Indenesia ayeuna mah butuh pamimpin sederhana siga Hatta tapi kuat/teges atawa 
telenges siga Suharto.
 
Habbibie mah ambon sorangan, pinter sorangan. Teu kaci kabur kuduna ka Jerman 
lamun
bener mampu ngamajukeun Indonesia.





--- On Sat, 6/8/11, Mang Kabayan <[email protected]> wrote:

From: Mang Kabayan <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [kisunda] Tokoh - B.J. Habibie
To: "Kisunda" <[email protected]>
Received: Saturday, 6 August, 2011, 6:10 AM







 



  


    
      
      
      












Bangsa urang teu pati butuh bangsa pinter tapi perlu bangsa nu jujur tur cerdas 
:P.

Nu pinter geus loba tapi nyakitu lah...

Jabar jeung Indonesia kudu bisa ngaleungitkeun trademark anu geus nelah 
"terkorup" ceunah... 
powered by dkabayan.comFrom:  MRachmat Rawyani <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Thu, 4 Aug 2011 21:14:04 -0700 (PDT)To: 
[email protected]<[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Subject: Re: Bls: [kisunda] Tokoh - B.J. Habibie

 



    
      
      
      Ceuk cenah, Habibie teh waktu keur jadi mahasiswa  Fakultas Tehnik UI di 
Bandung (1952), ngaregepkeun pidato Bung Karno anu harita nganjang ka kampus 
Ganesa. Ti awit harita ngagedur sumanget Habibie pikeun tolab ilmi. Nepi ka 
jadi Habibie jiga ayeuna.
Jadi memang kudu aya faktor 'pemicu' supaya urang Sunda Harudang. Lain ngan 
sakadar ngulang-ngulang UGA SILIWANGI. Nya teu  aya deui, kudu nyieun strategi 
kabudayaan anu jelas.

mrachmatrawyani

From:
 Jalak Pakuan <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: Urang Sunda <[email protected]>; Baraya Sunda 
<[email protected]>
Sent: Thursday, August 4, 2011 7:42 PM
Subject: Bls: [kisunda] Tokoh - B.J. Habibie















 
 



    
      
      
      Ceuk kuring mah tetep kudu boga idealisme, jadi kudu optimis urang 
sunda nu idealis baralik ka tatar sunda. Janten urang nungguan wae "gagasan 
kongkrit" kitu?? Nya meureun nu tos "cekap bekel" baralik deui mun teu nyileun 
ladang pagawean nya atuh balik ka kampus2. Kataji lah ka ahli nuklir nu di 
serpong geuning sukses ngagorolongkeun olympiade sains ka barudak.


 
JP




Dari: Ki Hasan <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Urang Sunda <[email protected]>; Baraya Sunda 
<[email protected]>
Dikirim: Kamis, 4 Agustus 2011 10:09
Judul: [kisunda] Tokoh - B.J. Habibie


  



B.J. Habibie: SDM Berkualitas Tinggi Kuncinya
Oleh Feba Sukmana
Dibuat 30 Juli 2011 20:07

