Terkait Kisruh "Sintren Musyrik"
Pemain Sintren "Road Show Gerakan Membaca" Berilaturahmi dengan Ny. Netty
Heryawan
Minggu, 29/05/2011 - 21:12
  [image: SATRYA GRAHA/"PRLM"]
SATRYA GRAHA/"PRLM"
GUBERNUR Jabar Ahmad Heryawan minum kopi bersama dengan sejumlah seniman
asal Kota Cirebon, di serambi belakang Gedung Negara Pakuan, Jln. Oto
Iskandar di Nata No. 1, Kota Bandung, Minggu (29/5). Dalam silaturahmi
tersebut, gubernur dan para seniman bertukar pikiran tentang sejumlah
kesenian khas Cirebon, mulai dari pewayangan hingga sintren.*

BANDUNG, (PRLM).- Menindaklanjuti tentang kisruh "sintren musyrik", sejumlah
pemain sintren yang mengisi acara Road Show Gerakan Membaca di Gedung Korpri
Kota Cirebon, pada Minggu (29/5) malam bersilaturahmi dengan Ny. Netty
Heryawan. Silaturahmi yang digelar di Gedung Negara Pakuan Jln. Oto Iskandar
di Nata itu, berlangsung dengan penuh keakraban.

Para pemain sintren yang merupakan istri-istri kepala dinas di Kota Cirebon
itu, diterima Ny. Netty menjelang magrib. Selepas magrib, barulah dilakukan
perbincangan yang tertutup bagi wartawan, di ruang pertemuan sayap kiri
Gedung Negara Pakuan. Beres silaturahmi, mereka bersantap malam bersama di
ruang utama Gedung Negara Pakuan.

Suasana santap malam bersama itu cukup meriah karena bersamaan dengan agenda
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan yang menerima sejumlah dalang se-Jabar,
termasuk seniman-seniman dari Cirebon. Acara santap malam dihibur juga
dengan penampilan Arumba (Alunan Musik Rumpun Bambu) Sound of Pakuan. Para
istri-istri kadis di Kota Cirebon pun sempat menyumbangkan suaranya,
diiringi arumba Sound of Pakuan.

Kepala Biro Humas, Protokol dan Umum Prov. Jabar Ruddy Gandakusumah
menuturkan, dalam silaturahmi itu, terungkap fakta bahwa Ny. Netty tidak
pernah mengucapkan kalimat bahwa sintren adalah kesenian musyrik. "Para
istri-istri kadis itu juga memberi klarifikasinya soal tudingan tersebut.
Mereka baru mendengar selentingan-selentingan saja. Baru katanya-katanya
saja," ujarnya kepada wartawan.

Hal senada diungkapkan staf humas Pemkot Cirebon, Sugino, yang mendampingi
para istri kadis tersebut. Menurut Sugino, dalam pertemuan itu, Ny. Netty
juga sempat menghubungi Sekda Kota Cirebon yang sedang berada di Aceh.
"Intinya, sekaligus mengklarifikasi soal berita-berita yang muncul bahwa isu
itu awalnya keluar dari istri Sekda. Dan sepertinya semua sudah clear. Tidak
pernah ada ucapan itu dari Bu Netty," ujarnya.

Ruddy menambahkan, kejadian tersebut juga menjadi evaluasi dan pembelajaran
seluruh pihak. "Sebenarnya semangatnya sama, yaitu ingin mempertahankan
kesenian daerah seperti sintren. Ingin menunjukkan kepada anak-anak, nih loh
yang tua-tua saja masih mau melestarikan kesenian. Kok yang muda-muda tidak
mau. Itu niatnya," kata Ruddy.

Mengenai penggunaan lagu Cinta Satu Malam yang dianggap tidak cocok
dilantunkan di hadapan anak-anak, para istri kadis pun menyetujuinya. Humas
Pemkot Cirebon Sugino, menuturkan, pemakaian lagu itu semata-mata agar
penampilan sintren bisa menarik dengan lagu yang akrab di telinga. "Seperti
Cinta Satu Malam dan Keong Racun. Aslinya, sintren itu memakai lagu-lagu
khas panturan. Yah, ini dimodifikasi agar menarik. Namun memang timingnya
tidak pas. Ini evaluasi bagi kami juga dalam memakai lagu yang pas. Harus
disesuaikan dengan para penontonnya, suasana dan tempatnya," katanya.
(A-128/das)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/146840


2011/5/24 Waluya <[email protected]>

>
>
> Geus Jaipong, ayeuna kana Sintren oge?
>
>
> Terkait Pernyataan Sintren Perbuatan Musyrik Masyarakat Cirebon Tuntut Agar
> Istri Gubernur Jabar untuk Minta Maaf
>
> SELASA, 24/05/2011 - 16:31
> SUMBER,(PRLM).- Sikap dan ucapan istri Gubernur Jawa Barat Hj. Netty
> Heryawan, yang menyatakan Kesenian Tradisional Sintren merupakan perbuatan
> musyrik telah menyinggung perasaan masyarakat Kab. Cirebon. Terhadap sikap
> dan ucapat tersebut masyarakat Cirebon menuntut agar Ny. Netty Heryawan
> untuk mengklarifikasi dan meminta maaf.
>
>

Kirim email ke