Dipublikasikan pada *Radio Nederland Wereldomroep* (http://www.rnw.nl)
------------------------------ Perbudakan Modern di Den Haag Oleh *martijn van tol* Dibuat *25 Maret 2011 16:21* *Di masa lalu para duta besar dan diplomat asing lain di Den Haag terbukti mengeksploitasi dan memenjarakan para pembantu mereka. Demikian pernyataan sejumlah pembantu kepada Radio Nederland Wereldomroep dan harian Trouw. ** *Menurut pengacara Antoinette Vlieger dari Universiteit van Amsterdam, saat ini terjadi apa yang disebut perbudakan modern. Para diplomat di Den Haag menyukai pembantu Filipina. Mereka penurut dan senang bekerja keras. Para diplomat ini punya kekebalan diplomatik dan tidak pernah diperiksa. Mereka bebas bicara, sementara para pembantunya tutup mulut. Di sepanjang pantai di belakang perbukitan pasir Den Haag, berdiri villa-villa megah yang disukai para diplomat asing. Mereka ini dipersenjatai sepasukan pelayan, tukang bersih-bersih, penjaga anak dan koki, yang sering kali didatangkan dari luar negeri. Salah satunya adalah Cheryl Barrio *nama samaran* (50 tahun) asal Filipina. * Kerja Keras *Saat itu awal tahun 2003. Cheryl Barrio tiba di villa milik duta besar baru Arab Saudi di Belanda. Sebelumnya Cheryl sudah bekerja untuk keluarga tersebut di Arab Saudi. Begitu tiba, dia harus menyerahkan paspor kepada sang duta besar dan Cheryl dilarang meninggalkan rumah. Setelah setahun Pak Dubes mengatakan butuh bantuan lebih dan mendatangkan anak-anak Cheryl, Amelia dan Benigno *juga nama samaran*, dari Filipina. Paspor mereka juga ditahan, mereka juga tidak boleh keluar rumah. Ketiganya sudah tahu apa saja yang harus dikerjakan: bangun pagi, kerja, lalu tidur. Benigno bekerja sebagai pelayan dan tukang, sementara Amelia dan Cheryl bersih-bersih dan mencuci. Kadang anak perempuan Pak Dubes yang berusia 16 tahun datang menyerahkan celana jeansnya untuk dicuci tengah malam buta, dan paginya sudah harus bersih dan rapi untuk dipakai lagi. Cheryl bercerita: *"Kami kepingin sekali melihat dunia luar. Tiap Sabtu keluarga Pak Dubes pergi jalan-jalan. Sekali waktu, ketika mereka tidak di rumah, kami memutuskan pergi ke luar, walaupun cuma untuk beberapa menit. Kami pergi ke kebun dan melihat-lihat rumah tetangga dari balik pagar." * Keluarga sang duta besar sering bercerita pada Cheryl dan anak-anak, betapa menyenangkannya Belanda. Mereka juga sering bercerita tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi. Tapi ketiganya tetap saja tidak boleh pergi keluar, cuma beberapa kali belanja sebentar dan itu juga di bawah pengawalan ketat. Di televisi mereka melihat iklan taman hiburan Efteling. Mereka bertekad akan mengunjungi Efteling suatu saat nanti. *Haram* Cheryl juga memasak untuk seluruh keluarga. Mereka hanya boleh makan makanan sisa, tidak boleh masak sendiri. Pernah Cheryl masak nasi sisa kemarin untuk konsumsi sendiri, istri Pak Dubes dengan berang langsung masuk dapur dan menggatakan makanan sisa yang dimasak kembali itu haram. Keluarga Filipina itu digaji antara 200 - 400 dolar per bulan. Jauh lebih rendah dari UMR Belanda. Setelah menyisihkan sedikit untuk uang saku, sang dubes mengirim uang ke suami Cheryl dan 5 anak mereka lainnya di Filipina. * Cari Masalah *Jika Cheryl minta hari libur untuk bisa pergi keluar, sang dubes mengatakan di luar terlalu berbahaya. Selain itu, polisi Belanda bisa menangkap dan mengirim mereka kembali ke Filipina. Berkat bantuan supir Pak Dubes, Cheryl bisa punya telepon genggam. Dia menelpon duta besar Filipina di Den Haag dan menceritakan situasinya. *"Mereka bilang sebaiknya saya memang tidak pergi keluar, karena kedutaan besar Filipina tidak mau cari masalah sama Arab Saudi. Mereka bisa saja menghentikan visa kerja untuk orang Filipina lainnya. Pihak kedutaan Filipina malah menyuruh saya untuk minta gaji lebih besar, itu kan tidak realistis." * *Zuiderpark *Tidak ada pilihan lagi bagi Cheryl dan dua anaknya. Pagi-pagi sekali, ketika semua orang termasuk penjaga rumah masih terlelap, mereka kabur lewat ruang bawah tanah. Mereka memanggil taksi dan supir taksi mengantar mereka ke Zuiderpark di Den Haag, karena menurutnya di sana banyak orang Filipina. Cheryl menuturkan, "Aduh kita senang sekali sampai-sampai kita memberi supir taksi tip 5 euro. Orang-orang Filipina di sana bertanya apakah kita baru di Belanda. Saya bilang, wah tidak, kita cuma 'baru' bagi dunia luar saja..." Kedutaan besar Arab Saudi menolak memberi komentar atas cerita ini. Duta besar yang dimaksud terpilih sebagai 'Duta Besar Belanda Tahun Ini' di tahun 2006 dan saat ini sudah kembali bekerja di Arab Saudi. *Perbudakan Modern* Apa yang terjadi pada Cheryl dan putra-putrinya adalah contoh perbudakan moderen, demikian pengacara penyidik Antoinette Vlieger. Para pembantu tiba di rumah majikan baru dengan iming-iming upah tinggi dan kontrak yang sepertinya mengikat. "Tapi begitu tiba di tempat, para majikan merobek-robek kontrak dan menginjak-injak peraturan perburuhan." Para pembantu mau tidak mau menerima hal ini, karena keluarga mereka di tanah air sangat mengharapkan upah mereka, dan para majikan tahu betul soal ini. Antoinette mengatakan, "Visa para pelayan ini memang berdasarkan pekerjaan mereka untuk para diplomat. Ini memberi para diplomat kekuasaan yang semakin diperkuat oleh kekebalan diplomatik mereka. Mereka ini kan tidak terjangkau sistem peradilan Belanda, jadi mereka pikir : saya pasti lolos." Sementara kisah keluarga Filipina ini bukan satu-satunya. Saat ini RNW dan Trouw menerima lebih banyak laporan soal kurungan, eksploitasi dan penyiksaan psikis para pembantu keluarga diplomat. Para diplomat ini antara lain berasal dari Timur Tengah, Eropa, Asia dan Amerika Latin. Banyak dari para pembantu yang tidak berani menceritakan kisah mereka ke dunia luar. Apakah Anda bekerja untuk kedutaan besar atau diplomat di Den Haag dan ingin bercerita tentang situasi kerja Anda? Silakan kirim email ke [email protected] [1]. Untuk informasi lebih lanjut dan bantuan hukum, silakan hubungi : 020 -523 11 00 atau di http://www.blinn.nl/ ------------------------------ *URL sumber:* http://www.rnw.nl/article/perbudakan-modern-di-den-haag *Links:* [1] mailto:[email protected] *Images:* [i1] http://www.rnw.nl/data/files/images/lead/article/2011/03/teaser-denhaag1_0_0.jpg [i2] http://www.rnw.nl/
