Salam.
Ini ada tulisan lama yang ditulis Ustadz Jalaluddin Rakhmat berkaitan dengan
pengalamannya.
-----------------------------------------------------------------
Pada pertengahan tahun enam puluhan, saya membentuk keluarga sederhana di
tengah tetangga-tetangga yang sederhana dan di perumahan sangat sederhana.
Pendapat saya tentang agama juga sederhana. Pegangan saya Al-Quran dan hadis,
titik. Saya tidak suka pada peringatan maulid, karena tidak diperintahkan dalam
Al-Quran dan hadis. Saya tidak suka salawat yang bermacam-macam selain salawat
yang memang tercantum dalam hadis-hadis sahih. Saya senang berdebat
mempertahankan paham saya. Saya selalu menang, sampai saya bertemu dengan Mas
Darwan.
Mas Darwan adalah orang yang jauh lebih sederhana dari saya. Mungkin
pendidikannya tidak melebihi sekolah dasar. Ia pensiunan PJKA. Usianya boleh
jadi sekitar enam puluhan. Tetapi penderitaan hidup membuatnya tampak lebih
tua. Pendengarannya sudah rusak. Karena itu, ia sedikit bicara, banyak bekerja.
Ia sering memperbaiki rumahku tanpa saya minta. Ia sangat menghormati saya,
yang dianggapnya seorang kiyai muda di kampung itu. Padahal ia tahu bahwa saya
selalu datang terlambat ke mesjid untuk salat subuh.
Untuk mengisi waktunya, ia mencangkul petak-petak kosong yang terletak di
antara rel kereta api di dekat stasiun Kiaracondong. Ia menanaminya dengan ubi.
Pada suatu hari, ketika ia asyik mencangkul, kereta api cepat dari Yogya
menyenggol belakangnya. Ia jatuh terkapar berlumuran darah. Ketika saya
mengunjunginya di kamar gawat darurat, saya mendapatkan tubuh Mas Darwan sudah
dipenuhi dengan slang-slang transfusi. Saya melihat matanya mengedip padaku dan
pada isterinya. Istrinya mendekatkan telinganya ke mulut Mas Darwan. Saya tidak
mendengar apa-apa. Sesaat kemudian, ia menghembuskan nafas terakhir.
Saya pulang dengan sedih dan rasa ingin tahu. Apa gerangan yang dibisikkan oleh
Mas Darwan pada detik-detik terakhir kehidupannya? Pada hari berikutnya,
isterinya mengantarkan nasi tumpeng ke rumahku. Saya hampir menolaknya, karena
saya tidak suka selamatan kematian yang biasa disebut sebagai tahlilan.
Isterinya bertutur, “Pak Kiyai ingat ketika Masku berbisik padaku? Ia berpesan:
Bulan ini bulan maulid. Jangan lupa slametan buat Kanjeng Nabi saw.”
Pada saat-saat terakhir, Mas Darwan tidak ingat petak-petak ubinya. Ia lupa
isteri dan anak-anaknya. Ia lupa dunia dan segala isinya. Yang diingatnya pada
waktu itu hanyalah Rasulullah saw. Kepongahan saya sebagai orang yang mengerti
agama runtuh. Mas Darwan tidak banyak membaca hadis atau tarikh Nabi saw. Ia
memang buta huruf. Ia hanya mendengar tentang Nabi dari guru-gurunya. Ia tidak
mengerti apa bedanya sunah dan bid’ah. Ia hanya tahu bahwa Kanjeng Nabi adalah
sosok manusia suci yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Tak terasa airmata
menghangatkan pipiku. Saya hanya bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada Mas
Darwan dengan dua patah kata: Cinta Nabi.
Mas Darwan memiliki kecintaan kepada Rasulullah saw yang jauh lebih tulus
dariku. Kemampuanku berdebat habis dibakar oleh api cintanya. Pesan terakhir
Mas Darwan adalah definisi cinta yang paling tepat. “Tidak mungkin cinta
didefinisikan secara lebih jelas kecuali dengan cinta lagi. Definisi cinta
dalah wujud cinta itu sendiri. Cinta tidak dapat digambarkan lebih jelas
daripada apa yang digambarkan oleh cinta lagi,” kata Ibn Qayyim al-Jawziyyah
dalam Madarij al-Salikin. (KH.Jalaluddin Rakhmat)
www.ahmadsahidin.wordpress.com
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/