Waktu kuring apruk-aprukan di leuweung kalimantan 30 taun katukang, sering
manggihan sireum nu ukuranana gede, ampir 2 cm, ampir sagede jangkrik.
Untung eta sireum teh henteu agresip siga sireum kararangge, teu gampang
ngegel. Tapi sanajan kitu, sok rada ngabirigidig oge, lamun pasanggrok jeung
"barisan" sireum ieu teh, gila ku gedena. Tapi geuning aya deui sireum
leuwih gede, tepika 5 cm,  ngan untungna ukur fosil,  teu kabayang lamun
ayeuna  aya keneh,  meureun moal bisa disemprot Baygon: 

Monster Semut Raksasa Sebesar Ibu Jari

 

 

Rabu, 04 Mei 2011 | 14:00 WIB

TEMPO Interaktif, Wyoming - Hampir 50 juta tahun silam, semut raksasa
tinggal di tempat yang kini bernama Wyoming, Amerika Serikat. Semut ini
bermigrasi antar benua.

Ahli serangga purba dari Simon Fraser University, Bruce Archibald,
melaporkan penemuan fosil semut raksasa dalam kondisi utuh. Ia menyebut
fosil tersebut sebagai monster semut raksasa karena panjang tubuh serangga
tersebut mencapai 5 centimeter.

Fosil semut raksasa ditemukan di Formasi Green River dan disimpan di Museum
Sains dan Alam Denver. Archibald mengaku sangat terkejut ketika kurator
museum menyodorkan fosil tersebut. "Saya melihat sesuatu yang sangat
menarik," ujarnya.

Semut raksasa juga pernah ditemukan di sebuah daerah di Jerman. Sehingga
Archibald semula menyangka semut raksasa Wyoming memiliki kekerabatan dengan
semut raksasa di Jerman.

Archibald menamakan semut raksasa ini sebagai <I>Titanomyrma lubei</I> yang
berarti semut raksasa temuan Lube. Louis Lube merupakan orang pertama yang
mengumpulkan fosil ini.

Pertanyaan yang mengemuka dari temuan ini adalah bagaimana dua spesies
raksasa ini bisa berada di dua benua yang terpisahkan oleh samudera.
Archibald dan rekan-rekannya menemukan bahwa pada masa yang relatif singkat,
sekitar 170 ribu hingga 55 juta tahun lalu, kawasan Arktik cukup dingin
sehingga bisa dilintasi serangga.

Ketika itu temperatur kutub utara mencapai 8 derajat celcius, batas yang
masih bisa ditolerir oleh semut tropis. Pada masa tersebut, semut raksasa
bergerak beriringan menempuh perjalanan antar benua. Namun peneliti belum
mengetahui pola pergerakan serangga ini, apakah bermula dari Eropa kemudian
bergerak ke Amerika Utara atau sebaliknya.

LIVESCIENCE | ANTON WILLIAM

 

Kirim email ke