianggap enak dibaca karena metodologi
> riset
> yang digunakan yaitu in depth interview serta observasi langsung di
> lapangan. "Realitas yang tidak tampak dari seorang pelacur bisa kita tahu
> dari buku ini," pungkasnya.
>
> MUSTHOFA BISRI
>
>  
>

Kirim email ke