Lunturnya Identitas Lokal Picu Radikalisme Minggu, 19/06/2011 - 17:40 CIREBON, (PRLM).- Lunturnya identitas lokal yang melanda generasi muda belakangan ini, dituding menjadi salah satu faktor pemicu radikalisme. Lunturnya identitas lokal, menyebabkan kekosongan nilai yang dianut, sehingga paham radikal mulai mengisi kekosongan itu.
Demikian salah satu benang merah rembug nasional kebangsaan yang digelar di Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan Cirebon, Minggu (19/6). Hadir sejumlah panelis di antaranya Prof. Dr. Achmad Mubarok, K.H. Sakur Yasin, K.H. Maman Imanulhaq dan Ma'sum Muchtar. "Sekarang ini budaya lokal negeri kita sendiri sudah banyak yang terkikis, yang memberi ruang lebih kepada sikap radikalisme untuk tumbuh subur," kata KH Sakur Yasin, pengasuh Pondok Pesantren Canggan Pinggan, Indramayu, Jabar. Menurut Sakur, budaya Indonesia sangat kaya dengan berbagai budaya lokal, yang seharusnya bisa menjadi filter paham-paham lain yang tidak sesuai. Sayangnya, lanjut dia, sekelompok orang menganggap beberapa budaya lokal merupakan bid'ah. Akibatnya dalam proses pencarian jati diri pun terjadi kekosongan dalam jiwa seseorang. Kondisi inilah yang menurut Sakur yang akhirnya menyebabkan paham-paham radikalisme mudah masuk dan mempengaruhi jiwa seseorang. Akibatnya yang terjadi seperti sekarang ini, terjadi aksi terorisme yang bahkan dilakukan oleh kaum muda yang sebenarnya masih dalam proses pencarian jati diri. Selain lunturnya nilai-nilai budaya lokal, faktor lain yang memicu radikalisme yakni tersumbatnya komunikasi antara penguasa dan rakyat. "Yang mengherankan perwakilan kita di dewan, tidak bisa maksimal memainkan peran penghubung saluran komunikasi," katanya. Hal yang sama pun diungkapkan Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan, P.R.A. Arief Natadiningrat. Menurut Arief, generasi saat ini sudah banyak melupakan nilai-nilai dan kearifan lokal yang diwariskan para pendahulu kita. Arief kemudian mengungkapkan banyaknya petatah petitih Sunan Gunung Jati yang bisa menjadi acuan dalam mengembangkan karakter bangsa. Di antaranya yang mengajarkan kearifan seperti angsana diri (mawas diri), ang adohna ing perpadu (jauhi pertengkaran), dan singkirna sifat kanden wanci (jauhi sifat yang tidak baik). "Bahkan kecilnya pintu-pintu saat jemaah masuk ke masjid agung Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan pun memiliki pesan adab. Yaitu agar kita selalu rendah hati, tawadu serta hormat pada orangtua dan lelhuru," katanya. Dikatakan dia, nilai-nilai inilah yang perlahan tapi pasti telah menghilang dalam kehidupan kita, termasuk generasi muda. Karena itulah Arief berharap agar Bangsa Indonesia kembali kepada nilai-nilai budaya luhur bangsa yang mempersatukan bangsa kita. "Jangan sampai yang terjadi seperti sekarang, kekerasan hampir selalu terjadi setiap hari," katanya. (A-92/das)*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/149171
