Serpihan (buku) The Prophetic Wisdom
Oleh AHMAD SAHIDIN
 
SALAM kearifan…
Izinkanlah saya ingin berbagi dengan Anda. Saya tidak tahu harus mulai dari
mana. Saya tidak bisa memastikan mampu mengungkapnya. Setiap kali membuka
lembar demi lembar saya tersentuh, tersentak, dan tersadar. Setiap kali membaca
torehan kalimat terasa menyedot pikiran dan mata untuk terus membacanya. Jemari
tangan pun tak mau lepas sebelum tuntas. 
 
Ya…
bukuThe Prophetic Wisdom yang
membuatku demikian. Buku ini ditulis oleh guruku: Ustadz Miftah Fauzi Rakhmat. 
Dari
nama belakangnya dapat ditebak kalau Beliau adalah putra ulama dan cendekiawan
termashur: Prof.Dr.KH.Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. 
 
Beruntung
saya mendapatkanThe Prophetic Wisdom ini secara gratis dan langsung diberi 
tanda tangannya.Saya pernah ingat yang
dikatakan Ustadz Jalal bahwa tanda tangan merupakan bagian dari serpihan
kehidupan yang menjadi ruh dari setiap karya yang dihasilkan dari tangan
tersebut. Dari tanganlah percikan demi percikan ilmu mengalir kepada pembaca
buku. Dari tangan pula untaian kata yang sulit diungkap secara lisan meluncur.
Hanya melalui tulisan seorang penyair dapat melahirkan sajak-sajak indah. Hanya
melalui goresan kuas pelukis dapat melahirkan karya indah. Dengan tangan pula
kalam-kudus Allah diabadikan dan dibaca umat manusia. Dan… satu lagi, memang 
terasa
ada bedanya membaca buku yang diberi sentuhan tangan penulisnya (tanda tangan)
dengan yang tidak. Ketika membaca lembar demi lembar buku The Prophetic Wisdom, 
ada saja hal-hal yang tidak saya ketahui dan
ada tafsiran yang lebih mendalam dari yang pernah saya baca. Terasa mengalir
uraian setiap fragmen kisah yang dikupas olehnya.     
 
Bagi saya,
yang masih awam dalam pengetahuan agama dan kehidupan, buku The Prophetic 
Wisdom ini sangat luar biasa.
Buku ini mengingatkan saya untuk terus mengambil manfaat dari setiap kehidupan
yang dilalui manusia di dunia. 
 
Ustadz
Miftah melalui bukuThe Prophetic Wisdom seakan-akan berpesan bahwa para Nabi 
Allah yang diceritakan dalam Quran, hadis,
atau ceramah-ceramah agama yang disampaikan guru agama sebenarnya hanya
perulangan yang terus dituturkan dari zaman ke zaman. Kita harus jujur bahwa 
sejak
kecil amat senang membaca kisah para Nabi. Ketika sekolah dasar pun tetap  
asyik diceritakan kisah para Nabi. Masuk SMP
dan SMA pun masih senang kalau mendengarkan orang bercerita tentang para Nabi
Allah. Bahkan, ketika kuliah pun saya masih berminat untuk membacanya. Bedanya,
ketika kuliah saya membacanya dengan sedikit menimbang-nimbang: benarkah 
demikian
kejadiannya? Jangan-jangan tidak seajaib begitu. Dengan kata lain, mulai
sedikit kritis. Apalagi saat belajar metodologi sejarah, bacaan sejarah atau
kisah menjadi semakin terasa menarik saat pertanyaan demi pertanyaan mengalir
meminta jawab.
 
Ah…
kalau sudah bicara sejarah dalam konteks ilmiah tidak lagi membuat saya takjub.
Setiap penulis memiliki perspektif sendiri. Tidak ada yang sama, kadang
berbeda. Kalau sudah demikian, saya hanya bisa tersenyum dan berkomentar:
rekonstruksi sejarah tidak pernah menghadirkan keaslian, tetapi sekadar
tampilan dari realitas masa lampau. Meskipun dengan metodologi yang ketat pun,
ya sekadar rekonstruksi versinya sendiri. Memang hanya argumen yang kuat dengan
fakta dan sumber yang valid yang dalam sidang sejarah dapat diterima. Kalau
sekadar pembelaan atas keyakinan pribadi biasanya tak akan pernah dianggap
dalam sidang sejarah.
 
Memang
akan sulit kalau kita menelusuri kebenarannya. Apalagi kalau menyangkut data
sejarah masa lampau pra masehi. Untuk peristiwa masehi awal saja masih simpang
siur, apalagi sebelumnya pasti lebih banyak nuansa dongengnya ketimbang
kebenarannya. 
 