habibie-teaser.jpg

“Dari zaman saya di Eropa, isunya sama: brain drain. Tapi, realistis saja, 
bagaimana orang pintar mau pulang ke Indonesia kalau tidak ada lapangan 
pekerjaan di sana,” kata B.J. Habibie lugas.
Sabtu (30/07) Dr. Ing. B.J. Habibie, mantan presiden Indonesia sekaligus bapak 
teknologi tanah air, memberikan kuliah umum di kota Aachen, Jerman. Ia 
berbicara banyak soal IPTEK, ekonomi, brain drain, dan kenangan masa mudanya di 
kota teknik Jerman, Aachen.
Kuliah umum ini digelar oleh Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional bekerja 
sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Aachen, Jerman. Tujuan awal 
mereka: mencari cara terbaik agar ilmuwan Indonesia di luar negeri bisa 
berkontribusi untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di tanah air.
Potensi
“Ide awal menggelar kuliah umum ini adalah karena kami melihat banyak sekali 
potensi mahasiswa Indonesia di Eropa, hanya saja mereka terpecah-pecah, tidak 
ada sinergi,” jelas Feby Kumara Adi, ketua panitia kuliah umum di Aachen.
Ketika ditanya mengapa mereka malah menggelar kuliah umum dan bukan kegiatan 
yang lebih konkret, Feby menjawab diplomatis, “Kuliah ini kan bukan tujuan, 
melainkan titik awal yang semoga saja nanti melahirkan gagasan konkret di 
kalangan intelektual Indonesia di Eropa.”
Antusiasme masyarakat (intelektual) Indonesia memang terlihat di acara ini. 
Sekitar 470 mahasiswa di daratan Eropa menyempatkan diri datang ke Aachen, 
walaupun dengan motivasi beragam. Kebanyakan mengaku penasaran dan ingin ikut 
berkontribusi untuk negara tercinta.
SDM
Habibie sendiri terlihat segar, antusias dan – seperti biasa – penuh senyum. Ia 
memulai dua sesi kuliah umum dengan menceritakan pengalamannya berkuliah di 
Aachen pada tahun 50-an. Ketika panitia mengisyaratkan bahwa waktu yang 
diberikan terbatas, kakek yang pandai melucu ini berseloroh, “Kekurangan saya 
memang itu: tidak bisa berhenti kalau sudah ngomong.”
Tidak hanya bercanda, di depan publik Habibie dengan fasih membeberkan fakta. 
Ia membandingkan Uni Eropa dan ASEAN, dengan Jerman dan Indonesia sebagai 
macannya. “Indonesia di ASEAN bisa dibandingkan dengan Jerman di Uni Eropa, 
karena dilihat dari kuantitas mereka sama-sama punya potensi terbesar.”
“Indonesia adalah pasar besar dengan konsumsi domestik yang tinggi,” kata 
Habibie. “Dan untuk mengembalikan Indonesia ke posisi puncak dunia, kuncinya 
hanya satu: sumber daya manusia.”
Selain sumber daya manusia, Habibie melanjutkan, Indonesia juga harus pintar 
berhitung. Dalam arti, kita harus dengan matang memperhitungkan energi yang 
dikeluarkan dan menggunakan berbagai strategi “jual-beli.”
Habibie: “Banyak caranya. Misalnya, ketika membeli pesawat, alih-alih membayar 
dengan uang, kita membayar pesawat tersebut dengan jam kerja para ahli. Semacam 
barter. Jadi selain dapat pesawat, ilmuwan Indonesia juga bisa mempraktikkan 
keahlian mereka di dunia internasional.”
Optimis
Pada sesi tanya-jawab, seorang mahasiswi sempat mempertanyakan, bagaimana 
mungkin kualitas sumber daya manusia Indonesia bisa ditingkatkan jika sekolah 
pun belum terjamin untuk semua anak Indonesia. Habibie menanggapi dengan 
ringan, “Indonesia kan punya banyak sekali sumber daya alam. Harusnya SDA itu 
yang dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kemajuan otak manusianya.”
Sangat optimis, memang. “Ya, jangan pesimis, dong. Nggak maju-maju kita kalau 
pesimis terus,” katanya ceplas-ceplos. “Saya yakin Indonesia bisa. Soal 
kemampuan sih, nggak usah dipertanyakan lagi,” tambahnya.
Brain drain
Masalah brain drain pun, Habibie tak cemas. “Bohong itu kalau bilang, orang 
Indonesia yang di luar negeri are lost people yang nggak punya nasionalisme.” 
Menurutnya, pilihan yang realisitis untuk (sementara) bertahan di luar negeri — 
apalagi untuk para ilmuwan — mengingat kondisi dalam negeri tidak mendukung 
mereka melakukan riset atau mengembangkan keahlian.
“Tapi saya yakin, jika ada kesempatan, tak ada orang Indonesia yang tidak ingin 
berbakti pada tanah air,” katanya. “Nggak masalah kalau sekarang mereka ingin 
‘mencari bekal’ dulu di luar negeri.”

Ingin tahu pendapat Habibie lebih lanjut soal brain drain? Klik tanda panah di 
bawah ini:






kuliah umum B.J. Habibie

peserta kuliah umum

peserta kuliah umum

kuliah umum Habibie

ki-ka: walikota Aachen, rektor hogeschool Aachen, B.J. Habibie<< >>

URL sumber: 
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/bj-habibie-sdm-berkualitas-tinggi-kuncinya
Links:
Images:
[i1] 
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/lead/article/2011/07/habibie-teaser.jpg
[i2] kuliah umum B.J. Habibie -- 
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/image/article/2011/07/habibie-1.jpg
[i3] peserta kuliah umum -- 
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/image/article/2011/07/habibie-2.jpg
[i4] peserta kuliah umum -- 
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/image/article/2011/07/habibie-3.jpg
[i5] kuliah umum Habibie -- 
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/image/article/2011/07/habibie-4.jpg
[i6] ki-ka: walikota Aachen, rektor hogeschool Aachen, B.J. Habibie -- 
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/image/article/2011/07/habibie-5.jpg




    
     



 









    
     

    










    
     

    
    


 



  



Kirim email ke