Kaleresan kenging postingan penggalan carita Bharata Yudha ti milist
sabeulah, diantos dongeng salajengna di Bah AA. 

Kumaha ke kacaturkeun henteu Antarareja sareng Antasena ? soalna dugi ka bab
25 ayeuna mah anu jadi tokoh peperangan kanggo putra Bima masih keneh Gatot
Gaca.  

Diantos bah AA

 

Salam 

Ii Sumirat

 

Sore itu, padang Kurusetra tempat laga perang Baratayuda benar2 menjadi
padang pembantaian dan darah mengalir dimana mana, debu beterbangan dan
suara megaduh kesakitan memilukan hati orang yg waras. 
Pasukan Kurawa yg punya balatentara lebih banyak dan persenjataan lebih
canggih, merasa terdesak dan hampir2 merasakan kekalahan. Kekalahan ini
menurut Kurawa karena "tidak adil" perang yg tidak fair, tidak seimbang
protesnya kepada Prabu Kresna yg bertindak sebagai wasit yg sekalian
pengasuh dr Kurawa maupun Pandawa. 
"Kenapa?" Tanya Kresna
"Ini Kurawa kalah, gara2 Pendawa majukan si Antareja dan si Antasena"protes
Kurawa yg badannya gede2 siungnya dimana-mana.
Antasena (bisa keluar masuk ke air tanpa tabung oksigen) dan Antareja (bisa
ambless dan njedul ke bumi/tanah 1000 x lebih cepat dr landak) dua orang ini
anak dr Bima yg Sakti. 
Mendengar protes sepihak dr Kurawa ini , maka Kresna muarah. Inilah
kelemahan Kresna yg tidak cek n richek kenapa Kurawa kalah dan Pendawa
(akan) menang. 
Kresna mencari si Antareja dan Antasena, kesana kemari tidak ketemu, bahkan
semua sudah dimosak masik tidak juga ketemu. Katanya ada di padang Kurusetra
tapi kok gak klihatan batang hidungnya. Maka dikeluarkan senjata
Pamunkasnya, yaitu panah Kalacakra yg bisa terbang sendiri mencari sasaran
dgn tepat. 
Gendewa sudah ditarik dan jemparing akan dilucurkan berarti akan ada
kematian lagi, duh. Ketika mau dilepas panahnya, tiba-tiba ...jedulll !!
Keluar dua anak Bima ini : Antasena dan Antarareja dari tanah dan
lautan..merekakeluar sambil ketawa ketiwi ngglegess senyum2 sinis penuh
hormat kepada Prabu Kresna :
"Eeeiiititit eeeiitt jangaaan !!" Terieak mrk berdua kepada Prabu Kresna.
"Kalu Eyan Prabu Kresna melepas panah Kalacakra, maka akan buanyak prajurit
yg lemah akan modar tanpa tahu penyebabnya, gak seimbang lah yaw" kata mrk
berdua.
"Deem, jamput tenan kamu berdua, enak saja jedal jedul dr tanah dan membunuh
Korawa" tereak Kresna.
"Jangan sewot gitu dunk Yang, kami kalah jumlah dan kalah persenjataa, ya
kami pakai akal tidak okol apalagi ukil" kata Antareja" 
"Kami sebetulnya yg diDzolimi, dihina dan hak kami dirampas, serta tanah
kami direbut , anak2 kami dibunuh dgn kekurangan gizi dan wanita2 kami
dilecehkan, njuk kalo gitu siapa yg semana-mena eyang Prabu ?" Kata Antasena
"Deem, jamput kamu" Tereak Kresna
Gini saja, kata mrk berdua. Kalo eyang Kresna menghendaki "keseimbangan dan
demmokrasi versi Eyang, dan itu harus melenyapkan kami berdua, gak usah
repot2. Biarlah kami yg murca,mematikan diri kami berdua, dan anggaplah ini
sebagai tumbal utk menegakkan posisi dan Jabatan eyang Kresna sebagai wasit
dlm pepernagan ini.
"Bleessss bleessss" mereka berdua lenyap dr padang Kurusetra dan musnahkan
nyawanya, raganyapun tak berbekas.
Sebuah kematian dr kesatria peperangan yg mati dengan indah dan penuh
pengorbanan. Mereka merasa sudah cukup memberikan arti tentang makna
kehidupan yg adil dan bermartabat, tidak sia2 nyawanya dimusnahkan. Dan sore
itu padang Kurusetra bertiup angin semilir yg harum. Semua prajurit dan
punggawa dr Pandawa dan Kurawa merasakan sesak dadanya haru dengan kepergian
orang yg punya prinsip utk bisa bermartabata dlm hidup dan kehidupan. 
Bau harup buka dupa kematian menyelimuti padang Kurusetra, tapi sebuah
pengormatan bagi yg layak mendapatkannya.
Tembang Megatruh (megat-ruh) lamat-lamat mengalun sendu dan angkara murka
masih merajalela.

Salam dr Joger Jelek

/gun soetopoR 



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke