Menggapai Sunda Yang Terbuka
Oleh ASEP SALAHUDIN
Menarik mencermati tulisan Yayat Hendayana di HU Pikiran Rakyat (20/2),
"Sunda, Menggapai-gapai Masa Depan" yang berangkat dari apresiasi terhadap
latar diselenggarakannya seminar internasional tentang Reformasi dan
Transformasi Kebudayaan Sunda, 9 dan 10 Februari 2011, di Jatinangor oleh
Fakultas Sastra Unpad. Intinya Kang Yayat masih tetap melihat isu lama Ki
Sunda sebagai entitas suku yang masih berada dalam kondisi terpuruk padahal
Sunda adalah suku terbesar kedua setelah Jawa.
Hasil survei sosial ekonomi daerah (Suseda) 2009, menunjukkan dari
42.693.951 penduduk Jawa Barat, jumlah orang Sunda mencapai angka 74,6
persen atau 31,84 juta jiwa.Rendahnya tingkat produktivitas dan daya saing
orang Sunda, baik secara regional maupun secara nasional, disebabkan
kelemahan orang Sunda sendiri. Kemudian Kang Yayat menawarkan jalan keluar
berupa reformulasi kebudayaan Sunda yang terdiri dari langkah-langkah (1)
reseleksi, (2) redefinisi, (3) reorientasi, dan (4) reimplementasi.
Catatan saya adalah tanggapan tambahan dan ini nyaris absen dari telaah Kang
Yayat padahal sangat penting dalam melihat Ki Sunda, yakni strategi dialog
kebudayaan dari dua arah: luar dan dalam. Ini menjadi penting supaya
gambaran Ki Sunda ke depan menjadi jelas bukan sekadar terus
"menggapai-gapai", apalagi sekadar terhipnotis kebanggaan masa lampau yang
seolah mendapatkan tautan " ilmiahnya" dari Prof. Arysio Santos dalam
Atlantis The lost Continent Finnaly Found, serta buku Prof. Stephen
Oppenheimer dari Oxford University yang berjudul Eden in The East
Sudah tidak disangsikan lagi bahwa kekayaan dan kejayaan sebuah budaya
mengandaikan terpenuhinya dua hal. Pertama ke dalam dengan militansi
pertahanan untuk melestarikan budaya yang dimiliki sekaligus pewarisan
kepada generasi setelahnya; kedua, ke luar dengan cara mendialogan budaya
yang miliki dengan budaya orang lain untuk mencari kemungkinan terciptanya
akulturasi sehingga peluang pengkayaaan sebuah budaya menjadi terbuka.
Strategi dalam-luar ini mensyaratkan untuk dilakukan secara dialektis, sebab
ketika salah satu saja yang digarap maka ketimpangan yang akan muncul. Ke
dalam saja misalnya maka akan mengemuka apa yang disebut dengan budaya
kurung batokeun yang pada gilirannya tidak akan mampu mengantisipasi serbuan
budaya luar. Atau terus membuka jendela dari luar tanpa ada pertahanan
budaya sendiri maka inilah yang akan rentat terjangkit apa yang dinamakan
dengan jati ki silih ku junti.
Kearifan lama
Kalau kita membaca kearifan tradisional sesungguhnya ke dua agenda strategi
ini dengan menakjubkan telah diperagakan manusia Sunda dahulu bahkan
kebudayaan Sunda itu sendiri adalah merupakan hasil pergulatan akulturatif
dengan Animisme, Dinamisme, Hindu, Budha, tradisi Jawa dan Islam. Sunda
bukan datang dari langit secara tiba-tiba.
J. C. van Leur menyebut bahwa Hinduisme membantu mengeraskan bentuk-bentuk
kultural suku Sunda. Khususnya kepercayaan magis memiliki nilai absolut
dalam kosmologi orang Sunda. Kalau kita sepakat bahwa Haji Hasan Mustapa
adalah filosuf Sunda terkemuka maka sesungghnya letak otentisitas refleksi
pikirannya itu tidak semata digali dari budayanya sendiri (Sunda) tapi
adalah buah "dialog peradaban": korespondensi dengan budaya luar dalam hal
ini Arab yang kemudian horizon Arab itu didaur ulang serta disenyawakan
dengan leuit budaya Sunda sehingga lahirlah makna baru yang mencerahkan yang
dapat kita klaim sebagai budaya Sunda.
Bagi Hasan Mustapa, ketika kita melakukan ziarah budaya kepada bangsa lain,
maka hal ini tidak kemudian otomatis larut dalam budaya itu dan kehilangan
baju kultural yang kita pakai atau pindah cai pindah pilempangan tapi justru
'orang lain' dengan segala kekhasan kulturalnya adalah jembatan untuk
memperluas horizon budaya yang kita miliki. Dalam istilahnya, kita hanya
sebatas "nguyang".
