Sastra Mati di Gudang Sejarah

shutterstock
ILUSTRASI: Perpustakaan HB Jassin menyimpan 20.000 buku fiksi,
12.000 buku nonfiksi, serta referensi sekitar 600 buku dan juga 800 naskah
drama,
16.000 kliping sastra, koleksi lainnya seperti rekaman suara, naskah tulisan
tangan,
naskah ketik, dan surat-surat pribadi.
 Minggu, 27 Maret 2011 | 08:30 WIB

Bau apak tiba-tiba menyergap begitu pintu sebuah perpustakaan milik yayasan
dibuka. Sudah lama listrik dan telepon di situ tidak menyala. Lemari-lemari
buku tampak berdebu dan buku-buku yang usianya ratusan tahun sudah melapuk.
Sebuah peradaban yang perlahan hancur....

Jelas sekali perpustakaan milik Yayasan Budaya Sulawesi Selatan (YBSS) yang
berdiri sejak tahun 1949 di Makassar terbengkalai. Hanya tertinggal Muhamad
Salim, ahli bahasa Bugis, dan seorang pembantu bernama Ikhsan yang setia
datang.

Sampai tiga tahun terakhir hanya bisa didata 2.809 buku penelitian berbahasa
Belanda dan 100 lontarak (naskah di daun lontar) asal Sulsel. Masih begitu
banyak koleksi yang belum terdata sehingga jumlah pastinya juga tidak pernah
diketahui.

Sejak Ketua Yayasan YBSS Fachruddin Ambo Enre meninggal tahun 2008, kata
Salim, yayasan seperti tanpa nakhoda. Tidak ada lagi kepengurusan. Salim
bahkan bekerja tanpa honor selama tiga tahun terakhir. Di tempat berdebu dan
usang itu sesungguhnya masih tersimpan terjemahan Alkitab dari bahasa Jerman
ke bahasa Makassar yang terbit tahun 1892. Ada juga Injil Matius berbahasa
Makassar cetakan tahun 1863! Bahkan seorang Belanda bernama Benjamin
Frederik Matthes membawa karya sastra terpanjang di dunia, I La Galigo, ke
Belanda setelah mendapatkannya dari seseorang.

*Terbengkalai*

Deretan daftar situs pendokumentasian dan perpustakaan yang notabene
menyimpan pengetahuan dan jejak peradaban yang terbengkalai bisa cukup
panjang. Belum hilang dari ingatan kita bagaimana Pusat Dokumentasi Sastra
(PDS) HB Jassin harus tertatih-tatih menjalani hari-harinya yang berat.
Ketua Dewan Pembina Yayasan PDS HB Jassin Ajip Rosidi bahkan sudah melansir
pernyataan akan menutup gudang sejarah itu.

Nasib Perpustakaan Bung Hatta di Jalan Adisutjipto, Yogyakarta, bahkan lebih
memilukan. Perpustakaan yang berdiri sejak 1953 itu sudah ditutup tahun
2006. Gedungnya kini bocor di sana-sini, seperti rumah hantu. Menurut Ketua
Dewan Pembina Yayasan Hatta Sri Edi Swasono, setidaknya Perpustakaan Hatta
menyimpan lebih dari 40.000 buku. Kini buku-buku itu dititipkan di
Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. ”Semua buku diikat, entah bagaimana
perawatannya,” ujar Edi Swasono.

UGM kemudian membuka Hatta Corner di perpustakaan universitas untuk
menyelamatkan koleksi buku-buku Bung Hatta. Padahal, di salah satu koleksi
buku Hatta ada Asia karya Alonso Viloa yang diterbitkan tahun 1561.

PDS HB Jassin yang di pelupuk mata saja bernasib mencemaskan, apalagi tempat
seperti Museum Negeri Sulawesi Tenggara di Kendari. Sekitar 5.000 koleksi
benda kuno, termasuk di antaranya 100 naskah tua, boleh dikata sudah rusak
karena tak terurus. Sudah sekitar satu dekade museum tidak lagi dapat
anggaran perawatan dan pemeliharaan. ”Sejak otonomi daerah tahun 2001, baru
sekali dapat anggaran,” kata Kepala Seksi Bimbingan Edukasi Museum Negeri
Sultra Rustam Tombili.

Bali yang begitu dikenal dengan perawatan tradisi karena dianggap memiliki
nilai ekonomis juga tidak terhindar dari sikap menyepelekan peninggalan
peradaban masa lalu. Banyak naskah tua yang tertulis di atas daun lontar
yang tersimpan di Gedong Kirtya, Singaraja, Bali, pelan-pelan menuju
kehancuran. Rayap-rayap bahkan mulai menggerogoti sebagian naskah.

Sastrawan Dewa Gede Windhu Sancaya yang pernah mendata naskah-naskah di situ
menemukan kenyataan ada koleksi yang hilang. ”Koleksi yang hilang itu sulit
sekali dilacak,” ujarnya.

Dalam kondisi begitu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng Putu
Tastra Wijaya mengatakan, semua koleksi Gedong Kirtya sudah terawat baik.
Tastra membantah bahwa ada naskah tua yang dimakan rayap. ”Itu cuma isu.
Koleksi kami terawat dengan baik,” katanya.

*Perlu komitmen*

Menurut Doktor Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran,
Bandung, Ninis Agustini Damayanti, perpustakaan dan dokumentasi harus
ditangani ahli. Selama ini ada kesan pengelola perpustakaan disamakan dengan
penjaga buku. ”Itu persepsi yang sangat keliru,” kata Ninis.

Komitmen pemerintah untuk mendanai kegiatan perpustakaan, katanya, belum
kuat. Dananya belum menjadi prioritas. Dokumen dan naskah tua membutuhkan
perawatan dan tempat penyimpanan yang layak. ”AC harus dinyalakan tujuh hari
seminggu dan 24 jam sehari, tidak boleh mati,” tuturnya.

Di daerah tropis, suhu ruangan dipatok pada angka 20 plus minus 3 derajat
celsius. Sementara kelembaban udara pada angka 50 plus minus 3 rh (relative
humidity).

Menyaksikan pembiaran terhadap nasib peradaban ini, sekelompok anak muda
bergerak cepat lewat jejaring sosial Twitter dan Facebook untuk menggalang
solidaritas. Mereka membentuk tim #koinsastra yang dalam waktu cepat
memobilisasi kepedulian ke berbagai daerah. Salah satu pencetus #koinsastra,
Khrisna Pabhicara, mengatakan, kelompok ini tidak sabar menunggu kehancuran.
”Karena itu, lebih baik kita bergerak menyongsong badai,” katanya.

Setelah melakukan audiensi dengan pengurus Yayasan PDS HB Jassin, mereka
sepakat melakukan digitalisasi naskah serta menggalang donasi dari para
simpatisan. ”Kami sudah mengumpulkan enam komputer dan dua scanner dari para
donatur. Masih kurang empat lagi,” tutur Ahmad Makki, pencetus #koinsastra
lain.

Pertanyaannya, apakah dokumen-dokumen tua yang menyimpan peradaban masa lalu
harus selalu meruapkan bau apak hingga napas kita sesak? Bukankah di situ
dipertaruhkan identitas dan martabat bangsa? Mau apa dan ke mana sebenarnya
kita ini.... N(SIN/RIZ/WKM/TOP/DEN/ENG/IND/BSW/CAN)

*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2011/03/27/08305079/Sastra.Mati.di.Gudang.Sejarah

Kirim email ke