Tanpa Syafruddin Prawiranegara Indonesia pernah tidak Ada Polkam / Sabtu, 21 Mei 2011 16:30 WIB
*Metrotvnews.com, Pandeglang*: Penulis buku "Presiden Prawiranegara" Akmal Nasery Basral menjelaskan, tanpa Syafruddin Indonesia pernah tidak ada karena pernah terjadi kekosongan pemerintahan. "Kalau kita tidak mengakui Syafruddin Prawiranegara sebagai Presiden, maka kita harus mengakui kalau Indonesia pernah tidak ada," kata Akmal saat bedah buku "Presiden Prawiranegara" di Pandeglang, Jawa Barat, Sabtu (21/5). Kekosongan pemerintahan itu terjadi dalam kurun waktu 19 Desember 1948-13 Juli 1949, atau ketika para pemimpin bangsa, termasuk Soekarno dan Muhamad Hatta ditangkap dan diasingkan ke Bangka. Saat ditangkap, Soekarno memberi mandat pada Syafruddin untuk menjalankan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) melalui radiogram. "Itu fakta sejarah yang tidak bisa dihilangkan. Bangsa ini seyogyanya memberikan pengakuan bahwa Syafruddin Prawiranegara adalah presiden ke-2 RI, meski hanya beberapa bulan saja," katanya. Akmal menjelaskan, klimaks masalah ini bukan pada pemberian mandat dari Presiden Sokerno pada Syafurddin, tapi sikap Syafruddin yang tulus dalam menjalankan tugasnya dan lebih mementingkan bangsa dan negara dari pada pribadi, bahkan keluarganya. Klimaks dari buku ini, kata dia, saat ada permintaan agar Syafruddin menyerahkan mendat dan terjadi kegentingan ketika terjadi perundingan Room Royen. "Sebagai presiden, Syafruddin bisa saja menentang perundingan itu, karena telah mendapat mandat untuk menjalankan pemerintahan dari Soekarno," katanya. Tapi Syafruddin melakukan sebaliknya: mengembalikan mandat itu pada Soekarno, yang ketika itu memang sudah dibebaskan. Pertimbangannya karena lebih memetingkan rakyat. Syafruddin merupakan figur yang berdedikasi tinggi terhadap bangsa dan negara, yang sanggup meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil untuk melaksanakan perintah Muhamad Hatta, selama 207 hari. "Saat menjadi Menteri Kemakmuran, Syafruddin diperintahkan berangkat ke Bukit Tinggi oleh Bung Hatta, dan ia pun berangkat serta meninggalkan anak dan istrinya," katanya. Karena dedikasinya itulah, pemerintah mempercayakan beberapa jabatan penting pada Syafruddin, yakni Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran dan Wakil Perdana Menteri.(Ant/DOR) http://www.metrotvnews.com/read/newscat/polkam/2011/05/21/52317/Tanpa-Syafruddin-Prawiranegara-Indonesia-pernah-tidak-Ada
