Jangan Berkunjung ke Karangkamulyan Sendirian!
Senin, 09/05/2011 - 00:06

   [image: AAM P, SUTARWAN/"PRLM"]
AAM P, SUTARWAN/"PRLM"
Kera di Situs Karangkamulyan terkadang menunggu wisatawan, untuk meminta
makanan. *

JANGAN berkunjung ke Situs Purbakala Karangkamulyan, Ciamis, sendirian?
Begitulah pesan seorang petugas penjaga loket di objek wisata tersebut,
baru-baru ini. Apa pasal? “Menjelaskannya susah…tetapi coba saja rasakan
sendiri, Pak,” begitulah ujar petugas tersebut.

Penjelasan tersebut tentu tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti wisatawan,
sehingga wisatawan membatalkan niatnya masuk ke situs. Pernyataan tersebut
justru merupakan promosi yang dahsyat. Membuat penasaran. Buktinya, setelah
menerima “peringatan” seperti itu, penulis malah masuk ke situs, sendirian.

“Mau coba sendirian, Pak?” tanya petugas loket saat penulis memberi isyarat
membeli tiket masuk untuk seorang. Penulis pun mengangguk.

Maka, setelah membeli tiket, penulis berjalan ke arah situs. Seorang petugas
kebersihan berusia sekira 55 tahun dengan muka dan tangan dipenuhi benjolan
besar, menepi sambil menganggukkan kepalanya, saat penulis lewat. Anggukan
ramah itu tentu dibalas anggukan lagi.

Melihat dia, sesaat penulis ingat uang Rp 5000 ribu di saku celana. Ada
keinginan memberikannya ke orang tua dengan tubuh kurus setengah bungkuk
yang membawa sapu itu. Akan tetapi, tidak dilakukan. Penulis merasa,
suasananya kurang tepat jika uang tak seberapa itu diberikan saat itu.

**

SITUS Karangkamulyan sebagaimana diketahui, terletak di Kabupaten Ciamis,
tepatnya sekira 17 km ke arah timur dari Ibukota Kabupaten Ciamis atau
sekira 7 km ke arah selatan dari Kota Banjar. Untuk sampai ke situs ini
mudah sekali karena berada di jalan nasional Ciamis-Banjar-Pangandaran.

Situs ini merupakan salahsatu situs yang ada di Kab. Ciamis karena di Ciamis
ada sejumlah situs yang menarik. Sekarang, bukan hanya menjadi milik
Kabupaten Ciamis, tetapi juga milik nasional karena sudah termasuk Benda
Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi pemerintah.

Ihwal kenapa disebut situs, karena kawasan seluas kurang lebih 25 hektar ini
mengandung sejarah. Sejarah dimaksud adalah sejarah Kerajaan Galuh, komplet
dengan benda-benda peninggalan purbakalanya. Hal itu dikuatkan oleh hasil
penyelidikan Tim dari Balai Arkeologi (Balar) Bandung yang dipimpin Dr. Tony
Jubiantoro pada tahun 1997. Menurut Tim Balar tersebut, Karangkamulyan
adalah pusat suci suatu kerajaan pada abad IX.

Ada sejumlah objek purbakala yang bisa disaksikan di situs ini. Di
antaranya, pelinggih, terletak tidak jauh di gerbang masuk situs. Di sini,
terdapat batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat
yang letaknya terbalik. Di bawahnya terdapat beberapa buah batu kecil yang
seolah-olah sebagai penyangga. Objek ini, diberi batas pagar dengan pintu
terkunci. Pintu bisa dibuka, bila ada permintaan khusus atau bila ada
gegeden yang datang.

Masuk ke dalam lagi, ada objek yang biasa disebut Sanghyang Bedil, sebuah
ruangan yang dikelilingi tembok berukuran sekira 6.20 x 6 meter dengan
tinggi sekira 80 cm. Di depan pintu ruangan yang menghadap ke arah utara
ini, terlihat struktur batu yang diduga berfungsi sebagai sekat. Melongok ke
dalam ruangan, terlihat dua buah menhir di atas tanah, masing-masing
berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm.

Di bagian lain, ada juga penyabungan ayam, terletak di sebelah selatan dari
Sanghyang Bedil. Tempat ini, dipercaya sebagai tempat penyabungan ayam Ciung
Wanara dan ayam raja, serta tempat istimewa untuk memilih calon raja.