Bagi
sebagian sejarawan Muslim, Al-Quran memang dianggap sebagai salah satu sumber
dari sejarah masa lalu, khususnya berkaitan dengan para Nabi Allah. Kabar yang
terdapat dalam Quran memang amat sulit untuk diteliti yang berkaitan dengan
para Nabi terdahulu karena jejak arkeologis yang sulit ditemukan. Kasus kapal
Nabi Nuh as, baru-baru ini memang sempat dibincangkan para arkeolog dan
disinyalir yang berada di daratan Rusia, Keiv, ditemukan bongkahan kayu kuno.
Para arkeolog yang mensinyalirnya jejak kayu perahu tersebut terdapat tulisan
yang menyebutkan Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Benarkah itu jejak
Nabi Nuh as? Darimana mereka dapat menyimpulkannya?
 
Kemudian
yang paling diingat adalah bangunan Spinx di Mesir dan sejumlah piramidanya
yang disebut warisan Firaun. Kemudian sejumlah jejak peradaban Persia dan
India. Bagi arkeolog selalu dikaitkan dengan peristiwa masa lalu. 
 
Melacak
data historis dengan perangkat metodologi sejarah yang syaratnya harus dipenuhi
dengan data-data empiris memang akan sangat melelahkan. Tidak semua orang
mampu. Tidak setiap negeri punya minat untuk menggalinya. Karena itu, agama
dengan kabar langit sekadar menginformasikan bahwa masa lalu pernah ada dan
orang-orang sebelum kita terdahulu pernah menempuh beragam hidup. Pola hidup
dan keadaan serta bagaimana kehidupannya tidak dapat dipastikan. Biasanya para
penafsir Kitab Suci yang rajin menjelaskannya dengan mengambil rujukan dari
sana sini seakan-akan benar yang dijelaskannya dengan realitas masa silam yang
diungkapnya. Orang-orang yang bergelut dalam studi sejarah biasanya akan
sedikit mencibir kerja mereka: bagaimana mungkin orang yang hidup hari ini
menjelaskan kehidupan masa lalu. Bukti empiris dan saksi sejarah yang memang
menjadi kekuatan dalam merekonstruksi sejarah. Kalau sumber primer tersebut
tidak memenuhi maka kajiannya bukan lagi sejarah. Mungkin rekaan sejarah. Hal
ini yang kemudian menjadi argumen dari sebagian Muslim Liberal bahwa
kisah-kisah dalam Quran dikategorikan fiktif untuk sekadar mengambil pelajaran
atau hikmah hidup. Lalu, beberapa orang yang tidak setuju menyebut mereka
termasuk orang-orang yang mengingkari kebenaran ayat-ayat Allah. Bukankah kisah
dan pragmen hidupnya disebutkan dalam Kitab Suci, yang berarti kebenarannya
dijamin sampai Kiamat?
 
Kalau
sudah sampai pada masalah tersebut biasanya umat Islam akan cukup mengatakan
hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Biarlah Allah yang membukanya kelak di
akhirat. Kalau sudah demikian maka orang akan berhenti menggali dan
memikirkannya kemudian menjadi seorang fatalis yang menerima saja. Padahal,
Allah memerintahkan untuk memikirkannya. Ah… ini soal lain lagi yang perlu
dicermati.
 
Dari
bacaan buku The Prophetic Wisdom,
saya jadi bertanya-tanya. Benarkah demikian kisah-kisahnya? Bukankah itu semua
hanya peristiwa masa lampau? Untuk apa semuanya hadir atau muncul dalam
kehidupan kita?
 
Penulis
buku The Prophetic Wisdom, Ustadz
Miftah Fauzi Rakhmat menjawab dengan halus bahwa pada setiap fragmen hidup dan
jejak peristiwa kehidupan terdapat hikmah. Bukankah
ada hikmah dibalik setiap kisah? Kalimat itu yang terus muncul kalau Anda
membaca bukunya; yang seakan-akan mengingatkan kita agar becermin dan mengambil
nilai dari setiap serpihan hidup yang dialami, termasuk dari para Nabi Allah. 
 
Terima
kasih Ustadz Miftah yang telah berkenan berbagi pencerahan dan hikmah
kisah-kisah para Nabi Allah.Saya
yakin setiap orang yang membaca akan mendapatkan manfaat dari The Prophetic 
Wisdom: Kisah-kisah Kearifan
Para Nabi. Tidak percaya, baca deh! J
 
Bandung:
30 Sya’ban 1432 
 
www.ahmadsahidin.wordpress.com

Kirim email ke