Punten sanes suudzon, geuning teu dicarioskeun kumaha tah kacintaan kang Jalal 
ka Khalifah Ali, putrana Hasan sareng Husen, supados aya bahan bandingan, 
kumaha 
saleresna mikahormat ka Rasul sareng para sahabatna.

baktos,

mrachmatrawyani





________________________________
From: Ahmad Sahidin <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; SuaraHati 
<[email protected]>; jejaring-persis milis 
<[email protected]>
Sent: Mon, March 28, 2011 7:25:41 PM
Subject: [kisunda] Mas Darwan Cinta Nabi

  
Salam.
Ini ada tulisan lama yang ditulis Ustadz Jalaluddin Rakhmat berkaitan dengan 
pengalamannya.
----------------------------------------------------------
Pada pertengahan tahun enam puluhan, saya membentuk keluarga sederhana di 
tengah 
tetangga-tetangga yang sederhana dan di perumahan sangat sederhana. Pendapat 
saya tentang agama juga sederhana. Pegangan saya Al-Quran dan hadis, titik. 
Saya 
tidak suka pada peringatan maulid, karena tidak diperintahkan dalam Al-Quran 
dan 
hadis. Saya tidak suka salawat yang bermacam-macam selain salawat yang memang 
tercantum dalam hadis-hadis sahih. Saya senang berdebat mempertahankan paham 
saya. Saya selalu menang, sampai saya bertemu dengan Mas Darwan.

Mas Darwan adalah orang yang jauh lebih sederhana dari saya. Mungkin 
pendidikannya tidak melebihi sekolah dasar. Ia pensiunan PJKA. Usianya boleh 
jadi sekitar enam puluhan. Tetapi penderitaan hidup membuatnya tampak lebih 
tua. 
Pendengarannya sudah rusak. Karena itu, ia sedikit bicara, banyak bekerja. Ia 
sering memperbaiki rumahku tanpa saya minta. Ia sangat menghormati saya, yang 
dianggapnya seorang kiyai muda di kampung itu. Padahal ia tahu bahwa saya 
selalu 
datang terlambat ke mesjid untuk salat subuh.

Untuk mengisi waktunya, ia mencangkul petak-petak kosong yang terletak di 
antara 
rel kereta api di dekat stasiun Kiaracondong. Ia menanaminya dengan ubi. Pada 
suatu hari, ketika ia asyik mencangkul, kereta api cepat dari Yogya menyenggol 
belakangnya. Ia jatuh terkapar berlumuran darah. Ketika saya mengunjunginya di 
kamar gawat darurat, saya mendapatkan tubuh Mas Darwan sudah dipenuhi dengan 
slang-slang transfusi. Saya melihat matanya mengedip padaku dan pada isterinya. 
Istrinya mendekatkan telinganya ke mulut Mas Darwan. Saya tidak mendengar 
apa-apa. Sesaat kemudian, ia menghembuskan nafas terakhir.

Saya pulang dengan sedih dan rasa ingin tahu. Apa gerangan yang dibisikkan oleh 
Mas Darwan pada detik-detik terakhir kehidupannya? Pada hari berikutnya, 
isterinya mengantarkan nasi tumpeng ke rumahku. Saya hampir menolaknya, karena 
saya tidak suka selamatan kematian yang biasa disebut sebagai tahlilan. 
Isterinya bertutur, “Pak Kiyai ingat ketika Masku berbisik padaku? Ia berpesan: 
Bulan ini bulan maulid. Jangan lupa slametan buat Kanjeng Nabi saw.”

Pada saat-saat terakhir, Mas Darwan tidak ingat petak-petak ubinya. Ia lupa 
isteri dan anak-anaknya. Ia lupa dunia dan segala isinya. Yang diingatnya pada 
waktu itu hanyalah Rasulullah saw. Kepongahan saya sebagai orang yang mengerti 
agama runtuh. Mas Darwan tidak banyak membaca hadis atau tarikh Nabi saw. Ia 
memang buta huruf. Ia hanya mendengar tentang Nabi dari guru-gurunya. Ia tidak 
mengerti apa bedanya sunah dan bid’ah. Ia hanya tahu bahwa Kanjeng Nabi adalah 
sosok manusia suci yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Tak terasa airmata 
menghangatkan pipiku. Saya hanya bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada Mas 
Darwan dengan dua patah kata: Cinta Nabi.

Mas Darwan memiliki kecintaan kepada Rasulullah saw yang jauh lebih tulus 
dariku. Kemampuanku berdebat habis dibakar oleh api cintanya. Pesan terakhir 
Mas 
Darwan adalah definisi cinta yang paling tepat. “Tidak mungkin cinta 
didefinisikan secara lebih jelas kecuali dengan cinta lagi. Definisi cinta 
dalah 
wujud cinta itu sendiri. Cinta tidak dapat digambarkan lebih jelas daripada apa 
yang digambarkan oleh cinta lagi,” kata Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij 
al-Salikin. (KH.Jalaluddin Rakhmat)

www.ahmadsahidin.wordpress.com

 


      

Kirim email ke