Abdi neraskeun.. indonesia di embargo soal sapi
http://m.politikana.com/baca/2011/06/06/penjagalan-sapi-australia-seperti-ho locaust penulis: Black Horse Hari demi hari dalam sepekan terakhir, koran, teve, majalah dan radio di Australia memainkan gending kemarahan dan gong cemoohan pada pemerintah dan orang-orang di Indonesia yang mereka anggap bengis, sadis dan kelewat batas dalam memperlakukan sapi-sapi impor Australia. Pangkal soalnya adalah sebuah video yang merekam detik-detik terakhir sapi-sapi impor itu di belasan rumah jagal sapi di Indonesia. Seperti Holocaust, kata seorang warga menyamakan kematian perlahan sapi-sapi Australia dengan kisah besar pembantaian orang-orang Yahudi di Eropa. Tak ada beda dengan cerita kelam perdagangan budak, kata warga lainnya yang menyaksikan penggalan video produksi seorang perempuan aktivis hak-hak binatang dari Australia. Tapi sampai di sini, sebagian orang mungkin ingin segera bertanya: kenapa Australia begitu peduli pada nasib sapi potong di saat mereka jarang menunjukkan kepedulian pada manusia yang mati kena sambar bom, pelor, dan mortir? Bukankah yang terakhir adalah cerita rutin invasi haram pasukan pendudukan pimpinan Amerika Serikat atas Afghanistan dan Irak dalam satu dekade terakhir dan ribuan serdadu Australia termasuk di dalamnya? Tidakkah pula jumlah foto, video dan statistik kejinya pendudukan oleh pasukan asing itu termasuk oleh tentara Australia hingga detik ini telah menyamai debur ombak yang membasahi pasir di tepi pantai namun publik Australia kukuh mengikhlaskan sebagian uang pajak mereka untuk membiayai perang atas negara berdaulat? Pemerintah dan media di Australia nampaknya menganggap invasi, penjajahan dan cerita kelam pembunuhan warga sipil sebagai sesuatu yang wajar tapi tidak untuk sapi mereka. Pekan lalu, Canberra secara resmi mengumumkan embargo atas 11 rumah potong hewan di Indonesia yang kebiadabannya, kata mereka, terekam dalam video. Ini bagian dari pembelajaran, katanya, sekaligus upaya menyelamatkan citra Australia, sebagai negara yang menghormati hak-hak binatang, di mata dunia. Beberapa anggota parlemen di Australia melangkah lebih jauh, mendesak blokade total jika Jakarta tak kunjung memperbaiki fasilitas dan etika rumah potong hewan. Yang terjadi di Indonesia begitu sistemik, sistem telah rusak, kekejaman atas hewan begitu merata hingga kita tak punya pilihan lain, kata seorang senator seperti dikutip The Sydney Morning Herald. Australia punya cukup berpengalaman memainkan senjata embargo sapi atas negara-negara yang lemah dalam kemandirian pangan. Pada 2006, Australia mengembargo ekspor sapi ke Mesir setelah munculnya sebuah dokumenter berdurasi 60 menit seputar perlakukan biadab atas hewan-hewan potong dari Australia. Perekam video di rumah jagal Kairo kala itu adalah seorang aktivis lingkungan Australia bernama Lyn White. Posisi Mesir di tahun itu terjepit seperti Indonesia sekarang ini, banyak bergantung pada Australia dalam soal sapi dan daging beku. Tak punya niat melawan, Mesir kemudian tunduk dan meneken sebuah traktak perdagangan yang sesuai dengan selera pemerintah Australia. Rezim Husni Mubarak membanggakan traktak itu, meski isinya sebenarnya mudah dibaca; sebuah imperialisme modern dengan Australia sebagai tuan. Pada tahun 2010, Australia lalu bermurah hati membuka kran embargo setelah Mesir menunjukkan kepatuhan yang tinggi pada semua syarat dalam traktak. Persisnya, Mesir telah mendirikan sebuah fasilitas berteknologi canggih yang menjamin seluruh sapi impor dari Australia diperlakukan layak. Sesuai traktak, hari-hari ini, seluruh kapal pengangkut sapi impor dari Australia hanya boleh berlabuh di Pelabuhan Ain Sokhna di Mesir dan begitu turun dari kapal sapi-sapi itu kemudian diarahkan ke sebuah sebuah kawasan tertutup, semacam kawasan berikat di Jakarta, yang menghubungkan pelabuhan, fasilitas penggemukan sapi dan rumah potong. Sebuah jalan 800 