baheula aya wakil gubernur JABAR, PITUIN US NGARANNA *ZUHUD WARNAEN*

2011/4/22 Jalak Pakuan <[email protected]>

>
>
> Jaman ayeuna mah tertib jujur jeung transparan dina kawajiban ngeusi jeung
> ngalaporkeun Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara tos langkung ti
> cekap, komo kanu incumbent, nu rek jalan 2 rit.
>
> Makarya Mawa Raharja
>
>
>  ------------------------------
> *Dari:* Ki Hasan <[email protected]>
> *Kepada:* Ki Sunda <[email protected]>
> *Terkirim:* Rab, 20 April, 2011 18:22:12
> *Judul:* [kisunda] Ngimpi - Gupernur Said?
>
>
>
>
> Hidup Zuhud Sang Gubernur
> Kamis, 21 April 2011 08:05 WIB
>
> Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas
>
> Khalifah Umar bin Khattab mengangkat Said bin Amir menjadi gubernur di
> Provinsi Himash. Ia pun datang menghadap khalifah bersama satu delegasi dari
> provinsi tersebut. Umar meminta mereka menuliskan daftar fakir miskin dari
> Himash yang berhak diberi bantuan dari kas negara. Umar heran karena di
> antara nama yang ditulis terdapat nama Said bin Amir. "Siapa Said bin Amir
> ini?" tanya Umar. "Gubernur kami," jawab mereka. "Apakah gubernur kalian
> fakir?" selidik Umar. Mereka membenarkan, "Demi Allah, kami jadi saksi."
> Umar menangis, kemudian memasukkan seribu dinar ke dalam sebuah kantong dan
> meminta mereka menyerahkannya kepada sang gubernur.
>
> Menerima sekantong uang berisi seribu dinar, Said langsung membaca: Inna
> lillahi wa inna ilaihi raji'un, seolah satu musibah besar menimpanya. Istri
> gubernur bertanya: "Apa yang terjadi? Apakah Amirul Mukminin wafat?" "Lebih
> besar dari itu," jawab Said. "Telah datang dunia kepadaku untuk merusak
> akhiratku." "Bebaskan dirimu dari malapetaka itu," saran istrinya, tanpa
> mengetahui bahwa malapetaka itu adalah uang seribu dinar. Said bertanya:
> "Apakah kamu mau membantuku?" Istrinya mengangguk. Ia meminta istrinya untuk
> segera membagikan seribu dinar itu untuk fakir miskin, tanpa sisa untuk
> keluarganya.
>
> Sekian lama berlalu, Umar mengunjungi Said bin Amir. Sudah menjadi
> kebiasaannya, jika berkunjung ke suatu provinsi, mengadakan dialog terbuka
> antara masyarakat, gubernur, dan dirinya sendiri. Dialog tersebut bertujuan
> untuk mengetahui langsung aspirasi masyarakat dan keluhan mereka terhadap
> pelayanan gubernur. Ada tiga keluhan masyarakat terhadap sang gubernur.
> Setiap keluhan disampaikan, Umar meminta Said menjawabnya.
>
> Pertama, Said selalu masuk kantor setelah matahari tinggi. Kedua, Said
> tidak bersedia menerima kedatangan siapa pun menghadapnya pada malam hari.
> Ketiga, tidak menerima tamu satu hari dalam setiap bulan.
>
> Sebenarnya, Said  malu berterus terang, tetapi untuk menghilangkan salah
> paham, ia pun rela menjelaskannya secara terbuka. Pertama, keluarganya tidak
> punya pembantu. Setiap pagi, dirinya membuatkan roti untuk keluarganya
> sehingga setelah matahari tinggi baru bisa bekerja melayani masyarakat.
> Kedua, siang hari dia menyediakan waktu melayani masyarakat, tetapi malam
> hari adalah waktu khususnya untuk Allah SWT. Ketiga, satu hari dalam sebulan
> dia tidak keluar melayani masyarakat karena hari itu dia harus mencuci
> pakaiannya. Mendengar penjelasan Said, Umar berkata: "Alhamdulillah,
> penilaianku tidak salah terhadapmu."
>
> Demikianlah sikap hidup zuhud sang gubernur yang sebenarnya juga tidak jauh
> dari gaya hidup atasannya sendiri, yaitu Amirul Mukminin, Umar bin Khattab.
> Semoga kisah yang dapat kita baca dalam buku Al-'Arabiyah li an-Nasyi'in ini
> dapat menjadi renungan bagi kita semua.
> *Redaktur:* Siwi Tri Puji B
>
> http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/04/21/ljz9os-hidup-zuhud-sang-gubernur
>
>  
>

Kirim email ke