Ieu teh duka tos kungsi dicemplungkeun ka milis duka acan. Punten mun atos.
--

Arsitektur Sunda

Judul: Menelusuri Arsitektur Sunda
Ukuran buku 16 x 28cm
Penulis: Purnama Salura
Editor : Anwar Holid
Penerbit: PT Cipta Sastra Salura
2008


Buku ini disarikan dari disertasi penulisnya di ITB. Dengan latar itu,
arsitektur Sunda yang dibahas di dalamnya tidak sekedar deskripsi  seperti
beberapa buku yang sudah ada sebelumnya, tetapi tentu saja dengan telaah
menggunakan kacamata ilmiah yang canggih sehingga barangkali tidak mudah
dipahami terutama bagi kalangan di luar arsitektur. Buku ini mencoba
menjawab pertanyaan bagaimana cara memahami hubungan yang terjadi antara
makna dan bentuk arsitektur masyarakat Sunda. 
        Bab awal buku ini diisi dengan berbagai paham pemikiran yang
mempengaruhi arsitektur seperti modernisme, strukturalisme Levi-strauss dan
Saussure,  pos-modernisme dan pos-strukturalisme. Deskripsi mengenai paham
pemikiran ini tampaknya untuk menentukan mana yang dianggap cocok dijadikan
pisau untuk membedah arsitektur Sunda tradisional.  Sementara arsitektur
Sunda yang ditelaah berada pada wilayah desain tradisional yang pra-modern
yang tentu saja sesungguhnya kurang pas ditelaah dengan model apapun dalam
wilayah desain modernisme apalagi sesudahnya (pos-modernisme atau
pos-strukturalisme).  Lokasi studi kasus, dipilih model arsitektur dan model
perkampungan di tiga kampung yaitu kampung Tonggoh desa Cilaut Pameungpeuk
Garut, kampung Cigenclang di desa Cisampih Kalijati Subang dan Palastra di
kecamatan Palastra Majalengka. 

        Telaah atau upaya memahami arsitektur Sunda dalam buku ini
menggunakan pendekatan “strukturalisme” Saussure dan Levi Strauss, yang
mencakup tipologi de Quncy, bahasa pola,  yang dielaborasi alias dilokalkan
dengan menggunakan konsep masyarakat setempat dalam membuat hunian yang
disebut patempatan yaitu wadah dan tempat dalam tradisi hunian Sunda. Konsep
patempatan itu sebagian besar merupakan oposisi biner yang paradoks, antara
lain seperti “lemah-cai” (tanah-air), “luhur-handap” (atas-bawah),
“wadah-eusi”, (wadah-isi) dan  “kaca-kaca” (gerbang atau tanda batas).
Sebuah upaya yang saya kira patut diapresiasi paling tidak karena mencoba
memberi bingkai teori canggih pada arsitektur tradisional. Dengan bahasa
lain, buku ini mencoba memahami desain tradisional atau seni warisan jaman
mitos dengan kacamata modern yang ontologis. 

        Konsep “lemah cai” selain berarti kampung halaman, dari arti katanya
mengandung unsur tanah dan air yang harus ada dalam setiap pemukiman
masyarakat Sunda. Konsep “luhur-handap” dibaca sebagai cara orang Sunda
tradisional menempatkan sesuatu sesuai dengan arti atas dan bawah. Misalnya
kuburan cenderung ditempatkan pada tempat yang lebih tinggi seperti bukit,
sedang pemukiman di bawahnya, seperti yang terdapat di Kampung Naga
Tasikmalaya. Meskipun tidak ditelaah dari sudut kosmologi atau kepercayaan
tradisional, konsep luhur-handap tampaknya dapat dipahami dengan mudah,
misalnya bahwa atas itu mempunyai makna kedudukan yang lebih tinggi dari
bawah. Konsep “kaca-kaca” yang dimaksud adalah bahwa dalam setiap tempat,
masyarakat Sunda tradisional mengenal  konsep ‘batas’ seperti luar-dalam,
kawasan pemukiman dan kawasan luar pemukiman seperti kebun atau sawah. Pada
rumah tinggal, kaca-kaca yang menjadi batas ruang laki-laki (tepas atau
ruang tamu) dan ruang perempuan (dapur dan goah), melahirkan ruang netral
yaitu ruang tengah dan kamar tidur.

