Radikalisme Subur jika Hubungan Agama-Negara tak Tepat Disambungkan
Senin, 20/06/2011 - 22:07

DEPOK, (PRLM).- Radikalisme agama di Indonesia bisa disebabkan karena salah
meletakkan hubungan agama dengan dasar negara. Radikalisme agama akan tumbuh
subur jika hubungan agama dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak
disambungkan dengan tepat.

"Ini harus diselesaikan. Karena dari sinilah tumbuh sumber radikalisme agama
jika tidak disambungkan dengan pas," kata Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikam
K.H. Hasyim Muzadi saat memberikan sambutan pada Workshop "Membangun
Kesadaran dan Strategi dalam Menghadapi Gerakan Radikalisme Agama" di
Kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok, Jabar, Senin (20/6) malam.

Hasyim mengatakan Al Quran harus menjadi kitab suci yang bermanfaat untuk
semuanya. Pasalnya, akhir-akhir ini Al Quran diragukan karena dinilai
menjadi masalah. Padahal yang jadi masalah orangnya. "Kita harus buktikan
karena Al Quran adalah rahmatan lil alamin dan bukan menjadi fitnatan lil
alamin," kata Hasyim.

Untuk mencari solusi menangkal radikalisme di Indonesia, kata Hasyim, semua
pihak tidak boleh hanya berwacana saja. Problem ada baik radikalisme agama
maupun radikalisme yang tumbuh karena kemiskinan itu harus mendapat
perhatian serius, khusus radikalisme agama harus disambungkan dengan wawasan
kebangsaan.

"Kita harus gali kembali kenapa tokoh-tokoh agama dulu bisa sepakat dan
diterima. Setelah tahun 45 ternyata pancasilan dan NKRI mulai dirobek-robek
ada pemberontakan PKI, Kartosuworyo, tahun 1949 ada alur liberalisme,
konstituante pun ada tarik menarik," katanya.

Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat yang mewakili Menteri Agama
Suryadharma Ali mengatakan radikalisme agama menjadi isu dan perhatian
serius, mulai dari kekerasan dengan simbol agama, terorisme yang
mengatasnamakan agama. "Apapun pendapat dan analisis, kita sepakat bahwa
agama apapun berpotensi untuk disalahtafisrkan. Karena kesempurnaan agama
itu barang jadi. Tapi kesempurnaan hidup beragama bukan baragama jadi," kata
Bahrul.

Bahrul mengatakan bahwa agama jelas sekali sempurna, tapi beragama merupakan
proses yang berwujud pada tindakan dan perjalanan panjang yang dipengaruhi
komponen dari dalam dan luar. "Ada beberapa negara yang secara khusus tidak
adil dalam menyikapi rasikaliema. Kita harus memberikan informasi bahwa
gerakan radikalisme bisa terjadi dimana pun dan kapan pun. Bahkan, anasir
radikalieme itu justru tumbuh di luar pendiidkan Islam. Ini disebabkan tidak
mempunyai asupan yang cukup mengenai keagamaaan," kata Bahrul.

Bahrul menegaskan bahwa santri pun berperan penting untuk mempersatukan
bangsa. Santri dan lembaga agama pun bisa menunjukkan bahwa peran lembaga
pendidikan agama dan keagamaan justru jadi penopang NKRI. "Peran kiai
menjadi sangat sentral bagi masyarakat dan sekitarnya. Kita menghadirkak
kiai justru untuk pencerahan, dan bukan karena pesantren sebagai sumber
radikalisme," kata Bahrul.

Untuk menangkal radikalisme agama, kata Bahrul, maka posisi agama dan negara
harus menjadi saling menguatkan satu sama lain. Cara lain untuk menangkal
radikalisme itu adalah dengan memberikan pelajaran agama yang terpadu,
sehingga agama akan mendorong santri untuk terus berkarya. Radikalisme pun
bisa ditangkal dengan memberikan pembekalan pendidikan multikultural.
"Pluralitas adalah realitas, tapi kesatuan adalah keniscayaan," kata Bahrul.

Cara lainnya, kata Bahrul, radikalisme bisa ditangkal dengan meng aktifkan
pesantren dalam kegiatan dialog lintas agama. "Karena pesatren tidak bisa
menutup diri, justru harus diperkaya dengan dialog dan aktif terlibat dalam
kegiatan dialog lintas agama. Itu harus dilakukan bersama-sama," kata
Bahrul.

Sebelumnya, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag Abdul Fatah
mengatakan workshop ini atas kerja sama Kementerian Agama, Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme dan Pondok Pesantren Al-Hikam. Jumlah peserta 51
orang, yang terdiri dari perwakilan pondok pesantren dari berbagai daerah di
Jawa dan luar Jawa. Tujuan dari workshop ini adalah mencari solusi yang utuh
untuk menangkal gerakan radikalisme di Indonesia. (A-130/das)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/149318


2011/6/20 Ki Hasan <[email protected]>

>
> Lunturnya Identitas Lokal Picu Radikalisme
> Minggu, 19/06/2011 - 17:40
>
> CIREBON, (PRLM).- Lunturnya identitas lokal yang melanda generasi muda
> belakangan ini, dituding menjadi salah satu faktor pemicu radikalisme.
> Lunturnya identitas lokal, menyebabkan kekosongan nilai yang dianut,
> sehingga paham radikal mulai mengisi kekosongan itu.
>
> http://www.pikiran-rakyat.com/node/149171
>
>

Kirim email ke