Selain tempat yang diduga tempat penyambungan ayam, ada juga objek berupa
batu indah dihiasi pahatan-pahatan bergaya Hindu. Menurut penunjuk situs,
batu ini disebut sebagai lambang peribadatan, tetapi banyak yang menyebut
batu tersebut sebenarnya stupa. Batu ini berada dalam struktur tembok
berukuran sekira 3X3 m dengan tinggi 60 cm.

Batu lain yang bisa dinikmati adalah batu yang yang disebut panyandaran atau
tempat bersandar. Konon, di panyandaran itulah Dewi Naganingrum melahirkan
seorang bayi tampan yang kemudian membuang bayi bernama Ciung Wanara itu ke
sungai Citanduy. Setelah melahirkan, Dewi Naganingrum bersandar di tempat
itu selama beberapa hari untuk memulihkan kesehatannya. Panyandaraan yang
disebut para ahli sebagai menhir dan dolmen itu dikelilingi batu bersusun
yang merupakan struktur tembok.

Objek lain yang bisa dinikmati adalah objek yang disebut Cikahuripan dan
Dipati Panaekan. Cikahuripan berupa sumur yang letaknya dekat dengan
pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur.
Sumur Cikahuripan --karena berada dekat sungai, belum pernah diberitakan
kekeringan walaupun Ciamis, seperti wilayah lainnya, pernah dilanda kemarau
panjang.

Sedangkan objek yang disebut Dipati Panaekan adalah batu kali berbentuk
lingkaran bersusun tiga. Menurut kepercayaan, tempat ini ada kaitannya
dengan seorang Raja Galuh Gara Tengah bernama Dipati Panaekan. Dipati
Panekan adalah raja Galuh yang memperoleh gelar Adipati dari Sultan Agung
Raja Mataram.

**

TIDAK lebih dari satu jam, penulis selesai menyusuri jalan tanah guna
melihat objek-objek yang ada di situs, sendirian. Diakui, bulu kuduk kadang
berdiri, baik ketika berada dalam perjalanan maupun ketika menikmati
objek-objek tadi.

Penyebabnya, saat menyusuri jalan yang sepi tersebut, hewan-hewan yang tidak
dikenali bersuara terus. Semakin menyeramkan lagi suasana, karena walaupun
siang, suasana di kawasan situs ternyata meredup. Hal itu terjadi karena
areal seluas 25 hektar tersebut ditumbuhi pepohonan aneka jenis, baik yang
berukuran kecil maupun besar. Matahari tidak terlihat dari situs tersebut.
Tentu gesekan dedaunan dan dahan-dahan dari pohonan yang ada pun – yang di
antaranya dipastikan berumur ratusan tahun, menambah seram suasana.

Bahkan bukan hanya itu, penulis pun dikejutkan oleh kehadiran sekelompok
monyet. Sekelompok monyet tersebut rupanya biasa mencegat pengunjung untuk
“meminta” makanan yang dibawa. Mereka ngarenyohan sambil menggaruk-garuk
bagian belakang kepalanya. Namun mereka kemudian berlalu, setelah mengetahui
penulis tidak membawa makanan.

Saat keluar gerbang, petugas loket yang tadi, menyapa sambil tersenyum.
“Sukses, Pak?” Penulis mengangguk.

Saat itu, orang tua kurus setengah bungkuk yang memiliki banyak benjolan
tersebut terlihat masih ada. Dia berdiri di pintu gerbang, seperti menunggu.
Penulis langsung teringat kepada uang lembaran Rp 5.000 di saku celana. Maka
uang itu pun berpindah tangan kepada pria tersebut.

“Terimakasih, Den,” ujar dia sambil membungkuk dan menempelkan uang tak
seberapa itu di atas kepalanya. Dia tampak komat-kamit seperti berdoa.
Penulis mengangguk dan tersenyum, kemudian meninggalkan dia dan petugas
loket Situs Karangkamulyan. Sayang, penulis tidak meninggalkan situs
terkenal itu sambil membawa ayam Ciung Wanara….(Aam P. Sutarwan/”PRLM”)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/144429

Kirim email ke