Multikulturalisme
Multikulturalisme yang notabene merupakan fakta sosial yang tidak mungkin
kita hindari sesungguhnya adalah kesempatan bagi setiap kultur untuk saling
memberikan makna dengan pintu masuk dialog itu. Dialog lintas kultural
menjadi sebuah keniscayaan. Dialog seperti ini hanya dimungkinkan manakala
antar budaya yang berbeda dapat memperlakukan satu sama lain secara setara,
tidak tersembunyi hasrat saling mendominasi dan beranggapan yang satu
inferior dan yang lain superior.
Dialog budaya akan tidak memiliki makna ketika sebermula sudah dengan jumawa
menobatkan diri sebagai yang paling baik. Moderatisme (siger tengah) dalam
keterbukaan dialog etnik, inilah yang musti dikedepankan untuk menggapai
Sunda masa depan.
Dalam tafsir Ignas Kleden, "Kebudayaan adalah satu proses linking dan
delinking sekaligus. Saya menghubungkan diri dengan satu nilai, tapi saya
juga bisa mengambil jarak dari nilai itu untuk masuk ke dalam nilai yang
lain. Saya menghubungkan diri dengan sistem nilai, tapi saya juga berusaha
melepaskan diri dari jebakan sistem nilai saya supaya saya bisa mengerti
sistem nilai yang lain sementara waktu dengan benar." Lanjut Ignas, "Biarpun
kita baru belajar di dalam kebudayaan kita, tapi kalau kita memasuki
kebudayaan yang lain, sebetulnya kita dituntut untuk mempelajari kembali.
Itu berarti melakukan proses melupakan dulu apa yang sudah kita pelajari di
dalam kebudayaan kita," kata Ignas Kleden.
Fenomena keagamaan
Tentu saja, karena agama merupakan bagian dari sistem budaya, maka agama
juga tidak kedap untuk didialogan. Justru intensitas dialog agama harus
ditingkatkan sebab dalam sejarahnya keragaman agama kerap menjadi pemantik
munculnya konflik.
Semakin sering dialog dilakukan, akan kian lebar pelung terciptanya
keadaban. Sebaliknya, manakala absen maka kehidupan menjadi sangat tidak
layak untuk dirayakan karena akan sangat sarat ketidaksantunan, intoleran,
radikalisme dan penistaan kepada 'mereka yang berbeda' dan akhirnya akan
muncul anggapan bahwa 'orang/suku lain' yang berbeda sebagai neraka
seperti ditulis Jean paul Sartre (L'enfer c'est les autres: neraka adalah
orang lain). Orang lain (suku lain) tidak disikapi sebagai bagian tak
terpisahkan dari diri kita yang mempunyai tanggungjawab sama dalam ikhtiar
membentuk peradaban yang egalitarian. Dialoglah yang akan menjadi jendela
bagi tergelarnya apa yang disebut Gabriel Marcel dengan 'persekutuan
tuntas' di mana aku bertemu engkau menjadi kita di mana,
"Kesempatan-kesempatan dan pertemuan dengan orang lain bukanlah merupakan
fakta yang kontingen (jadi yang bersifat ada dan boleh tidak ada) melainkan
fakta yang inheren pada cara kita bereksistensi yaitu berada di dunia, hidup
di dunia" (Mathias Haryadi, 1999).
Dialoglah yang akan membuat Ki Sunda bisa memahami alasan mengapa
membutuhkan suku/orang lain untuk dijadikan sekutu. Dialog menjadi syarat
mutlak agar bisa bereksistensi. Kita membutuhkan L'autrui supaya kita mampu
menjadi diri sendiri. Maksudnya, agar ki Sunda mengenal eksistensi dan
keunikannya, perlulah 'keluar dari diri'. Ini hanya mungkin kalau kita tidak
menutup diri, melainkan harus berani mengenal dan dikenal suku lain, harus
saling memahami dengan sikap empatik.
Dialog ini perlu saya beri catatan khusus kaitannya dengan
kesundaan, karena dalam sepuluh tahun terakhir diakui atau tidak di tatar
Sunda banyak terjadi kekerasan termasuk yang mengatasnamakan agama yang
relatif tidak memberi peluang bagi tumbuhnya sikap toleran bahkan cenderung
mempoisiskan 'yang lian' sebagai tersesat. Belum lagi aliran dengan agenda
politik ideologis tersembunyi yang bergerak di bawah tanah yang lagi-lagi
menjadikan Jawa Barat sebagai basis perjuangannya.
Seandainya penelitian Santos dan Oppenheimer, yang menunjukan tentang
kehebatan masa silam etnik Sunda benar dan mengapa kini Ki Sunda mengalami
degradasi sedemikian tajam dalam pergaulan antaretnis di tingkat nasional?
Maka salah satu jawabannya Kang Yayat, adalah absennya tradisi dialog dan
lebih luas lagi punahnya atmosfer intelektualisme di tanah Pasundan.
Penulis, kolomnis
Dimuat di HU Pikiran Rakyat/Lembar Budaya KHAZANAH/Minggu 6 Maret 2011
The message was checked by Fortiget