Legenda ”Si Gombar”
 Patokan Waktu Kereta tak Pernah Ingkar Janji
Minggu, 17/04/2011 - 00:49

 [image: DOK "PR"/"PRLM"]
DOK "PR"/"PRLM"
LOKOMOTIF kereta api yang pernah populer dengan sebutan "Si Gombar", saat
bersiap meninggalkan Stasiun KA Garut, pertengahan 1984. Layanan jasa kereta
api Garut-Cibatu dihentikan, menyusul akhir riwayat KA Garut-Cikajang.*

ATMOSFER perkotaan Garut di putaran tahun 1960-an, laksana wajah kota dalam
film western. Pemandangan kota kecil, yang berharga klasik. Beralasan, saat
layanan jasa KA Garut selesai, warga pun tiada habis bertanya, terkait lagi
dengan cerita orangtua. ”Jaga kareta api teh bakal nepi ka Pameungpeuk. Mun
geus nepi ka pakidulan, cirining nagari bakal subur ma’mur loh jinawi”
(”Nanti kereta api akan sampai ke Pameungpeuk. Jika sudah menepi ke selatan,
itu pertanda negeri akan subur makmur loh jinawi”).

Akan tetapi, lakon kereta api di Garut tak sempat menembus kawasan selatan.
Agaknya, kenyataan itu bukan menepis cerita angin surga dari kalangan
leluhur. Tak lain, karena kesaksian alm. M. Endang mantan petugas DKA
menuturkan, bahwa sebenarnya tahun 1945 pemerintah pernah merancang
penyambungan rel KA, dari stasiun Cikajang ke Pameungpeuk Garut. Upaya
memanjangkan rel KA sejauh 50 km itu terhenti, karena benturan teknis.

Kebutuhan bentangan rel, terbenteng dinding Pegunungan Batu Tumpang di
Cikajang. Alur jembatan KA pun harus banyak mengangkangi kedalaman lembah
yang sangat curam. 49 tahun kemudian, angin segar kembali bertiup. 18 Maret
1994, saat Dr. Haryanto Dhanutirto menjabat Menteri Perhubungan RI,
mengungkapkan bahwa pemerintah bersiap membangun lagi perkeretaapian di
Garut.

Menurut Menhub selepas berziarah ke makam keluarganya di Cisurupan, pihaknya
dalam waktu dekat akan melakukan survei untuk meneliti kelayakan kondisi
jalur rel kereta api, dari Cibatu hingga Cikajang sejauh 50 km. Uniknya,
sebelum itu terumbar kabar ganjil, tentang keretakan dinding Pegunungan Batu
Tumpang, yang dianggap bukan pekerjaan manusia. Banyak orang memaknai itu
sebagai isyarat akan terwujudnya jalan kereta api ke pesisir selatan Garut.

Kenyataan lain berpaling dari rancangan. Upaya mengembalikan kejayaan KA
Garut justru memanjangkan obsesi lama. Puluhan tahun sudah, legenda lok Si
Gombar tak berdaya lagi membelah keramaian Kota Garut. Segenap lapisan warga
Garut kehilangan. Terlebih, karena kereta yang melintas lima kali dalam
sehari itu, mengental sebagai patokan waktu. Oleh karena itu, warga Garut
pernah tersentak, saat suatu sore KA muncul menarik gerbong tangki.

Berulang kali terjadi, kehadiran kereta api dengan rangkaian gerbong tangki.
Terkabar, Perumka kembali mengoperasikan KA Cibatu-Garut, hanya untuk
memasok BBM ke PTG (Pabrik Tenun Garut). Namun, kemitraan Perumka dengan
pabrik tenun legendaris Garut itu tak berlangsung lama, karena dinilai tidak
saling menguntungkan. Kondisi seperti itu pula yang terjadi pada tahun 1955,
ketika KA Garut menjajaki layanan jasa trayek ke Bandung.

Jelang penghentian operasi KA, lengkingan ”Si Gombar” tak lagi nyaring.
Gemuruh lokomotif bertenaga uap itu, bagai helaan napas ketuaan yang harus
tersenggal-senggal. Kondisi lokomotif KA sakit-sakitan. Laju kereta tak bisa
lagi berpacu dengan waktu. ”Raksasa Hitam” bergelar ”Si Gombar” itu pun
ambruk. Bahkan, orang mampu mengejar laju kereta yang bertolak dari Halte
Wanaraja ke arah Halte Cinunuk, menyusuri rentang jarak 1 kilometer.

Tentu saja, karena kereta api bergerak lamban dengan sisa tenaga masa
lampau. Acap kali pula terjadi, kereta mundur lagi ke jalanan datar, sebelum
merangkak melintasi tanjakan tajam memanjang di kawasan Cikajang. Citra KA
di Garut lalu memburam. Memang ”Si Gombar” pernah berganti wajah lokomotif
diesel. Akan tetapi, kereta modern itu tak bisa melumat beratnya tanjakan
rel di celah lahan berbukit itu. (Dok. Pariwisata, "PR"; 16/4/11)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/141926

Kirim email ke