meter dibuat khusus untuk rute sapi-sapi impor itu dari dermaga ke kawasan tertutup. Di dalam kawasan tertutup itu, terdapat area penggemukan yang sanggup menampung 25.000 ekor sapi. Australia mengharuskan setiap sapi diberi kandang yang layak, cukup sinar matahari, cukup udara, air segar, dan makanan bergizi untuk dua kali sehari. Tapi itu baru separuh cerita. Traktak mengharuskan data setiap sapi impor yang masuk ke Mesir terekam dalam National Livestock Identification System, atau NLIS. Sapi impor dari Australia kemudian diberi tag khusus di telinga dan setibanya di Sokhna, penanda elektronik itu kemudian dipindai sehingga terdaftar dalam sistem komputer. Dengan satu dua kali klik, eksportir di Australia bisa memastikan tak ada sapi dari Australia yang dibawa keluar dari kawasan Ain Sokhna. Terakhir, soal penyembelihan. Australia membanggakan fasilitas yang baru ini. Katanya, sapi-sapi impor tak bakal mendapat perlakuan kasar lagi. Sapi-sapi itu hanya perlu berjalan sendiri ke rumah potong, jaraknya 50 meter dari area penggemukan. Di rumah potong, katanya, sapi-sapi itu bakal disembelih dengan fasilitas dan proses canggih, bersih, semodern rumah potong di Australia. Ada klaim juga kalau rumah potong hewan di Ain Sokhna saat ini memenuhi standar Uni Eropa. Pada 2010, Australia mengekspor 56.441 sapi ke Mesir dengan nilai transaksi A$ 48 juta. Sebagai perbandingan, di tahun yang sama, Indonesia mengimpor 520.987 ekor sapi dari Australia, menjadikan Indonesia sebagai konsumen terbesar. Penjajahan ala Mesir Pemberitaan media Australia menunjukkan adanya gelagat kuat Canberra untuk menduplikasi dengan sedikit modifikasi langkah sukses mereka menginvasi sektor peternakan Mesir. Bermiripan dengan Mesir, kemarahan publik Australia pada Jakarta saat ini dipicu oleh sebuah video yang merekam nestapa sapi-sapi Australia di rumah pemotongan hewan di belasan tempat di Indonesia. Video itu adalah hasil rekaman Lyn White, perempuan yang sama yang merekam kebrutalan di rumah jagal di Kairo, Mesir, pada 2006. Awal pekan ini, di tengah membesarnya desakan publik Australia agar Jakarta mendapatkan sanksi dagang seperti Mesir dulunya, koran The Sydney Morning Herald mengabarkan rencana Australia memberlakukan pembatasan ekspor sapi ke Indonesia. Termasuk dalam rencana sepihak ini adalah penerapan electronic monitoring system, akreditasi rumah potong dan perusahaan pengemukan sapi, dan pengawasan fasilitas rumah potong yang melibatkan ahli independen. Kata koran, Australia bakal membatasi ekspor hanya ke 10 tempat penjagalan yang mereka tetapkan berklasifikasi A dari total 100 rumah potong di seluruh Indonesia. Rumah potong pilihan ini nantinya bakal diakreditasi, dinilai kelayakannya oleh pemerintah Australia. Yang tak masuk klasifikasi bakal diberi tawaran peningkatan kualitas via skema pendanaan dan pendidikan dari pemerintah Australia. Australia juga berencana hanya mengeluarkan izin ekspor pada produsen sapi Australia yang bermitra dengan perusahaan penggemukan sapi di Indonesia yang telah mendapatkan akreditasi dari Canberra, kata koran. Dengan semua rencana besar itu, Canberra nampaknya ingin memastikan Indonesia berada dalam siklus ketergantungan yang panjang. Toh, mereka juga sudah lama cemas dengan keinginan Jakarta mencapai swasembada daging pada 2014. Jika sukses, swasembada berarti susutnya penerimaan Australia dan ini sekaligus kiamat kecil bagi puluhan ribu warga Australia yang menggantungkan hidupnya dari ekspor sapi dan daging beku ke Indonesia. Jakarta kini hanya punya dua pilihan: (a) tunduk pada embargo dan skema pembatasan Canberra seperti Mesir takluk pada kuasa dan tekanan Australia, atau; (b) menggiatkan langkah swasembada daging dan sapi potong dan membiarkan Canberra merepet sampai mati. [ON] Sent from Research® in Action ------------------------------------ Yahoo! Groups Links ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
