Ngahaja info di handap disalabarkeun didieu, pedah kamari gan doktor jamal , 
dina disertasinya ngadadarkeun perkara anu aya pakaitna jeung budaya 
tradisional. jadi kacindekanana, budaya tradisional jeung modern heunteu kudu 
pabentar.

baktos,

mrachmatrawyani

        


Green Public Space and Urban Planning


Program Studi Kajian Pengembangan Perkotaan Program Pascasarjana UI pada hari 
Selasa (21/6)  mengadakan seri seminar ilmiah dengan tema Green Public Space 
and 
Urban Planning,  di GedungPascasarjana UI Lantai 4, Kampus UI Salembapada pukul 
09.30 – 12.00 WIB dengan pembicara utama Mr. Daniel J Glenn. 

Dalam acara ini  hadir Jennifer, perwakilan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat 
yang menjelaskan biografi Mr. Daniel di awal acara. Sebagai moderator dalam 
acara ini  Komara Djaja, SE., M.Sc., Ph. D(Kepala Program Studi Kajian 
Pengembangan Perkotaan  Program Pascasarjana) yang juga memberikan pembukaan 
pada awal acara.
Mr. Daniel J Glennadalah seorang arsitek Amerika Serikat yang diakui secara 
nasional dan telah berpengalaman selama 25 tahun dalam mendesain arsitektur 
yang 
ramah lingkungan untuk perumahan, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan di 
Amerika Serikat. Dia merupakan kepala Glenn & Glen Architects Engineers, 
PLLCserta  Executive Directors  dari Enviromental Works, sebuah firma 
non-profit 
berbasis arsitrektur. 

Dalam presentasinya, Mr. Daniel secara umum menjelaskan betapa pentingnya  
posisi budaya kultural masyarakat dalam menghasilkan perencanaan arsitektur 
yang 
responsif terhadap permasalahan lingkungan, terutama masalah keterbatasan ruang 
publik di masyarakat. Dalam menjelaskan materi ini, Mr. Daniel banyak 
menceritakan pengalamannya dalam membangun kebutuhan bangunan di negaranya, 
mulai dari bangunan sekolah, sampai pembangunan perumahan bagi masyarakat lokal 
di Montana dan bagaimana bangunan yang dibangun tersebut dapat mengakomodasi 
kepentingan dan kebutuhan masyarakat Indian lokal yang tinggal disana. Mr. 
Daniel ingin menunjukkan fakta, dengan mengadopsi bagian-bagian tertentu dari 
adat kebudayaan masyarakat setempat, serta melakukan kerjasama yang 
terintegrasi 
dengan masyarakat setempat, suatu pembangunan arsitektur dalam ranah lokal 
tidak 
harus selalu berbeturan dengan kebudayaan asli dan mengundang perlawanan 
sekaligus dapat berfungsi sebagai bangunan yang ramah lingkungan. (Wanda)

Kirim email ke