        Buku ini tampaknya mencoba menunjukkan atau menelaah bagaimana
dinamika perubahan masyarakat, dari budaya mitos ke budaya Islam dan mungkin
sedikit sentuhan pengaruh jaman modern tercermin dalam bentuk dan makna
hunian di tiga kampung Sunda yang tetap dalam kerangka tradisional. Kerangka
yang dipakai adalah hasil penelitian Suwarsih Warnaen dkk (1987) mengenai
pandangan hidup orang Sunda yang dibagi ke dalam lima kategori, yaitu
tentang manusia sebagai pribadi, manusia dengan masyarakatnya, manusia
dengan lingkunganya,  manusia dengan tuhannya dan tentang manusia Sunda
dalam mengejar kemajuan lahiran dan kepuasan batiniah.

        Selain oleh konsep Suwarsih Warnaen dan konsep patempatan di atas,
tiga kampung Sunda tradisional itu juga ditelaah dari segi kegiatan utama
yang terbagi ke dalam empat kategori yaitu kegiatan ritual,
produksi-reproduksi, sosialisasi dan rutinitas sehari-hari yang disebutnya
sebagai “kegiatan permukaan”. Empat kegiatan ini dipengaruhi oleh empat
konsep dalam tradisi masyarakat Sunda tradisional yaitu nandran (jiarah ke
kuburan), uga (ramalan khas masyarakat Sunda) dan pamali (tabu) dan sikap
siger tengah (moderat) yang dalam buku itu ditulis dalam model dialek,
sineger tengah.

        Arsitektur tradisional Sunda meski sering dianggap tidak memiliki
kekhasan, sesungguhnya  dimanapun berada di wilayah budaya Sunda memiliki
kesamaan bentuk dan material yang dipakai. Hal yang wajar mengingat berada
pada lokasi geografis dan budaya yang relatif sama.  Seperti struktur
berbentuk panggung, dinding dari anyaman bilik, atap dari rumbia/kiray atau
ijuk, material yang seluruhnya terdapat di alam sekitar. Bentuk panggung
dapat dicari penjelasannya dari segi utilitas atau fungsi maupun dari segi
kosmologi. Buku ini sudah beranjak dari cara penjelasan demikian karena
mencoba membawa arsitektur tradisional dengan telaah modern khususnya paham
strukturalisme.

        Pada halaman 22, terdapat data yang kurang akurat, yaitu mengenai
jumlah rumah di kampung Kuta Ciamis yang ditulis tinggal beberapa belas
rumah.  Padahal ketika saya kunjungi pada 2008, menurut ketua adat Kampung
Kuta, Karman serta ketua RW Raswan , jumlah rumah di kampung Kuta, yang juga
tertera pada peta Kampung Kuta di rumah Karman, berjumlah 112 rumah, terdiri
dari 80 rumah di Kuta Jero, sisanya di Kuta Luar, dengan jumlah penduduk
total 359 jiwa. 
        Halaman 28 terdapat data yang tertukar. Naskah Sang hyang
Siksakandang dicantumkan pada masa Islam, tetapi pada halaman 58, disebut
era Pajajaran.  Buku ini memilih istilah “sineger tengah” bukan kata bakunya
yaitu  “siger tengah”. Kata sineger malah tidak ada di kamus Sunda paling
tebal karya RA Danadibrata. Ajip Rosidi dalam Babasan & Paribasa,
kabeungharan Basa Sunda (2005:147) lebih dulu menerangkan arti siger tengah
yang ditambah dengan bahwa kata itu kadang-kadang  menjadi “sineger tengah”.


        Ukuran buku ini yang tidak lazim, mengingatkan saya pada buku menu
di café. Format yang hanya nyaman dibaca sebentar saja untuk memilih menu
yang akan dipesan. Sayang buku arsitektur dengan kertas glossy yang tampak
mewah ini seluruh ilustrasi/gambar dalam hitam putih dan dengan CAD. Kenapa
tidak sekalian dilengkapi dengan foto-foto berwarna mengenai pemukiman,
model rumah, lingkungan alamnya yang mungkin indah karena berada di alam
Priangan. Ukuran font dan jenis font tampak dengan cepat membuat mata lelah.

        Di atas semua kekurangan teknis buku ini, buku Menelusuri Arsitektur
Sunda ini layak diapresiasi karena paling tidak telah mencoba melihat
arsitektur Sunda secara lebih mendalam, dengan mencari relevansi dengan
nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat selain tentu saja untuk menambah
khasanah literatur arsitektur tradisional Indonesia secara umum. Penulis
buku ini adalah staf pengajar di salah satu sekolah Arsitektur terbaik
negeri ini yaitu Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung. (MJ)





Kirim email ke