hunyur teh sayang rinyuh nu munu'u tea nya. 2011/4/30 Roza R. Mintaredja <[email protected]>
> > > unur basa sundana* hunyur* > > Pada 30 April 2011 07:26, hangjuang bodas <[email protected]>menulis: > > >> >> "Unur-unur" Berharga di Pantai Utara >> >> * Cornelius Helmy dan M Kurniawan* >> >> Hingga 1985, ”unur” yang bertebaran di Kawasan Batujaya, Kabupaten >> Karawang, tak lebih dari gundukan tanah. Berkat jasa peneliti dan arkeolog, >> gundukan itu kini mewujud candi dengan beragam peninggalan berharga yang >> menyimpan kisah manusia masa silam pantai utara Jawa Barat. >> >> Warga Batujaya menyebut gundukan-gundukan tanah yang tersebar di sekitar >> tempat tinggalnya dengan istilah unur atau lemah duhur (tanah tinggi). >> Sebutan unur juga mengacu pada reruntuhan bata yang menggunduk dan >> menyerupai sarang rayap di tengah hamparan sawah. >> >> Sejumlah unur telah memiliki nama, seperti Unur Jiwa, Blandongan, Serut, >> Lempeng, Lingga, Asem, Damar, dan Gundul. Tak sedikit yang belum punya nama >> dan tersebar di hamparan seluas 5 kilometer persegi atau 500 hektar di >> wilayah Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, serta Desa Telagajaya, Kecamatan >> Pakisjaya. Wilayah ini berada sekitar 47 kilometer barat laut pusat kota >> Karawang. >> >> Kaisin (73), juru pelihara kompleks Percandian Batujaya, warga Desa >> Segaran, Kecamatan Batujaya, mengatakan, beberapa nama unur mengacu >> identifikasi warga terhadap tempat tersebut. Unur Jiwa, misalnya, disebut >> demikian karena sering ada domba atau kambing milik warga yang mati tanpa >> sebab jelas saat ditambatkan di lokasi ini. ”Tahun 1960-an, satu dari dua >> ekor kambing saya mati di sini, seperti beberapa kali menimpa hewan >> gembalaan warga lain sebelumnya,” ujarnya. >> >> Sementara nama Blandongan mengacu pada tempat berkumpul. Saat terjadi >> banjir akibat luapan Sungai Citarum, Unur Blandongan menjadi tempat >> berkumpul bagi warga. Lokasinya lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya >> sehingga terbebas dari genangan banjir. >> >> Situs Batujaya pertama kali ditemukan tim dari Jurusan Arkeologi Fakultas >> Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1985. Sebelumnya, tim ini menerima >> informasi dari warga tentang keberadaan unur-unur yang berserak di Batujaya >> saat melanjutkan penelitian di Situs Cibuaya, tempat ditemukannya arca Wisnu >> I (tahun 1952), arca Wisnu II (1957), dan arca Wisnu III (1975), sekitar 15 >> kilometer di timur Batujaya. >> >> Warga menginformasikan banyak menemukan bata berukuran besar di Batujaya >> yang terpendam di tanah atau menumpuk membentuk gundukan di tengah sawah. >> Jumlah reruntuhan bangunan mencapai lebih dari 20 buah dan tersebar di >> kompleks yang berjarak 500 meter dari Sungai Citarum itu. >> >> Penelitian tim FSUI di Batujaya menemukan Candi Jiwa, bangunan bata >> berbentuk bujur sangkar berukuran 19 meter x 19 meter dan tinggi 4,7 meter >> di atas permukaan sawah sekitarnya. Setelah bentuknya berhasil dimunculkan >> secara utuh, terlihat struktur bata dengan permukaan bergelombang dan bentuk >> melingkar yang menyerupai bunga teratai di bagian atas bangunan. >> >> Tahun 1999 pemugaran berlanjut ke Candi Blandongan hanya beberapa meter >> dari Candi Jiwa. Bangunan utama Candi Blandongan yang berukuran 25 meter x >> 25 meter telah terlihat utuh sejak beberapa tahun lalu, tetapi penelitian >> dan pemugaran reruntuhan di sekitarnya masih berlangsung hingga kini. >> >> *Manusia awal sejarah* >> >> Kompleks Percandian Batujaya menyimpan beberapa temuan penting, di >> antaranya