Runtuhnya Nilai Kejujuran

Sabtu, 11 Juni 2011 19:55 WIB

*KITA *semua pasti ikut merasa prihatin atas nasib yang dialami siswa
sekolah dasar AL dan kedua orangtuanya Siami serta Widodo. Karena sikap
jujur mereka untuk menyatakan ketidakbenaran atas pelaksanaan ujian
nasional, malah mereka akhirnya dinyatakan bersalah.

Orangtua AL dianggap mencoreng nama baik sekolah. Para orangtua yang lain
menyalahkan orangtua AL yang mempersoalkan adanya permintaan guru sekolah
yang memerintahkan AL membagi jawaban ujian nasional kepada murid-murid yang
lain.

Ini persoalan mendasar yang tidak bisa dianggap enteng. Betapa nilai-nilai
kejujuran sudah begitu terpuruknya pada bangsa ini. Kita tidak lagi bisa
membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk.

Nilai sepertinya sudah terbalik-balik pada bangsa ini. Orang yang salah bisa
menjadi benar, sementara orang yang benar bisa dianggap salah. Itu bukan
hanya terjadi pada kasus di Gadelsari Barat, Surabaya, tetapi sudah menjadi
praktik umum yang kita lihat setiap hari.

Ketika kita sedang berada dalam kekuasaan, seringkali kita tidak menangkap
ketidakadilan seperti itu. Seakan-akan itu hanya sebuah persoalan kecil yang
tidak penting dan tidak memiliki makna apa pun. Namun ketika kemudian
merasakan sendiri ketidakadilan itu, maka bisa terasalah arti sebuah
kebaikan, arti sebuah kebenaran, arti sebuah kejujuran.

Itulah yang pasti dirasakan oleh Adang Daradjatun. Ketika masih menjabat
sebagai polisi, menjadi Wakil Kepala Kepolisian RI, ia tidak terlalu peduli
atas ketidakadilan yang terjadi. Ketika para pelaku korupsi kabur ke luar
negeri, tidak terdorong keinginan untuk memerintahkan anggota polisi untuk
menangkap mereka.

Kini ia merasa ketidakadilan itu, ketika istrinya Nunun Nurbaeti
dipersangkakan ikut terlibat dalam kasus suap pada pemilihan Deputi Gubernur
Senior Bank Indonesia. Adang berteriak keras ketika istrinya ditetapkan
sebagai tersangka, dicabut paspornya, dan dimintakan kepada Interpol untuk
ditangkap.

Dalam wawancaranya dengan Metrotv, Adang tidak bisa menerima atas
ketidakadilan yang ia rasakan. Bagaimana istrinya ditetapkan sebagai
tersangka dan dicabut paspornya, sementara begitu banyak koruptor yang kabur
ke luar negeri sejak bertahun-tahun lalu, namun hingga kini tidak pernah
juga dicabut paspornya.

Adang menegaskan bahwa dirinya tidak akan tinggal diam. Meski bukan dalam
arti melakukan perlawanan total, dirinya akan membuka semua ketidakberesan
yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan istrinya dijadikan korban dari sebuah
ketidakbenaran.

Adang beruntung masih tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari
Partai Keadilan Sejahtera. Sebagai polisi bintang tiga, pasti masih banyak
anggota polisi yang akan membantu dirinya melawan ketidakadilan itu.

Namun tidak demikian nasibnya Saimi dan Widodo. Mereka bukanlah siapa-siapa.
Mereka hanya rakyat biasa yang mencoba menegakkan nilai kejujuran. Namun ia
harus tersingkir dari lingkungannya, yang tidak bisa menerima sikap
jujurnya.

Adakah orang yang membela Saimi dan Widodo? Adakah mereka yang peduli
terhadap AL? Tidak ada sama sekali. Mereka dibiarkan menghadapi kejamnya
kehidupan di tengah bangsa yang sedang kehilangan nilai kebaikan.

Seharusnya pemerintah tampil untuk menggunakan momentum ini mengajarkan
kembali pentingnya arti sebuah kejujuran, pentingnya sebuah keadilan. Tampil
untuk menjadikan sosok Saimi dan Widodo sebagai simbol kejujuran, bukan
malah membiarkan mereka menjadi korban dari ketidakbenaran.

Bahkan Presiden, Menteri Pendidikan Nasional, Gubernur Jawa Timur, Wali Kota
Surabaya seharusnya bersimpati kepada nasib yang dialami Saimi dan Widodo.
Bukan hanya duduk diam, menonton ketidakbenaran itu terus terjadi, sehingga
tidak ada pembelajaran yang bisa dipetik oleh bangsa ini.

Ketika semua pemimpin diam, maka orang tidak akan berani untuk bicara
kebenaran, bicara kejujuran. Mereka akan menelan semua ketidakbenaran itu,
kalau pun dirasakan bertentangan dengan nilai kebajikan yang mereka yakini.
Sebab, ternyata bicara kebenaran, bicara kejujuran di negeri ini malah
dianggap sebagai sebuah kesalahan.

Ketika memberikan kuliah di depan generasi muda, sebenarnya ada pelajaran
berharga yang diberikan Presiden. Bahwa sebagai pemimpin kita tidak boleh
berkompromi untuk hal-hal yang prinsipiil seperti dalam hal etika atau
nilai-nilai. Yang boleh dikompromikan hanyalah taktik atau strategis dalam
mencapai tujuan.

Kasus AL, Saimi, dan Widodo seharusnya dipakai untuk melaksanakan kebajikan
yang disampaikan. Saimi dan Widodo merupakan sosok langka di negeri yang
hanya berorientasi kepada hasil, tanpa memedulikan proses. Saimi dan Widodo
mengajarkan kepada kita semua bahwa kejujuran itu masih ada di negeri ini.

http://www.metrotvnews.com/read/tajuk/2011/06/11/790/Runtuhnya-Nilai-Kejujuran/tajuk


2011/6/11 Deni Indra Kelana <[email protected]>

>
>
> Naha enya kitu masarakat urang teh keur "gering"?
> Kumaha tah saur wargi kisunda?
>
> Nuhun,
> Deni
>
> http://www.surya.co.id/2011/06/10/ny-siami-si-jujur-yang-malah-ajur
>
> *SURABAYA | SURYA -* Ny Siami tak pernah membayangkan niat tulus
> mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Warga Jl Gadel
> Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya itu diusir ratusan warga setelah ia
> melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan
> kepada teman-temannya saat Unas pada 10-12 Mei 2011 lalu. Bertindak jujur
> malah ajur!
>

Kirim email ke