Teu percaya jigana ka presiden..... Mang Willy....alesan nana piraku nu "kasep" rek aya nu ngancam....wkwkwkwk
TM --- Pada Kam, 17/3/11, Waluya <[email protected]> menulis: Dari: Waluya <[email protected]> Judul: [kisunda] Rasa Aman ..... Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 17 Maret, 2011, 8:25 AM Kaperluan masyarakat salian ti kabutuhan kana pangan jeung pangan, tapi oge RASA AMAN. Rasa aman kaasup kabutuhan dasar. Tah ku ayana terror "bom buku", jelas rasa aman masyarakat jadi kaganggu. Untungna Presiden marentahkeun supaya aparat nagara ieu ngajaga RASA AMAN ieu. Ngan ku pangalaman katukang-tukang, parentah Presiden teh bet siga teu pati digugu nya? Duka presidenna nu teu tegas, duka bawahanana nu badieuh ...... Wartosna nyanggakeun: Presiden Yudhoyono Juga Diteror KAMIS, 17 MARET 2011 | 14:52 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta -Paket "bom buku" rupanya cukup membuat gerah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia mengaku mendapat ancaman serupa walaupun dalam bentuk yang berbeda. "Motifnya bisa bermacam-macam, saya juga sudah dapat kiriman berita. Bunyinya saya tidak bisa jaga keamanan. Kepada kelompok seperti itu, kalau toh tidak suka pada saya jangan korbankan rakyat,"ujarnya sebelum membuka sidang paripurna kabinet, di kantor presiden, Jakarta, Kamis (17/3). Atas kondisi yang membuat resah masyarakat ini, Yudhoyono meminta para pelaku kejahatan yang belakangan melakukan teror dengan mengirim paket buku tidak mengorbankan masyarakat sipil. Ia pun menginstruksikan langsung kepada jajaran Badan Inteligen Nasional, kepolisian, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) terutama komando teritorial bekerja lebih keras untuk mengungkap pelaku kejahatan. "Jaga semuanya, saya meminta jajaran keamanan, intelijen bekerjalah all out. Saya akan mengikuti, tidak ada yang lebih penting bagi masyarakat kita selain rasa aman, di samping kebutuhan dasar," ujarnya. Ia berharap petugas dilapangan tak memberikan ruang kepada siapapun yang berniat merobek situasi keamanan yang sudah terjaga. "Kita pulihkan dari keadaan sekian tahun yang lalu. Tidak boleh ada toleransi. Jangan menganggap ini biasa-biasa saja, lakukan segala sesuatu nya to protect our people, siapapun mereka itu, WNI, saudara-saudara kita," ujarnya. Sebelumnya, Selasa (14/3) lalu, ada tiga paket bom buku yang dikirim kepada Ulil Absar Abdalla, Ketua Partai Demokrat dan pendiri Jaringan Islam Liberal; Kepala Badan Narkotika Nasional Gories Mere, serta Ketua Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno. Hari ini pun berlanjut, paket bom serupa sampai di rumah Ahmad Dhani dikawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. MUNAWWAROH