motif tablet berelief Buddha, fragmen prasasti tanah liat >> bertuliskan aksara Pallawa, tembikar, serta kerangka-kerangka manusia. >> Arkeolog Hasan Djafar menyebutkan, berdasarkan penentuan pertanggalan >> relatif dengan karbon C-14, kerangka-kerangka manusia ini diduga berasal >> dari tahun 150-400 Masehi atau sebelum masa candi tahun 650-900 Masehi. >> >> Pada awal Mei 2010, tim penggalian Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala >> Serang menemukan enam kerangka manusia sekitar 50 meter di selatan Candi >> Blandongan dalam proyek pemugaran yang ke-11 tahun 2010. Enam kerangka itu >> mirip dengan ”Jack the Ripper”, sebutan untuk kerangka manusia yang >> ditemukan Puslit Arkenas bersama Ecole Francaise d’Extreme-Orient (Perancis) >> di sekitar lokasi itu tahun 2005. Selain posisi kerangka membujur arah timur >> laut-barat daya, di dekat kerangka juga ditemukan gerabah yang diduga bekas >> kubur. >> >> Sebagian arkeolog berpendapat kerangka-kerangka itu adalah pendukung >> budaya candi dan berasal dari rentang waktu yang sama. Sebagian arkeolog >> lain menilai kerangka dikubur sebelum ada candi atau dari awal sejarah. >> >> Arkeolog Puslit Arkenas, Amelia Driwantoro, menyebutkan, kerangka-kerangka >> serupa pernah ditemukan di sejumlah lokasi di utara Karawang, seperti Desa >> Cikuntul, Kecamatan Tempuran; Desa Kendaljaya dan Dongkal, Kecamatan Pedes; >> Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar; serta Desa Jayakerta, Kecamatan >> Jayakerta. Hampir di semua tempat itu ditemukan bekas kubur, termasuk >> tembikar dengan kemiripan corak khas Buni yang diperkirakan berkembang pada >> abad kedua Masehi. Nama Buni mengacu pada tempat tembikar serupa ditemukan >> di Buni, Bekasi, dan dicatat sebagai temuan arkeologi. >> >> *Wisata* >> >> Penelitian, penggalian, dan pemugaran unur-unur di Kompleks Percandian >> Batujaya masih jauh dari selesai. Namun, dengan candi, reruntuhan bangunan >> dan benda-benda purbakala yang ditemukan, semua itu memiliki potensi wisata >> edukasi dan sejarah yang luar biasa. >> >> Sejak 2004, Situs Batujaya memiliki gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya >> yang berdiri di lahan seluas 1.500 meter persegi, berjarak sekitar 600 meter >> dari Candi Jiwa. Bangunan ini memiliki ruang utama berukuran 6 meter x 9 >> meter dengan beberapa kotak kaca untuk memamerkan benda-benda cagar budaya. >> >> Gedung itu kini direhabilitasi, dan penambahan ruang oleh pemerintah >> daerah. Namun, kapasitasnya dinilai belum mewadahi ratusan benda hasil >> penggalian yang masih menumpuk di ruang informasi dan gudang. Gedung juga >> dinilai belum bisa menampung pengunjung yang terkadang mencapai puluhan >> hingga ratusan orang dalam sekali kunjungan. >> >> Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karawang Acep Jamhuri menyatakan, >> pemerintah daerah menetapkan Kompleks Percandian Batujaya sebagai satu dari >> 11 kawasan pengembangan wisata Karawang. Kompleks itu juga diusulkan jadi >> kawasan strategis nasional. >> >> Pengembangan Situs Batujaya mengalami kendala, terutama terkait >> pengelolaan yang melibatkan pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. Satu >> dan lainnya saling terkait sehingga harus melalui proses penelitian, >> perencanaan, dan pelaksanaan yang matang. Upaya memperluas bangunan museum, >> misalnya, menunggu hasil penelitian dan pemetaan sehingga tidak merusak >> benda yang dimungkinkan berada di bawahnya. >> >> >> Sumber: >> >> >> http://cetak.kompas.com/read/2011/04/30/03473192/unur-unur.berharga.di.pantai.utara >> >> > >
