Hidup Zuhud Sang Gubernur
Kamis, 21 April 2011 08:05 WIB

Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas

Khalifah Umar bin Khattab mengangkat Said bin Amir menjadi gubernur di
Provinsi Himash. Ia pun datang menghadap khalifah bersama satu delegasi dari
provinsi tersebut. Umar meminta mereka menuliskan daftar fakir miskin dari
Himash yang berhak diberi bantuan dari kas negara. Umar heran karena di
antara nama yang ditulis terdapat nama Said bin Amir. "Siapa Said bin Amir
ini?" tanya Umar. "Gubernur kami," jawab mereka. "Apakah gubernur kalian
fakir?" selidik Umar. Mereka membenarkan, "Demi Allah, kami jadi saksi."
Umar menangis, kemudian memasukkan seribu dinar ke dalam sebuah kantong dan
meminta mereka menyerahkannya kepada sang gubernur.

Menerima sekantong uang berisi seribu dinar, Said langsung membaca: Inna
lillahi wa inna ilaihi raji'un, seolah satu musibah besar menimpanya. Istri
gubernur bertanya: "Apa yang terjadi? Apakah Amirul Mukminin wafat?" "Lebih
besar dari itu," jawab Said. "Telah datang dunia kepadaku untuk merusak
akhiratku." "Bebaskan dirimu dari malapetaka itu," saran istrinya, tanpa
mengetahui bahwa malapetaka itu adalah uang seribu dinar. Said bertanya:
"Apakah kamu mau membantuku?" Istrinya mengangguk. Ia meminta istrinya untuk
segera membagikan seribu dinar itu untuk fakir miskin, tanpa sisa untuk
keluarganya.

Sekian lama berlalu, Umar mengunjungi Said bin Amir. Sudah menjadi
kebiasaannya, jika berkunjung ke suatu provinsi, mengadakan dialog terbuka
antara masyarakat, gubernur, dan dirinya sendiri. Dialog tersebut bertujuan
untuk mengetahui langsung aspirasi masyarakat dan keluhan mereka terhadap
pelayanan gubernur. Ada tiga keluhan masyarakat terhadap sang gubernur.
Setiap keluhan disampaikan, Umar meminta Said menjawabnya.

Pertama, Said selalu masuk kantor setelah matahari tinggi. Kedua, Said tidak
bersedia menerima kedatangan siapa pun menghadapnya pada malam hari. Ketiga,
tidak menerima tamu satu hari dalam setiap bulan.

Sebenarnya, Said  malu berterus terang, tetapi untuk menghilangkan salah
paham, ia pun rela menjelaskannya secara terbuka. Pertama, keluarganya tidak
punya pembantu. Setiap pagi, dirinya membuatkan roti untuk keluarganya
sehingga setelah matahari tinggi baru bisa bekerja melayani masyarakat.
Kedua, siang hari dia menyediakan waktu melayani masyarakat, tetapi malam
hari adalah waktu khususnya untuk Allah SWT. Ketiga, satu hari dalam sebulan
dia tidak keluar melayani masyarakat karena hari itu dia harus mencuci
pakaiannya. Mendengar penjelasan Said, Umar berkata: "Alhamdulillah,
penilaianku tidak salah terhadapmu."

Demikianlah sikap hidup zuhud sang gubernur yang sebenarnya juga tidak jauh
dari gaya hidup atasannya sendiri, yaitu Amirul Mukminin, Umar bin Khattab.
Semoga kisah yang dapat kita baca dalam buku Al-'Arabiyah li an-Nasyi'in ini
dapat menjadi renungan bagi kita semua.
*Redaktur:* Siwi Tri Puji B
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/04/21/ljz9os-hidup-zuhud-sang-gubernur

Kirim email ke